“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. At Taubah: 18)
Banyak aktivitas yang menjadi tugas umat muslim dalam rangka memakmurkan masjid. Diantaranya, yang pertama adalah membangun keimanan, agar tetap lestari dan memiliki kekuatan dalam membangun kehidupan. Sehingga keimanan tersebut tidak sekedar hafalan atau teori-teori yang sulit diaplikasikan. Akan tetapi, menjadi ruh bagi kehidupan ini, terutama ketika memakmurkan masjid-masjid Allah swt.
Banyak pendapat yang mengatakan, bahwa masjid pada saat ini kurang berfungsi dibandingkan dengan masjid pada masa Rasulullah saw., yang menjadi pusat aktivitas umat Islam. Penulis sepakat dengan pendapat ini. Namun apabila hanya pendapat, hal itu belum bisa dijadikan solusi. Bahkan tidak mustahil, hal itu akan memperumit permasalahan. Dengan demikian, hendaknya pendapat tersebut diaplikasikan dalam perbuatan. Dengan cara memberdayakan masjid, sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada.
Memang, masjid saat ini cenderung menjadi bagian kecil dari sebuah lembaga besar. Umpamanya, lembaga ekonomi yang disudutnya ada masjid kecil, atau lembaga pemerintahan, bahkan juga lembaga pendidikan. Padahal sejatinya, masjid lah yang menjadi sebuah lembaga besar, yang membawahi lembaga-lembaga kecil, termasuk di dalamnya ada lembaga pendidikan. Sehingga dalam proses Tarbiyah Imaniyah (Pembinaan Iman) pun dikelola oleh masjid, yang memiliki lembaga pendidikan, bukan lembaga pendidikan lah yang memiliki masjid.
Hanya saja, masjid seperti itu pada saat ini sulit ditemukan, disebabkan oleh keterbatasan wawasan kebanyakan umat Islam dalam mengelola kemasjidan. Namun demikian, bagi penulis, yang sangat urgen adalah adanya lembaga pendidikan yang berorientasi membangun keimanan, agar dapat diharapkan untuk menjadi pemakmur masjid di masa depannya kelak.
Adapun aktivitas yang kedua adalah mendirikan shalat. Apabila membangun keimanan merupakan dasar pertama, dalam membangun peradaban umat dan merupakan kekuatan ruhiyah, yang akan melahirkan aktivitas beramal shalih, maka mendirikan shalat merupakan dasar kedua dan menjadi aktivitas amal shalih yang paling pertama dalam kehidupan. Sekaligus shalat tersebut menjadi barometer sukses dan tidaknya seorang muslim, dalam menyelesaikan berbagai persoalan.
Oleh karena itu, perintah shalat dalam Al Qur'an maupun As Sunnah, selalu diungkapkan dengan kata-kata “Dirikanlah shalat!”, bukan “Kerjakanlah shalat!” Hal ini menjelaskan, bahwa di dalam shalat, hendaklah seorang muslim melibatkan hati nurani dan akal pikiran. Sehingga gerakan shalatnya tidak seperti robot, melainkan dipahami dan dihayati, kemudian setelahnya melahirkan kekuatan jiwa dalam menghadapi berbagai persoalan.
Seperti dalam firman Allah swt. pada QS. Al Baqarah ayat 45:
“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu'.”
Di dalam ayat ini Allah swt. memerintahkan kepada umat Islam, agar memiliki sifat sabar, yang menjadi kekuatan dalam menempuh hidupnya. Kemudian ditambah dengan kekuatan yang kedua, yaitu shalat. Hanya saja, shalat ini tidak akan efektif, bahkan tidak mungkin bisa dilakukan dengan baik, kecuali oleh orang-orang yang khusyu'; yaitu mereka yang yakin akan berjumpa dengan Allah swt., seperti diungkap dalam ayat selanjutnya QS. Al Baqarah ayat 46.
“(yaitu) orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya”
Memang, bagi anak kecil, yang masih belum baligh, aktivitas shalat ini hanya sebagai pelaksanaan dan pembiasaan. Bahkan bacaannya pun sekedar hafalan. Akan tetapi, bagi orang mukmin yang sudah balig, hendaknya senantiasa berupaya mempertebal keyakinan, bahwa shalat ini bukan sekedar gerakan hampa, tapi sebuah komunikasi seorang hamba yang lemah dengan Allah; Rabb yang Maha Kuasa. Dengan proses seperti inilah, shalat akan senantiasa menambah kekuatan umat Islam dalam membangun peradaban, menuju keselamatan dan kebahagiaan dunia dan akhirat.
Di samping itu, ibadah shalat bukanlah persoalan yang sangat pribadi, sehingga tidak peduli terhadap orang lain; “Mau shalat, mau tidak, terserah!” Akan tetapi merupakan persoalan umat yang harus dijaga secara bersama-sama.
Sebagaimana terdapat dalam QS. Thoha ayat 132:
“Dan perintahkan kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rizki kepadamu. Kamilah yang memberi rizki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertaqwa.”
Di dalam ayat ini, Allah swt. memerintahkan kepada Rasulullah saw., agar memimpin keluarganya dan memerintahkan shalat kepada mereka. Sekaligus Rasul pun diperintahkan untuk senantiasa bersabar dalam mengerjakan shalat itu. Artinya, bahwa shalat ini, merupakan sesuatu yang harus diwariskan kepada keluarga. Sehingga mereka dapat menikmati dampak dari shalat itu; yaitu pahala Allah yang diberikan kepada orang-orang bertaqwa.
Di dalam ayat ini pula, Allah memberikan jaminan kepada Rasul dan keluarganya, akan senantiasa mengalirkan rizki di dunia ini, bukan sebaliknya; karena dengan shalat, justru kehilangan rizki. Seperti yang banyak dipersepsikan oleh orang-orang materialistis; yang waktunya hanya untuk mengejar materi. Shalat malah dianggap menyia-nyiakan waktu, mengganggu pekerjaan dan kesibukan aktivitas lain, mengurangi kebebasan, merepotkan, atau dengan alasan ketidak profesionalan kalau meninggalkan pekerjaan hanya untuk shalat, dan lain-lain.
Memang, apabila seseorang mengerjakan shalat hanya fisiknya saja, akan menjadi pembenaran bagi persepsi orang-orang yang materialistis. Sementara shalat yang benar, akan menjadi kekuatan dalam mengais rizki di dunia dan mendapatkan pahala di akhirat kelak. Oleh karena itu, Rasulullah saw., pernah memerintahkan salat kepada seorang sahabat yang baru saja mengerjakan salat, ketika sahabat mengatakan bahwa dirinya sudah salat Rasulullah Saw bersabda “Bahwa engkau belum salat, sampai akhirnya sahabat itupun sadar bahwa dirinya baru salat secara fisik sedangkan batinnya belum salat”. Begitu pula setiap kali ada persoalan yang menimpa keluarganya, “Rasulullah meminta semua anggota keluarga untuk mendirikan shalat”.
Sementara itu, untuk shalat fardhu, dianjurkan pelaksanaannya dengan berjama'ah bersama masyarakat muslim lainnya. Anjuran ini sangat ditekankan, sampai dijanjikan dengan pahala 27 derajat dibanding dengan shalat sendirian. Bahkan satu kali dalam sepekan umat Islam diwajibkan salat jum’at berjamaah dimasjid.
Hal ini mempertegas bahwa shalat bukanlah hanya sarana berkomunikasi dengan Allah swt. saja, akan tetapi sekaligus menjadi sarana silaturahim dengan sesama. Yakni silaturahim yang mempertemukan pikiran, hati serta gerakan, yang dikawal oleh sabda Rasulullah saw. sejak 14 abad lewat.
Shalat berjama'ah dipimpin oleh seorang imam, yang dapat dipercaya kesolehannya. Diikuti berbagai gerakannya, selama imam itu mengikuti sabda Rasul: “Hendaklah kalian shalat sebagaimana kalian melihat aku sedang shalat.”
Sedangkan, apabila seorang imam lupa atau salah dalam shalatnya, maka makmum disunnahkan membaca: “Subhanallah!”, sekaligus kalimat ini menjadi peringatan bagi sang imam, agar segera berbenah diri, memperbaiki hati dan pikiran, untuk melanjutkan shalat, melaksanakan perintah Allah dan mencontoh sunnah Rasulullah saw. Namun, apabila sang imam, terus melanjutkan kesalahannya atau hanyut dalam lupanya, maka semua makmum dilarang mengikutinya. Dan hendaknya imam itu segera diganti dengan yang lain.
Itulah orang mukmin yang memakmurkan masjid. Shalat fardhunya senantiasa berjama'ah. Tidak hanya maghrib, isya' dan subuh, akan tetapi setiap kali waktu shalat, yang disunnahkan untuk dilakukan berjama'ah, ia pun melakukannya dengan berjama'ah pula; termasuk berjamaah shalat ied, shalat gerhana, shalat mayat dan lainnya.
Disamping itu, ibadah shalat pun merupakan sarana untuk menyelesaikan berbagai persoalan, yang terjadi di tengah-tengah masyarakat.
Seperti tercantum di dalam QS. Asy Syura ayat 38:
“Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka, dan mereka menafkahkan sebagian rizki yang Kami berikan kepada mereka.”
Pada ayat ini Allah swt. “menyandingkan antara mendirikan shalat dan musyawarah”. Para ulama menyimpulkan; bahwa salat yang benar akan melahirkan kekuatan ruh yang kondusif, mampu berkomunikasi dengan baik, bermusyawarah dengan sesama muslim untuk menyelesaikan berbagai persoalan umat.
Oleh karena itu, tidak ada seorang ulama pun, yang mengabaikan masalah musyawarah ini. Sampai-sampai Khalifah Umar bin Khattab, ketika menjelang wafat, setelah ditikam oleh Abu Lu'Lu'ah; seorang Yahudi, saat beliau sedang shalat shubuh, beliau memanggil enam orang sahabatnya; Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Thalhah, Zubair, Sa'ad dan Abdurrahman bin Auf, untuk bermusyawarah, yang berkaitan dengan suksesi kepemimpinan.
Artinya, dalam membangun peradaban umat, dan memakmurkan masjid, “musyawarah” adalah masalah yang sangat vital dan merupakan kewajiban syar'i, yang harus dilaksanakan. Namun demikian, musyawarah ini tidak bisa dilaksanakan dengan baik, serta tidak dapat menyelesaikan masalah umat, kecuali jika pelakunya orang-orang beriman yang senantiasa mendirikan salat dimasjid Allah dengan berjamaah.
B e r s a m b u n g ...
Banyak pendapat yang mengatakan, bahwa masjid pada saat ini kurang berfungsi dibandingkan dengan masjid pada masa Rasulullah saw., yang menjadi pusat aktivitas umat Islam. Penulis sepakat dengan pendapat ini. Namun apabila hanya pendapat, hal itu belum bisa dijadikan solusi. Bahkan tidak mustahil, hal itu akan memperumit permasalahan. Dengan demikian, hendaknya pendapat tersebut diaplikasikan dalam perbuatan. Dengan cara memberdayakan masjid, sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada.
Memang, masjid saat ini cenderung menjadi bagian kecil dari sebuah lembaga besar. Umpamanya, lembaga ekonomi yang disudutnya ada masjid kecil, atau lembaga pemerintahan, bahkan juga lembaga pendidikan. Padahal sejatinya, masjid lah yang menjadi sebuah lembaga besar, yang membawahi lembaga-lembaga kecil, termasuk di dalamnya ada lembaga pendidikan. Sehingga dalam proses Tarbiyah Imaniyah (Pembinaan Iman) pun dikelola oleh masjid, yang memiliki lembaga pendidikan, bukan lembaga pendidikan lah yang memiliki masjid.
Hanya saja, masjid seperti itu pada saat ini sulit ditemukan, disebabkan oleh keterbatasan wawasan kebanyakan umat Islam dalam mengelola kemasjidan. Namun demikian, bagi penulis, yang sangat urgen adalah adanya lembaga pendidikan yang berorientasi membangun keimanan, agar dapat diharapkan untuk menjadi pemakmur masjid di masa depannya kelak.
Adapun aktivitas yang kedua adalah mendirikan shalat. Apabila membangun keimanan merupakan dasar pertama, dalam membangun peradaban umat dan merupakan kekuatan ruhiyah, yang akan melahirkan aktivitas beramal shalih, maka mendirikan shalat merupakan dasar kedua dan menjadi aktivitas amal shalih yang paling pertama dalam kehidupan. Sekaligus shalat tersebut menjadi barometer sukses dan tidaknya seorang muslim, dalam menyelesaikan berbagai persoalan.
Oleh karena itu, perintah shalat dalam Al Qur'an maupun As Sunnah, selalu diungkapkan dengan kata-kata “Dirikanlah shalat!”, bukan “Kerjakanlah shalat!” Hal ini menjelaskan, bahwa di dalam shalat, hendaklah seorang muslim melibatkan hati nurani dan akal pikiran. Sehingga gerakan shalatnya tidak seperti robot, melainkan dipahami dan dihayati, kemudian setelahnya melahirkan kekuatan jiwa dalam menghadapi berbagai persoalan.
Seperti dalam firman Allah swt. pada QS. Al Baqarah ayat 45:
“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu'.”
Di dalam ayat ini Allah swt. memerintahkan kepada umat Islam, agar memiliki sifat sabar, yang menjadi kekuatan dalam menempuh hidupnya. Kemudian ditambah dengan kekuatan yang kedua, yaitu shalat. Hanya saja, shalat ini tidak akan efektif, bahkan tidak mungkin bisa dilakukan dengan baik, kecuali oleh orang-orang yang khusyu'; yaitu mereka yang yakin akan berjumpa dengan Allah swt., seperti diungkap dalam ayat selanjutnya QS. Al Baqarah ayat 46.
“(yaitu) orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya”
Memang, bagi anak kecil, yang masih belum baligh, aktivitas shalat ini hanya sebagai pelaksanaan dan pembiasaan. Bahkan bacaannya pun sekedar hafalan. Akan tetapi, bagi orang mukmin yang sudah balig, hendaknya senantiasa berupaya mempertebal keyakinan, bahwa shalat ini bukan sekedar gerakan hampa, tapi sebuah komunikasi seorang hamba yang lemah dengan Allah; Rabb yang Maha Kuasa. Dengan proses seperti inilah, shalat akan senantiasa menambah kekuatan umat Islam dalam membangun peradaban, menuju keselamatan dan kebahagiaan dunia dan akhirat.
Di samping itu, ibadah shalat bukanlah persoalan yang sangat pribadi, sehingga tidak peduli terhadap orang lain; “Mau shalat, mau tidak, terserah!” Akan tetapi merupakan persoalan umat yang harus dijaga secara bersama-sama.
Sebagaimana terdapat dalam QS. Thoha ayat 132:
“Dan perintahkan kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rizki kepadamu. Kamilah yang memberi rizki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertaqwa.”
Di dalam ayat ini, Allah swt. memerintahkan kepada Rasulullah saw., agar memimpin keluarganya dan memerintahkan shalat kepada mereka. Sekaligus Rasul pun diperintahkan untuk senantiasa bersabar dalam mengerjakan shalat itu. Artinya, bahwa shalat ini, merupakan sesuatu yang harus diwariskan kepada keluarga. Sehingga mereka dapat menikmati dampak dari shalat itu; yaitu pahala Allah yang diberikan kepada orang-orang bertaqwa.
Di dalam ayat ini pula, Allah memberikan jaminan kepada Rasul dan keluarganya, akan senantiasa mengalirkan rizki di dunia ini, bukan sebaliknya; karena dengan shalat, justru kehilangan rizki. Seperti yang banyak dipersepsikan oleh orang-orang materialistis; yang waktunya hanya untuk mengejar materi. Shalat malah dianggap menyia-nyiakan waktu, mengganggu pekerjaan dan kesibukan aktivitas lain, mengurangi kebebasan, merepotkan, atau dengan alasan ketidak profesionalan kalau meninggalkan pekerjaan hanya untuk shalat, dan lain-lain.
Memang, apabila seseorang mengerjakan shalat hanya fisiknya saja, akan menjadi pembenaran bagi persepsi orang-orang yang materialistis. Sementara shalat yang benar, akan menjadi kekuatan dalam mengais rizki di dunia dan mendapatkan pahala di akhirat kelak. Oleh karena itu, Rasulullah saw., pernah memerintahkan salat kepada seorang sahabat yang baru saja mengerjakan salat, ketika sahabat mengatakan bahwa dirinya sudah salat Rasulullah Saw bersabda “Bahwa engkau belum salat, sampai akhirnya sahabat itupun sadar bahwa dirinya baru salat secara fisik sedangkan batinnya belum salat”. Begitu pula setiap kali ada persoalan yang menimpa keluarganya, “Rasulullah meminta semua anggota keluarga untuk mendirikan shalat”.
Sementara itu, untuk shalat fardhu, dianjurkan pelaksanaannya dengan berjama'ah bersama masyarakat muslim lainnya. Anjuran ini sangat ditekankan, sampai dijanjikan dengan pahala 27 derajat dibanding dengan shalat sendirian. Bahkan satu kali dalam sepekan umat Islam diwajibkan salat jum’at berjamaah dimasjid.
Hal ini mempertegas bahwa shalat bukanlah hanya sarana berkomunikasi dengan Allah swt. saja, akan tetapi sekaligus menjadi sarana silaturahim dengan sesama. Yakni silaturahim yang mempertemukan pikiran, hati serta gerakan, yang dikawal oleh sabda Rasulullah saw. sejak 14 abad lewat.
Shalat berjama'ah dipimpin oleh seorang imam, yang dapat dipercaya kesolehannya. Diikuti berbagai gerakannya, selama imam itu mengikuti sabda Rasul: “Hendaklah kalian shalat sebagaimana kalian melihat aku sedang shalat.”
Sedangkan, apabila seorang imam lupa atau salah dalam shalatnya, maka makmum disunnahkan membaca: “Subhanallah!”, sekaligus kalimat ini menjadi peringatan bagi sang imam, agar segera berbenah diri, memperbaiki hati dan pikiran, untuk melanjutkan shalat, melaksanakan perintah Allah dan mencontoh sunnah Rasulullah saw. Namun, apabila sang imam, terus melanjutkan kesalahannya atau hanyut dalam lupanya, maka semua makmum dilarang mengikutinya. Dan hendaknya imam itu segera diganti dengan yang lain.
Itulah orang mukmin yang memakmurkan masjid. Shalat fardhunya senantiasa berjama'ah. Tidak hanya maghrib, isya' dan subuh, akan tetapi setiap kali waktu shalat, yang disunnahkan untuk dilakukan berjama'ah, ia pun melakukannya dengan berjama'ah pula; termasuk berjamaah shalat ied, shalat gerhana, shalat mayat dan lainnya.
Disamping itu, ibadah shalat pun merupakan sarana untuk menyelesaikan berbagai persoalan, yang terjadi di tengah-tengah masyarakat.
Seperti tercantum di dalam QS. Asy Syura ayat 38:
“Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka, dan mereka menafkahkan sebagian rizki yang Kami berikan kepada mereka.”
Pada ayat ini Allah swt. “menyandingkan antara mendirikan shalat dan musyawarah”. Para ulama menyimpulkan; bahwa salat yang benar akan melahirkan kekuatan ruh yang kondusif, mampu berkomunikasi dengan baik, bermusyawarah dengan sesama muslim untuk menyelesaikan berbagai persoalan umat.
Oleh karena itu, tidak ada seorang ulama pun, yang mengabaikan masalah musyawarah ini. Sampai-sampai Khalifah Umar bin Khattab, ketika menjelang wafat, setelah ditikam oleh Abu Lu'Lu'ah; seorang Yahudi, saat beliau sedang shalat shubuh, beliau memanggil enam orang sahabatnya; Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Thalhah, Zubair, Sa'ad dan Abdurrahman bin Auf, untuk bermusyawarah, yang berkaitan dengan suksesi kepemimpinan.
Artinya, dalam membangun peradaban umat, dan memakmurkan masjid, “musyawarah” adalah masalah yang sangat vital dan merupakan kewajiban syar'i, yang harus dilaksanakan. Namun demikian, musyawarah ini tidak bisa dilaksanakan dengan baik, serta tidak dapat menyelesaikan masalah umat, kecuali jika pelakunya orang-orang beriman yang senantiasa mendirikan salat dimasjid Allah dengan berjamaah.
B e r s a m b u n g ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar