Kamis, 28 Mei 2009

Persaudaraan Membawa Nikmat dan Solusi (bag.2)


“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu, ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah menjinakkan antara hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara, dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatNya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. Ali 'Imran: 103)

Janganlah Kalian Semuanya Bercerai-Berai
Larangan ini ditujukan kepada umat Islam, yang senantiasa berupaya untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Allah swt. dan berpegang teguh kepada kitabullah, agar mereka tidak bercerai-berai. Memang, orang yang bertaqwa dan berpegang teguh kepada kitabullah, sejatinya akan senantiasa membangun persaudaraan. Namun kenyataan di lapangan tidak selalu demikian, karena hal ini disebabkan oleh beberapa hal. Di antaranya; mungkin karena kurang tepat dalam memahami arti taqwa atau dalam memahami kitabullah, atau mungkin juga karena parsial dalam memandang Islam. Sehingga pemahaman parsial ini menjadi sering bertabrakan di lapangan. Seperti adanya pandangan bahwa Islam itu hanya Fiqh, atau hanya Sufi, Politik, Sosial dan lain sebagainya.

Untuk itulah potongan ayat ini semakin menegaskan, agar berpegang teguh kepada kitabullah secara benar dan utuh, serta melahirkan persaudaraan yang hakiki. Maka tidak ada alasan lagi bagi siapa pun, yang berpegang teguh pada kitabullah, menjadi kasar dan keras, bahkan tidak bisa bersosialisasi dengan muslim lainnya, yang berbeda pandangan. Atau sebaliknya, karena begitu perhatiannya terhadap masyarakat yang plural (majemuk), sehingga sama sekali tidak memiliki kepribadian, hanyut terombang-ambing oleh keinginan banyak orang yang bermacam-macam.

Islam mengajarkan kepada pemeluknya, agar memadukan antara membangun diri untuk menjadi orang bertaqwa dan berpegang teguh kepada kitabullah, dengan meningkatkan kualitas pemahaman dan pengamalannya, serta membangun kebersamaan dengan masyarakat muslim yang berada di sekitarnya. Hal ini tidak bisa dilakukan dengan baik, kecuali apabila diawali dengan niat yang ikhlas; bahwa hidup ini semata-mata untuk beribadah kepada Allah swt., serta membangun kebersamaan dengan muslim lainnya di jalan Allah swt. pula. Sehingga pandangan hidupnya jelas dan tegas, bahwa Allah menjadi tujuan. Sementara orang-orang muslim yang bersamanya menjadi partner dalam perjuangan.

Di antara orang-orang muslim yang menjadi partner tersebut, ada yang dijadikan pemimpin dan teladan dalam hidupnya, dengan melihat kualitas ketaqwaannya kepada Allah swt. dapat dipertanggung jawabkan, serta layak untuk menjadi panutan. Mereka mencintainya berdasarkan cinta kepada Allah swt. Sedangkan orang yang menghalangi diri mereka dari jalan Allah swt. dipandang sebagai orang yang harus dikasihani dan disantuni, bukan diikuti, apalagi difigurkan. Rasulullah saw. pernah bersabda:
“Ada tiga hal, barangsiapa yang ketiga hal ini ada padanya, ia akan mendapatkan manisnya iman. Pertama, Allah dan RasulNya lebih dicintai daripada selainnya. Kedua, mencintai seseorang hanya didasarkan karena cinta kepada Allah swt. Ketiga, membenci kekufuran, sebagaimana membencinya apabila ia dilemparkan ke dalam api neraka.“ Hadits ini memberi pengarahan kepada ummat Islam, agar senantiasa menjaga diri dan membinanya, serta hubungan cintanya dengan Allah swt. tidak terkotori oleh kepentingan apa pun.

Memang, di dalam kehidupan ini, kita harus manusiawi, layaknya hidup seperti orang pada umumnya; perlu makan, tidur, nikah, bekerja, mencari harta, membangun strata sosial, meningkatkan kualitas pendidikan, dan lain-lain. Itu semua boleh dalam ajaran Islam, bahkan merupakan keharusan. Namun yang menjadi persoalan hendaklah semuanya itu dijadikan sarana untuk melaksanakan perintah Allah swt. Sehingga apapun yang dilakukannya menjadi ibadah kepadaNya. Seperti ungkapan Hasan Al Basri:
“Allah merahmati orang yang berhenti pada saat datang keinginannya (merenung dulu). Jika itu karena Allah, maka ia lanjutkan. Jika tidak, maka ia tunda.” Dengan demikian tidak ada yang disebut dengan lawan dalam kehidupan ini, selain yang membawa kepada kekufuran. Maka apapun bentuknya, menjadi persoalan bersama bagi umat Islam. Dan kekufuran itu merupakan parasit kehidupan, yang cepat atau pun lambat akan menggerogoti, bahkan memusnahkan kehidupan ini.

Persaudaraan dalam Islam adalah persaudaraan dalam hati, pikiran dan amal perbuatan, yang sejatinya saling memberi dan saling melengkapi. Yakni dalam bingkai lingkungan hubungan yang bermutualisme (saling menguntungkan) dan bersimbiosisme (menguntungkan satu pihak tapi tidak merugikan yang lainnya), bukan dalam hubungan yang berparasitisme (merugikan satu pihak atau saling merugikan) seperti layaknya benalu menghisap habis energi tanaman indungnya hingga mati. Firman Allah swt. dalam Al Qur'an surah Al Hujurat ayat 10:
“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” Firman Allah swt. ini memberi gambaran, bahwa tugas mukmin yang bersaudara adalah; mengadakan perbaikan persaudaraan, apabila ada persoalan yang mengganggunya. Jadi, persaudaraan itu bukanlah saling membiarkan tanpa kepedulian, seperti yang banyak diperkeruhkan orang, ketika terjadi permasalahan. Dengan ungkapan: “Dimana Ukhuwah Islamiyah?”
Sesungguhnya ukhuwah Islamiyah berada pada setiap muslim, manakala dia peduli terhadap permasalahan orang lain, baik persoalan ekonomi, politik, pendidikan, sosial dan seterusnya. Bukan malah saling menjatuhkan, mencari-cari kesalahan, membesar-besarkan masalah, membenci, membuka aib, mendengki, memutuskan hubungan, bergosip di belakangnya, memfitnah, dan memberikan label negatif kepada sesama muslim, yang notabene sama-sama berpegang teguh kepada Al Qur'an dan Sunnah RasulNya. Hal seperti inilah yang diingatkan oleh Rasulullah saw. dengan sabdanya:
“Tidak akan masuk syurga orang yang suka memutuskan silaturahim.”
Dalam sabdanya yang lain:
“Tidak akan masuk syurga orang yang suka mengadu domba.”

Banyak sabda Rasulullah saw. lainnya, yang meminta kepada kita sebagai umatnya, agar senantiasa meningkatkan hubungan silaturahim. Bertegur dengan salam, membesuk orang yang sakit, memenuhi undangan, memberikan nasihat bagi yang memerlukannya, mengantarkan jenazah sampai kekuburnya, bermuka manis, memberi jamuan makanan, saling kunjung-mengunjungi, saling memberikan hadiah dan lain-lain. Semua ini dapat menumbuhkan kualitas persaudaraan antar sesama muslim, sekaligus dapat menghilangkan faktor-faktor yang menjadi penyebab terjadinya percerai-beraian.

Sebetulnya, kalau kita menelaah prosentase hubungan seorang muslim dengan Rabbnya, maka itu sangat kecil, apabila dibandingkan dengan hubungan seorang muslim bersama sahabat-sahabatnya. Namun dari yang sedikit ini, hendaknya mewarnai semua aktivitas kehidupan. Seperti halnya shalat, yang dalam satu hari hanya lima kali. Setiap kalinya paling lama sekitar 5-10 menit. Hanya saja di dalam shalat itu ada ketaatan, kebersamaan, kekompakan, semua makmum mengikuti imamnya (selama taat kepada Allah Swt), setiap gerakan dikawal dengan pernyataan “Allahu akbar!” Dan setiap shalat diawali dengan takbir dan di akhiri dengan salam. Semua ini, apabila dijiwai dan dibawa kepada kehidupan bermasyarakat, sudah lebih dari cukup untuk membangun Ukhuwah Islamiyah.

Oleh karena itu, Rasulullah saw. pernah mengingatkan, bahwasanya yang pertama kali dihisab oleh Allah swt. dari seorang mukmin adalah shalatnya. Sedangkan apabila shalatnya benar, sesuai dengan ajaran Rasul, maka kehidupan yang lainnya pun dijamin tidak salah.

Begitupula amal lainnya, seperti; zakat, shaum dan haji, semuanya mengantarkan kepada Ukhuwah Islamiyah sejati. Yakni apabila dilaksanakan dalam bingkai berpegang teguh kepada kitabullah dan sunnah Rasulnya, serta dibarengi oleh semangat membangun persaudaraan di jalan Allah swt.

Dan sebaliknya, amal-amal ini akan menjadi persoalan, bahkan pertengkaran, apabila dilaksanakan secara parsial; terpisah dari kerangka Islam secara utuh dan besar, yang melingkupi kehidupan ini, sejak di dunia maupun di akhirat. Apalagi amal-amal yang lainnya seperti; politik, ekonomi dan sejenisnya, yang menurut non-muslim; ini hanya dunia semata, yang harus dipisahkan dari agama. Dapat dibayangkan, betapa berbahayanya aktivitas tersebut bagi kehidupan kemanusiaan. Sehingga wajar, kalau melahirkan kanibal-kanibal politik, ekonomi, dan lainnya, yang antar satu sama lain saling menunggu mangsa. Naudzubillaahi min dzaaliik.

Saat ini adalah momentum yang sangat tepat, untuk menyelesaikan berbagai persoalan, dengan membangun persaudaraan, dengan kembali kepada kitabullah dan mengamalkan segala perintah Allah serta mengikuti contoh Rasulullah saw. yang sudah berhasil membangun orang-orang shalih terdahulu. Semoga kita semua berhasil. Aamiiin!
B E R S A M B U N G . . .

Minggu, 24 Mei 2009

Persaudaraan Membawa Nikmat dan Solusi (bag.1)


“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu, ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah menjinakkan antara hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara, dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatNya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. Ali 'Imran: 103)

Berpegang teguh kepada tali agama Allah (Al-Qur’an)
Manusia adalah makhluk sosial, yang diciptakan oleh Allah swt., dengan fitrah saling membutuhkan antar satu sama lain. Semakin banyak sebuah komunitas manusia, maka semakin dirasakan rasa saling membutuhkannya. Namun sayang, hal ini sering terlupakan oleh nafsu individualistis dan egois. Sehingga tidak jarang terjadi miskomunikasi, yang berdampak pada lahirnya ketidak nyamanan dalam kehidupan. Untuk itulah Allah swt. secara khusus di dalam ayat ini berbicara tentang persaudaraan.

Ayat 103 surat Ali-Imraan ini turun ketika orang-orang muslim Madinah, yang terdiri dari dua kabilah besar; Aus dan Khazraj terpropokasi oleh orang Yahudi.

Sebelum Rasulullah saw. berhijrah ke Madinah, mereka selalu mengadakan pertempuran selama 120 tahun, yang pada awalnya Aus dam Khazraj adalah saudara kakak beradik. Ketika mereka beranak pinak dan menjadi dua kabilah besar, terjadilah persaingan kekuasaan dan ekonomi, yang berakibat menelan banyak korban. Di samping itu perseteruan mereka dimanfaatkan oleh imigran Yahudi dengan cara mengadu domba mereka dan mengeksploitasi kemiskinan. Sehingga lengkaplah penderitaan masyarakat penduduk asli Madinah.

Setelah Rasulullah saw. datang , orang-orang Madinah menyambutnya dengan suka cita dan memeluk agama Islam. Kemudian persaudaraan pun terjalin kembali. Dan ternyata keberhasilan Rasulullah saw. dalam membangun persaudaraan mereka berdampak negatif bagi kalangan Yahudi. Sehingga pada suatu saat terjadilah provokasi adu domba, dengan mengungkit-ungkit peristiwa masa lalu; bahwa bapak si Fulan dibunuh oleh bapaknya si Fulan.

Provokasi ini cukup berhasil memanaskan suasana dan hampir saja terjadi pertempuran antara dua kabilah, yang sudah dipersaudarakan kembali oleh Rasulullah saw. Namun beruntung, ada salah seorang yang menyadari bahaya perpecahan yang terjadi. Sehingga pergilah dia menemui Rasulullah saw. untuk menyampaikan peristiwa tersebut. Lalu Rasul pun datang membacakan surah Ali Imran ayat 103 ini.

Orang-orang yang dalam keadaan marah, dengan senjata siap tempur, kepala sudah mendidih dan sudah saling berhadap-hadapan, dengan ayat ini seolah-olah disiram dengan air yang sejuk yang penuh inspirasi. Otot-otat keras mereka lalu mengendur sejadi-jadinya, senjata yang siap terhunus berjatuhan terlepas dari genggaman, amarah mereka mereda hingga bercucuran air mata dan menyesal atas peristiwa tersebut. Itulah Al Qur'an berfungsi sebagai penyejuk hati dan pencerdas akal. Dan melahirkan sikap ramah dan santun. Sehingga persaudaraan pun terjalin kembali.

Adapun bagi ummat Islam pada saat ini, yang sudah jauh 14 abad dari jaman Rasulullah saw. memerlukan proses membangun kesadaran atas besarnya fungsi Al Qur'an dalam membina kehidupan. Proses yang paling pertama adalah meyakini, bahwa Al Qur'an merupakan kalamullah, yang sengaja diturunkan untuk menjadi petunjuk bagi hamba-hambaNya, yang hal itu diawali dengan belajar membaca dan menulisnya dengan baik, kemudian memahaminya dengan metode yang sederhana dan aplikatif untuk diamalkan dalam kehidupan, dan selanjutnya dipahami dengan baik dan utuh untuk didakwahkan kepada masyarakat yang berada di sekitar.

Rasulullah Saw bersabda;
“Yang terbaik diantara kalian adalah yang belajar Al-Quran dang mengajarkannya” Didalam hadits lain Rasulullah Saw bersabda;
“Sampaikanlah keterangan daripadaku walaupun hanya satu ayat”
Hadits ini menjelaskan bahwasannya didalam membangun kehidupan; cara yang paling efektif adalah diawali dengan proses belajar dan mengajar Al-Quran, bahkan bagi orang yang baru hanya mendapatkan pengetahuan berupa satu ayat Al-Quran hendaknya menyampaikan ayat tersebut kepada masyarakat.

Karena Al-Qur'an yang dia baca serta dipahami dan diamalkan isinya berdampak positif bagi dirinya; terutama prilakunya, dan bagi orang di sekitarnya. Sementara itu, jika ia baca namun tidak ada usaha memahami isinya sehingga tidak dapat mengamalkannya dengan baik, maka Al Qur'an tidak banyak berpengaruh pada prilaku dirinya, begitu pula bagi orang di sekitarnya; Al Qur'an malah hanya menjadi senandung nyanyian yang hanya manis di dengar.

Proses meyakini Al Qur'an inilah yang disebut dengan “berpegang teguh kepada Al-Qur’an”, yang makin hari bertambah erat dan kuat, sehingga tidak akan lepas untuk selamanya. Berbeda dengan asal pegang, yang tidak pernah diupayakan untuk lebih erat dan lebih kuat, yang tidak mustahil seringkali lepas, bahkan lepas sama sekali. Untuk itulah perlunya proses pendidikan dalam Islam sejak dini.

Sayang, banyak di antara orang tua sekarang justru tidak mengajarkan Islam kepada anak-anaknya sejak kecil dan memanjakannya dengan kebebasan tanpa batas, dengan berdalih; tidak ingin memaksakan doktrin kepada anak yang masih kecil, karena hal itu merupakan sebuah tindakan kekerasan terhadap anak dan melanggar Hak Azasinya. Padahal 1+1=2. Itu kita ajarkan kepada anak yang kecil sejak dini, supaya mereka tahu dan ingat dalam memorinya dan mengamalkannya hingga dewasa. Bukankah itu doktrin? Tak mungkin anak dibiarkan menemukan sendiri 1+1 berapa jawabannya tanpa bimbingan. Bisa jadi, yang ia temukan malah 1+1=100. Dia malah menjadi tersesat dalam kebathilan dan kebohongan dengan jawaban itu selamanya, bahkan hingga akhir hidupnya, jika tidak ada yang membimbingnya dan mengoreksinya.

Menurut realitas di lapangan sejak para sahabat pada jaman Rasulullah dan diikuti oleh para ulama selanjutnya, ummat Islam hanya bisa disatukan oleh sikap berpegang teguh kepada kitabullah. Sementara itu perpecahan yang terjadi sebagai akibat dari lalai terhadap kitabullah. Sehingga dapat kita simpulkan, bahwa persaudaraan merupakan salah satu nikmat Allah swt. yang harus disyukuri, bahkan merupakan kenikmatan terbesar dalam kehidupan sosial. Sebagaimana Allah berfirman dalam surah Al Anfaal ayat 63:
“dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.

Ayat ini menjelaskan, bahwasanya yang dapat melunakkan hati, mengakrabkan manusia terhadap sesamanya adalah Allah swt. Sementara itu Al Qur'an merupakan petunjuk Allah, yang sengaja diturunkan untuk menjadi rahmat bagi manusia, dalam menempuh kehidupan, termasuk bermasyarakat.

Sedangkan dunia dan seisinya kalau diandalkan untuk mempersatukan manusia akan gagal dan sia-sia; tanpa hasil sama sekali. Apalagi jika tujuan mengorbankan harta bukan untuk mempersatukan manusia, akan tetapi hanya sekedar untuk membujuk dan merayu demi meraih kepentingan individu yang bersifat semu dan sementara; politik dan ekonomi. Hal ini hanya akan menjadi bumerang bom waktu dalam menghancurkan bangsa.

Sebaliknya, dunia akan bermanfaat bagi kehidupan manusia dalam bermasyarkat dan berbangsa, apabila dikelola sebagai sarana berpegang teguh kepada kitabullah, yang sejatinya menuntun ummat manusia kepada kelembutan hati serta keramahan sikap dan kebersamaan dalam perjuangan. Rasulullah bersabda:
“Aku tinggalkan di tengah-tengah kalian dua perkara. Kalian tidak akan tersesat selama berpegang teguh kepada keduanya. Yaitu kitabullah dan sunnah RasulNya.”
Hadits ini menegaskan bahwa Al-Qur’an dan kitabullah, merupakan pedoman yang sangat prinsipil dalam membangun kehidupan, agar senantiasa menemukan solusi dalam menyelesaikan segala persoalan, terutama yang menyangkut masalah kemanusiaan seperti Ideologi, Pendidikan, Sosial dan yang lainnya.

Namun demikian, untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai solusi, diperlukan keyakinan total terhadap Allah Swt yang telah menurunkannya, sebagai Dzat yang Maha Rahman dan Maha Rahim, penuh kasih sayang terhadap hambanya. Didunia sampai diakhirat.
B E R S A M B U N G . . .

Jumat, 15 Mei 2009

Bijak Dalam Memilih (bagian 5 - Do'a)


“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”. (QS. Al-Baqarah : 186)

Urgensi Berdoa bagi Setiap Muslim
Doa merupakan kekuatan umat Islam yang sangat vital dalam menentukan pilihan dan doa yang benar akan melahirkan daya kemudian dana. Ketika tiga hal tersebut (doa, daya, dan dana) berjalan secara sinergi, umat Islam akan maju melewati berbagai tantangan dan hambatan menuju kesuksesan yang sesungguhnya. Surat Al-Baqarah ayat 186 ini merupakan gambaran jelas tentang perpaduan tiga langkah tersebut.

Allah Swt. menyatakan bahwa hubungan antara hamba-Nya yang shalih dengan Dzat yang Mahaagung sangat dekat, bahkan dalam surat Qâf ayat 16 dinyatakan, “Kami lebih dekat kepada hamba daripada urat lehernya sendiri.” Allah pun berjanji akan senantiasa mengabulkan permintaan siapa saja yang berdoa kepada-Nya. Tidak ada doa yang Allah tolak.

Hanya saja, agar doanya benar, dikabulkan oleh Allah Swt. dan doa tersebut bisa dinikmati dengan baik, hendaklah setiap Muslim memohon petunjuk dan bimbingan-Nya agar dapat menempuh jalan yang lurus, jalan yang telah dinikmati oleh orang-orang terdahulu dari kalangan para nabi, para syuhada, orang-orang yang jujur, dan orang-orang yang shalih.

Seorang Muslim yang disiplin menegakkan salat setiap hari, hakikatnya dia telah berdoa, minimal 17 kali dalam sehari, yaitu ketika membaca surah Al Fatihah ayat 6 “Tunjukilah kami ke jalan yang lurus.” Sehingga, semangat untuk mendapatkan petunjuk Allah sudah menyatu dengan jiwa dalam segala aktivitas kehidupannya; setiap kali mengawali kegiatan selalu disertai doa untuk mendapatkan bimbingan Allah Swt.

Sarat Dikabulkan Doa
Di dalam berdoa, ada beberapa hal yang harus dipenuhi oleh setiap Muslim: Pertama, sebelum menyampaikan permohonan kepada Allah Swt., hendaklah menyampaikan pujian kepada-Nya dengan rasa syukur terhadap segala nikmat yang telah dianugrahkan-Nya.

Dengan demikian, paling tidak, kita membayangkan anugerah Allah yang berhubungan dengan pekerjaan yang sangat spesifik, misalnya, ketika berdoa memohon kekuatan dalam membangun bangsa dan negara, hendaklah kita menghadirkan berbagai kenikmatan Allah Swt. yang berhubungan dengan bangsa dan negara kita. Seperti kenikmatan NKRI, negeri ini merupakan negara terbesar di dunia, terdiri dari ribuan pulau dengan penduduk lebih dari 200 juta jiwa, kekayaan alamnya melimpah ruah, baik di lautan, di daratan, ataupun di udara. Umat Islam merupakan penduduk mayoritas di negeri ini, banyak lembaga-lembaga yang dikelola oleh bangsa kita, yang sebagian besarnya oleh umat Islam seperti: Ormas, Orpol, Lembaga pendidikan, Sosial, Ekonomi, Kesehatan, Budaya, Seni, dan lain sebagainya.

Namun kewajiban umat Islam, hendaklah bersikap adil, proporsional dalam menilainya tidak terlalu berpikir negatif, sampai melahirkan putus asa dan frustasi, seolah-olah negri ini tidak menyimpan harapan sama sekali. Dan sebaliknya jangan berpikir positif yang berlebihan sehingga melihat bahwa dinegri ini tidak ada masalah sama sekali sehingga melahirkan sikap lalai dan loyo.

Dengan sikap adil seperti ini kekuatan doa akan sangat efektif membimbing umat Islam dinegri ini untuk melangkah terus maju kedepan menyelesaikan persoalan-persoalan yang ada serta mensyukuri kekuatan yang telah dianugrahkan oleh Allah Swt.

Kedua, sebelum menyampaikan permohonan kepada Allah, hendaknya memohon maaf dan ampunan kepada-Nya atas segala kekhilapan, kekeliruan, dan kesalahan yang dilakukan selama ini. Karena, sering kali persoalan yang dihadapi lahir dari kekeliruan sikap di masa lalu bahkan kesalahan niat atau persepsi tentang kehidupan berbangsa dan bernegara, sehingga melahirkan persoalan-persoalan yang tak kunjung usai. Seolah-olah tidak ada solusinya dan cenderung mengambil penyelesaian dengan jalan pintas yang berakibat fatal. Oleh karena itu, renungkanlah segala kesalahan pada masa lalu dan mohonlah maaf kepada Allah Swt.

Ketiga, buatlah program kerja ke depan, baik program individu, sebagai anggota masyarakat, dan sebagai salah satu anak bangsa di negeri ini, sesuai dengan kapasitas yang dimiliki, dengan gambaran globalnya ingin mendapatkan ridha Allah Swt. serta ingin berkontribusi positif dalam membangun negeri. Sehingga, dengan langkah demi langkah disertai dengan syukur, istigfar, dan berniat untuk beramal shalih, serta berdoa, Dia berkenan mengabulkan doa dan cita-cita kita semua.

Dalam berdoa kepada Allah Swt, sekalipun target, sasaran, dan rencana kerjanya telah dibuat, bahkan semuanya sudah dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dan kebutuhan materinya dipenuhi dengan baik, namun kita harus yakin bahwa Allah Swt. Mahakuasa atas segala sesuatu, Mahabijaksana dalam memberikan yang terbaik untuk para hamba yang dicintai-Nya, dan Mahatahu atas segala kebutuhan yang menunjang bagi kebaikan orang-orang shalih.

Oleh karena itu, hendaklah seorang Muslim berdoa dengan rendah hati, tidak memaksakan kehendak dan tidak menganggap bahwa apa yang diinginkannya lebih baik daripada yang diberikan oleh Tuhannya. Ia pun harus selalu mengevaluasi diri, pada setiap langkah yang ditempuh, dan target yang dihasilkan. Apakah mengantarkan kepada kondisi yang lebih baik, semakin mendekat kepada Allah, dan semakin memberikan kontribusi kepada sesama? Sehingga kenikmatan dunia ini semakin besar dirasakannya dan semakin disadari oleh saudara sebangsa dan setanah air, bahkan oleh masyarakat dunia internasional bahwa ajaran Islam memang benar menjadi rahmat bagi alam semesta.

Sementara itu, jika seseorang lalai dari berdoa, tidak pernah beristigfar dan bersyukur, ia akan menjadi beban bagi masyarakatnya, bahkan bagi dirinya sendiri. Sehingga, semakin banyak yang ia raih, semakin banyak orang yang tidak meyukainya. Seperti sebuah anekdot, ketika suatu daerah ditimpa musibah banjir, disambut dengan sorak sorai oleh masyarakat miskin. Ketika ada orang bertanya, kenapa musibah ini disambut dengan sukacita? orang-orang miskin itu berkata, “Biasanya yang susah hanya kami sekarang jadi susah semua.”

Setelah berdoa, hendaklah bertawakal kepada Allh Swt. Apapun yang Allah putuskan, siap menerimanya dengan lapang dada disertai dengan usaha yang sungguh-sungguh, sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya.

Doa yang Paling Baik
Do'a yang paling baik bagi umat Islam adalah doa yang disampaikan secara garis besar, seperti contoh dalam Al Quran Surah Al-Baqarah: 201,
Dan di antara mereka ada orang yang berdoa, "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka."
Ketika Aisah bertanya kepada Rasulullah, “Jika malam tiba, doa apa yang harus saya baca?” Rasulullah saw. bersabda, “Bacalah, 'Ya Allah, sesungguhnya Engkau Pemberi maaf. Oleh karena itu, maafkanlah aku.“

Sementara itu, bagi seorang Muslim yang sangat menyadari bahwa dalam kehidupan ini tidak pernah luput dari kesalahan dan kekhilapan, permohonan yang paling diperlukan adalah memohon ampun kepada-Nya.

Dzikir adalah doa yang paling baik Rasulullah saw. Bersabda,
“Barang siapa yang sibuk berdzikir kepada-Ku dan tidak pernah meminta kepada-Ku, niscaya akan Aku berikan kepadanya sesuatu yang lebih baik daripada orang-orang yang meminta.“
Hadits tersebut mengandung pengertian bahwa dzikir kepada Allah Swt. merupakan salah satu doa, bahkan doa yang paling baik dan dijamin akan mendapatkan bagian dari Allah Swt. yang lebih utama.

Untuk menjadi shalih dan senantiasa dekat dengan Allah Swt., memerlukan proses yang baik, diawali dari kesadaran bahwa dirinya seorang hamba yang lemah dan tidak berkuasa kecuali dengan rahmat dan kasih sayang-Nya. Kesadaran seperti inilah yang akan melahirkan semangat berdoa dan memohon ampunan kepada-Nya.

Jika kehidupan sudah terbiasa dengan bimbingan doa, untuk ingat kepada Allah sangat mudah dilaksanakan. Sejak awal, sebagaimana diceritakan dalam Al Quran, Allah Swt. menciptakan manusia (Adam) untuk menjadi khalifah di muka bumi. Ketika Adam dan hawa tergoda oleh bujuk rayu iblis sehingga memakan buah dari pohon terlarang yang berakibat pakaian syurga yang dikenakan oleh keduanya terbuka dan terlihat aurat keduanya, Adam dan Hawa menyesal atas kekhilafannya serta memohon rahmat dan ampunan-Nya agar kehidupan selanjutnya tidak merugi. Saat itulah Allah Swt. menerima tobatnya.

Keduanya berkata, "Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi." (QS. Al 'A'râf: 23).

Wallahu ‘Alam

T A M A T

Jumat, 08 Mei 2009

Bijak Dalam Memilih (bagian 4 - Dzikrullah)


”Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS 13 : 28)

Seorang muslim, agar hidupnya sukses di dunia dan di akhirat, hendaknya senantiasa berdzikir kepada Allah Swt., yaitu dengan mengingat-Nya dan merenungkan ayat-ayat yang menjadi tanda Keagungan dan Kekuasaan-Nya.

Aktivitas mengingat menjadi sangat mudah dilakukan, apabila berhubungan dengan sesuatu yang sangat menarik. Seperti halnya al-Qur'anul Karim; ia mudah diingat, karena diturunkan di tengah-tengah masyarakat yang ummi, mayoritas penduduknya tidak bisa membaca dan menulis. Namun demikian, mereka sangat mengagumi bahasa dan sastra, sehingga orang yang disebut hebat pada saat itu, adalah mereka yang mampu mengutarakan buah pikiran dan gagasannya dengan bahasa yang sangat indah, melalui pidato atau melantunkan sya’ir. Semakin menarik bahasa yang disampaikan, maka semakin populer orang yang menyampaikannya. Dalam situasi seperti itulah al-Qur'an diturunkan.

Sekalipun kebanyakan masyarakat Arab pada saat itu, tidak bisa membaca dan menulis, namun karena bahasa al-Qur'an sangat menarik bagi mereka, maka al-Qur'an pun sangat mudah diingat dan dihafal, bahkan apabila ada salah seorang sahabat yang tidak hadir ketika al-Qur'an dibacakan oleh Rasul, ia dengan gigih mencari orang yang hadir dan mendengarkannya. Sementara itu, orang-orang yang mampu baca tulis, walaupun sangat sedikit, mereka sangat sibuk mencatat ayat demi ayat yang disampaikan oleh Rasulullah Saw. Dengan demikian al-Qur'an sudah ditulis sejak diturunkan. Sedangkan yang tidak menulisnya, mereka rata-rata hafal al-Qur'an.

Berbeda dengan kitab lainnya, seperti Taurat, baru ditulis dengan rapih, 400 tahun setelah nabi Musa As meninggal dunia, begitu pula kitab Injil, baru ditulis dengan rapih 300 tahun setelah nabi Isa As meninggal dunia. Itu pun tidak dalam bahasa asli yang sesuai dengan yang disampaikan oleh nabi Isa As atau pun nabi Musa As. Bahkan kebenarannya pun banyak yang mempertanyakannya.

Sedangkan al-Quran, bukan hanya bahasanya yang asli, akan tetapi setiap kalimat bahkan setiap kata dan setiap hurufnya sesuai dengan bacaan Rasulullah Saw. Sekalipun al-Quran yang kita baca pada saat ini adalah mushaf Utsmani, yang ditulis pada masa khalifah Utsman ra., namun bisa dibaca dengan beragam bacaan sesuai aslinya, yang belum memakai tanda baca dan tanda huruf. Kualitasnya pun sampai saat ini masih terjaga sebagai “kitab suci” dengan bahasa Arab terindah di dunia, sejak 14 abad lewat bahkan sampai hari kiamat Insya Allah. Sebagaimana firman-Nya:
”Sesungguhnya kami telah menurunkan Al-Quran dan sesungguhnya kami yang memeliharanya” (QS. 15 : 9)
Dapat dibayangkan apabila pada saat ini, ada teks bahasa Indonesia yang ditulis 14 abad lewat, tentu saja kita akan bingung membacanya, atau teks itu bisa dibaca apabila mengalami ratusan bahkan ribuan kali perubahan. Itulah keistimewaan al-Quran; sebagai mu’jizat Rasulullah Saw.

Sedangkan umat terdahulu, yang sangat menarik bagi mereka adalah yang bersifat inderawi yang sangat terbatas. Seperti pada zaman nabi Musa As; yang dibanggakan mereka adalah kehebatan para dukun dan ahli sihir. Semakin hebat sihirnya, semakin populer orang yang melakukannya, sehingga yang menarik bagi mereka dari kehebatan nabi Musa adalah tongkat beliau, yang dapat mengalahkan tongkat para tukang sihir, dan itu pula yang senantiasa diingat oleh mereka. Sementara itu, kitabnya bukan sesuatu yang menarik bagi mereka.

Begitu pula kaum nabi Isa As, yang menarik bagi mereka adalah kehebatan ilmu pengetahuan, terutama yang berkaitan dengan kimia dan fisika. Orang-orang hebat pada saat itu adalah para ahli di bidang kimia dan fisika. Kemudian Allah pun menurunkan mu’jizat kepada nabi Isa As berupa tanah yang disulap menjadi burung, kemudian ditiupnya lalu burung itupun terbang. Bagi mereka kehebatan itulah yang sangat menarik dan selalu diingat.

Sedangkan bagi umat Rasulullah Saw., al-Qur’anul Karim, yang secara bahasa dan kandungannya memiliki keistimewaan yang luar biasa, yang dikaji bukan hanya oleh umat Islam akan tetapi menjadi kajian menarik bagi kalangan non muslim. Al-Qur’an sekaligus menjadi sarana berdzikir kepada Allah Swt yang maha kuasa.

Disamping itu, Al-Qur’an merupakan miniatur alam semesta, yang diungkap secara ilmiah dan sesuai dengan kebutuhan manusia sejak 14 abad lewat yang disebut dengan zaman unta, sampai saat ini yang disebut dengan zaman ilmu dan teknologi, bahkan sampai zaman masa depan yang disebut dengan ”entah zaman apa namanya?”. Al-Quran tetap up to date membimbing orang beriman menuju ketenangan dan ketentraman.

Selain itu, manusia diciptakan dengan bekal fitrah iman kepada Allah Swt. Seperti sabda Rasulullah Saw.: “Setiap anak, dilahirkan atas dasar fitrah ( iman)”.

Oleh karena itu, untuk beriman kepada Allah tidak perlu mencari Tuhan dengan susah payah, cukup hanya dengan berdzikir; yaitu mengingat Allah melalui ayat-ayat-Nya. Dengan proses dzikir kepada Allah Swt, orang beriman akan merasa aman dan tentram, seperti yang difirmankan-Nya :
”Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS 13 : 28)
Ayat ini menjelaskan, bahwa ketenangan tersebut hanya dapat diraih dengan cara berdzikir kepada-Nya.

Jika kita menelaah perkembangan Agama Islam, merambah berbagai pelosok dunia, yang bermacam-macam latar belakang budaya dan peradaban serta berbeda-beda kebiasaan dan tradisi, pada umumnya tidak mengalami benturan yang berarti, karena Islam bukan budaya dan tradisi atau peradaban dan kebiasaan, akan tetapi merupakan ajaran untuk membimbing kehidupan menuju ketenangan dan ketentraman, yang sejatinya menjadi pokok keberhasilan dalam membangun segala hal, termasuk membangun budaya dan peradaban.

Saat ini, kita dikejutkan dengan berbagai peristiwa yang sangat memprihatinkan, seperti skandal cinta segitiga, pembunuhan pejabat, jual beli perkara, tertangkapnya orang-orang terhormat yang jadi koruptor dan lain sebagainya. Hal ini memberi gambaran kepada kita, betapa kegelisahaan dan kepanikan melanda negeri kita tercinta, yang notabene mayoritas penduduknya Muslim. Tentu saja semua prilaku amoral yang tidak terhormat ini bukanlah hasil pillihan bijak yang dilakukan oleh orang beriman yang tenang hatinya, akan tetapi sebagai akibat dari kelalaian terhadap ayat-ayat Allah Swt, dan akhirnya berakibat tercorengnya kehormatan negeri ini.

Hal ini, sudah menjadi sunatullah bahwa kelalaian akan berdampak pada sikap yang tidak bijak dan memilih perbuatan yang kontra produktif bahkan menghancurkan bangsa. Sementara itu, orang-orang yang beriman dan berdzikir kepada Allah serta yakin, bahwa “Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”, hidupnya akan tenang, pilihannya akan bijak, karya-karyanya akan bermanfaat, dan akhir hayatnya akan merasa puas, bahkan masuk syurga jannatunaa'im. Firman Allah Swt :
”Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhan-mu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku dan masuklah kedalam syurga-Ku” ( QS 89 : 27, 28, 29 dan 30)
B E R S A M B U N G...

Bijak Dalam Memilih (bagian 3 - Ikhlas)


“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang salah. Karena itu, barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. Al-Baqarah : 256)

Untuk menjadi pemilih yang bijak, seorang muslim, disamping harus cerdas dan rendah hati, hendaknya memiliki niat yang ikhlas mencari ridho Allah Swt, sesuai dengan ajaran Islam yang disampaikan oleh para Rasul kepada umat manusia, yang pada intinya adalah “niat yang ikhlas”, dengan niat yang ikhlas inilah pengikut mereka berhasil memilih jalan hidup yang mudah, ringan, serta menuntun ke arah yang lurus dalam menempuh jalan kebahagiaan dunia dan akhirat.

Namun demikian, pada saat ini seringkali terjadi kesalah pahaman di tengah-tengah masyarakat, berkenaan dengan sifat-sifat terpuji yang diajarkan oleh para Rasul, termasuk diantaranya sifat ikhlas.

Di antara mereka ada yang memahami bahwa ikhlas itu adalah pekerjaan asal-asalan dengan alasan “yang penting ikhlas” atau pekerjaan tanpa ada target dan sasarannya bahkan identik dengan orang “kuuleun” tidak punya semangat, tidak punya cita-cita dan tidak punya keinginan. Padahal jika kita menelaah keterangan yang terdapat di dalam Al-Qur'an dan sunnah Rasul serta bukti sejarah yang dilakukan oleh para ulama yang saleh, betapa besarnya pengaruh niat yang ikhlas ini di dalam memicu semangat kerja dan merapihkan program, target dan sasaran-sasarannya, dengan membuat sebuah format planning kerja yang tujuan akhirnya adalah mendapatkan ridha Allah Swt dan memberikan kontribusi yang baik terhadap masyarakat di sekitarnya, atau yang disebut dengan rahmatan lil 'alamin; sebuah cita-cita yang sangat ideal, yang sangat indah didengar serta harus menjadi kenyataan di lapangan.

Islam mengajarkan kepada umatnya agar memiliki cita-cita yang ideal, sekaligus menuntunnya agar cita-cita tersebut dirintis dengan amal nyata, diawali dengan yang paling mudah, paling ringan dan paling mungkin dilaksanakan, sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah Saw.

Ketika beliau menerima wahyu yang paling pertama adalah perintah untuk membaca, selanjutnya perintah untuk berda'wah kepada keluarga terdekat, sampai akhirnya beliau diperintah untuk berda'wah kepada seluruh umat manusia. Inilah yang disebut dengan ikhlas dalam Islam.

Sejak langkah pertama, ketika masih sendirian, sampai menjadi seorang pemimpin yang diikuti oleh ratusan ribu orang bahkan jutaan atau miliaran, tidak pernah bergeser dari cita-cita besarnya, yaitu ingin mendapatkan ridha Allah, serta dapat memberikan kontribusi terhadap pembangunan dunia.

Silaturahim terus berlanjut, bahkan semakin besar kontribusinya manakala target-target tersebut berhasil dilalui dengan baik. Sebaliknya, apabila seorang muslim mencapai target yang dibuatnya, kemudian masyarakat yang ada di sekitar tidak merasakan hasilnya, dan cenderung antipati, apalagi sampai mencabut dukungan, hendaklah mengadakan evaluasi dan introspeksi diri, karena dikhawatirkan “niatnya tidak ikhlas” mencari ridha Allah Swt. Dia berjuang hanya mencari keuntungan duniawi, kedudukan dan kekayaan semata.

Ayat 256 surat Al-Baqarah ini, mengingatkan kepada umat Islam agar bijak dalam menentukan pilihan, berdasarkan akal sehat dan hati nurani yang bersih, cerdas, rendah hati serta ikhlas lillahi ta'ala.
“...barangsiapa yang ingkar kepada Thâghût dan beriman kepada Allah, sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang sangat kuat...” (Q.S. 2 : 256)

Ayat ini mengajarkan, bahwa prosesi membersihkan hati adalah pertama-tama dengan mengingkari segala bentuk Thâghût (segala sesuatu yang “dipertuhankan" selain Allah Swt) seperti syetan, hawa nafsu, perdukunan, berhala, kekuasaan, kekayaan dan seterusnya. Itu semua harus dibersihkan dari hati nurani, jangan sampai menjadi tuhan yang dipuja, dan mengendalikan kehidupannya. Kemudian setelah bersih dari kotoran tersebut, hendaklah hati nurani diisi dengan beriman kepada Allah, dengan membangun keyakinan bahwa hanya Allah yang berhak disembah dan dijadikan tujuan. Sedangkan jaminan Allah kepada orang beriman seperti ini, mereka akan mendapatkan pilihan yang tepat, yang membuat ketenangan dan ketentraman, seolah-olah berpegang kepada tali yang kokoh dan kuat, yang tak akan pernah lepas untuk selamanya, karena Ialah sebagai pilihan terakhir sejak hidup di dunia ini sampai mati dan berjumpa dengan-Nya di akhirat kelak.

Hanya saja, proses untuk menjadi seorang muslim yang ikhlas, memerlukan semangat yang sungguh-sungguh dan serius bertempur melawan Thâghût, yaitu iblis dan antek-anteknya. Al-Quran mengupas kisah Adam As dan Iblis ini di dalam tujuh surah berulang-ulang, yaitu surah Al-Baqarah, Al-A'raf, Al-Haj, Al-Isra, Al-Kahfi, Thaha dan surah Shad. Pengulangan tersebut menggambarkan betapa pentingnya kisah ini untuk selalu diingat dan betapa bahayanya apabila manusia tergelincir karena godaan Iblis dan sekutu-sekutunya.

Di antara isi kisah Adam dan iblis adalah tentang perintah Allah Swt kepada malaikat agar bersujud “sebagai penghargaan” kepada Adam. Seluruh malaikat taat kepada-Nya kecuali iblis, ia menolak perintah Allah dengan alasan “iblis merasa lebih baik daripada Adam” karena Iblis diciptakan dari api sementara Adam diciptakan dari tanah. Dengan perasaan inilah ia enggan melaksanakan perintah Allah Swt. Di satu sisi ia telah sombong, dan di sisi lain dia tidak ikhlas melaksanakan perintah Allah karena perasaannya terkotori oleh kesombongan yang tidak rasional; mengukur nilai kebaikan berdasarkan asal-usul kejadian. Padahal api dan tanah sama-sama makhluk Allah Swt dan kedua-duanya akan menjadi baik, manakala berfungsi sebagaimana mestinya dan masing-masing memiliki kelebihan sendiri-sendiri. Sebagai contoh; kita tidak akan bisa menanam jagung di dalam api dan tidak akan bisa membakar jagung dengan tanah.

Namun demikian, lebih parah lagi, kesombongan rasialisme pada manusia, karena memang antara tanah dengan api ada perbedaan. Sedangkan rasialisme manusia sering kali terjadi tanpa perbedaan yang berarti; seperti sama-sama diciptakan dari tanah namun berbeda warna kulitnya atau kulitnya sama-sama satu warna, namun berbeda tempat kelahirannya, atau bahkan warna kulit, tempat kelahirannya sama, dan masih satu keturunan, namun hanya karena perbedaan posisi lalu terjadilah saling menyingkirkan, sikut-sikutan dan lain-lain. Kesalahan ini hanya disebabkan oleh “perasan lebih dari yang lain”.

Kemudian iblis berjanji akan senantiasa memperjuangkan agar kesesatannya diikuti oleh hamba-hamba Allah lainnya dari kalangan jin dan manusia. Sedangkan yang memiliki kekuatan untuk melawan iblis dan antek-anteknya hanyalah hamba-hamba yang ikhlas dijalan Allah Swt. Seperti dikisahkan dalam Al-Quran surah 15 : 39-40 :
“...dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya,kecuali hamba-hamba Engkau yang ikhlas di antara mereka".

Kisah di atas memberikan jaminan kepada orang orang yang ikhlas, mereka tidak akan pernah terkalahkan oleh perjuangan iblis, sekaligus menggambarkan profesionalisme orang yang ikhlas, ia tidak akan tergoda dan akan berhasil meraih cita-citanya; bahagia dunia akhirat. Sementara itu, persoalan ikhlas hanya dapat diidentifikasi oleh orang yang besangkutan bersama Tuhan-nya. Sedangkan orang lain tidak akan bisa memastikan apa orang tersebut ikhlas, atau tidak.

Rasul pernah menggambarkan bahwa “syirik kecil (tidak ikhlas) seperti semut kecil yang hitam berada di atas batu hitam di tengah kegelapan malam”.

Artinya sangat sulit untuk menilai keikhlasan seseorang, karena perjuangan di dunia ini, muslim ataupun kafir memiliki lapangan garapannya sama, yaitu dunia. Namun yang membedakannya adalah niat karena Allah atau bukan dan ingin memberikan kasih sayang kepada sesama atau tidak. Kemudian dampak dari niat ikhlas atau tidak ikhlas ini akan melahirkan hasil yang sangat jauh berbeda, bagi diri yang bersangkutan ataupun bagi masyarakat.

Sulit menilai niat seseorang ketika terjadi rebutan suara legislatif, pejabat daerah ataupun capres dan cawapres, siapakah yang ikhlas di antara mereka. Namun kita semua akan merasakan dampak dari niat tersebut manakala mereka sudah mulai bekerja. Dan Insya Allah apabila kita memilih mereka dengan ikhlas, maka yang terpilihpun akan terdiri dari orang-orang yang ikhlas juga. Karena pilihan kita yang bersih, tidak terkotori oleh kepentingan sesaat, dan terjamin tidak akan tergelincir oleh bujukan syetan. Sedangkan apabila salah pilih, orang ikhlas akan mengevaluasi dan mengintrospeksi diri, agar pilihan selanjutnya tidak mengulangi kesalahan.
B E R S A M B U N G . . . .

Sabtu, 02 Mei 2009

Bijak Dalam Memilih (bagian 2 - Rendah Hati)


“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang salah. Karena itu, barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. Al-Baqarah : 256)

Alhamdulillah, kita sebagai bangsa telah menunaikan amanah, memilih wakil rakyat di parlemen. Tugas kita hari ini adalah berdo'a dan berupaya agar mereka yang terpilih sebagai anggota legislatif menjadi orang-orang soleh, peduli terhadap rakyat; yang telah memberikan amanah kepadanya, serta mampu berpikir cerdas dan bijaksana dalam mengemban amanahnya. Tugas berikutnya, hendaklah kita senantiasa bertawakal kepada Allah Swt, bukan kepada anggota legeslatif. Agar jiwa dan pikiran kita senantiasa bersih dan stabil, mampu mengendalikan emosi manakala pilihan kita yang sudah duduk di parlemen mengecewakan, tidak peduli terhadap masyarakat yang sudah memilihnya.

Dengan tawakal inilah, kita sebagai umat Islam akan mampu melanjutkan perjuangan dengan membangun kualitas diri dan memperbaiki kondisi masyarakat, serta mampu mengkritisi dengan cerdas, apabila ada penyimpangan yang dilakukan oleh para petinggi yang terhormat, termasuk oleh anggota legislatif.

Dengan selesainya pelaksanaan Pemilihan Umum Legislatif, bukan berarti tugas kita sebagai pemilih sudah berakhir, karena tugas utama manusia adalah mempergunakan akal pikiran dan hati nurani dengan cara belajar, kemudian memilih yang baik dan meninggalkan yang buruk.

Sejak tengah malam dini hari, ketika tidur pulas, tiba-tiba terbangun, kemudian melihat jam menunjukan pukul 3.00 malam umpamanya, pada saat itu kita dihadapkan pada sebuah pilihan; apakah melanjutkan tidur sampai pagi hari atau bangun dan mengambil air wudhu lalu shalat dan berdo'a kepada yang Maha Kuasa. Begitu pula ketika mendengar azan subuh; shalatkah? atau tidak?, dan begitulah seterusnya. Tugas pilih memilih ini baru akan berakhir ketika ajal sudah menjemput, pada saat itulah, pilihan-pilihan kita akan diminta pertanggung jawaban di hadapan Allah Swt.

Hanya saja untuk menjadi pemilih yang bijaksana, diperlukan beberapa hal yang sangat vital, di antaranya adalah cerdas, seperti yang sudah dibahas pada buletin yang lalu.

Adapun sarana vital lainnya yaitu rendah hati (tawadhu). Banyak orang cerdas namun gagal dalam perjuangannya, karena tinggi hati atau sombong, kemudian kegagalan tersebut menjadi beban yang sangat berat, bahkan bisa mengalami gangguan mental atau stres dan membuat kehidupan semakin terpuruk.

Sangat berbeda dengan orang yang tawadhu. Dia akan menyikapi kegagalan atau keberhasilan sebagai bahan evaluasi dan instropeksi, agar senantiasa menjadi bekal untuk mengabdi kepada Allah Swt; karena dia sadar betul dirinya hanyalah seorang hamba yang lemah, dan tidak memiliki daya dan kekuatan kecuali yang di anugerahkan Allah Swt. Sehingga meyakini bahwa semangat juang dan kemampuan berkorban, merupakan anugerah dari padaNya. Begitu pula hasilnya “gagal atau berhasil” adalah merupakan kasih sayangNya. Karena tidak akan pernah ada kata berhasil, jika tidak ada yang gagal.

Namun demikian, pada akhirnya Allah Swt selalu memenangkan “Al-Haq”; kebenaran yang diperjuangkan oleh orang-orang yang rendah hati dan mengalahkan “Al Batil”; yang diperjuangkan oleh orang-orang yang sombong.

Jika kita menelaah kehidupan orang-orang Arab terdahulu terutama di kalangan penduduk Mekkah dan Quraisy, mereka dapat dikatakan sukses secara ekonomi, karena di daerah tersebut ada baitullah yang menjadi pusat peribadatan sejak zaman Nabi Ibrahim as. Pada musim haji berbagai kabilah berdatangan, sehingga orang-orang Arab sangat diuntungkan secara ekonomi dan politik, karena mereka memiliki kedudukan terhormat di tengah-tengah kabilah yang lain. Sementara itu pada musim panas mereka berniaga ke negeri Syam dan pada musim dingin ke negeri Yaman, dengan perjalanan yang cukup aman; karena orang-orang Quraisy dengan ka'bahnya sangat diperlukan oleh bangsa lain.

Namun pertumbuhan ekonomi yang sangat bagus, serta posisi mereka yang sangat strategis itu, justru membuat mereka terpuruk; di sebabkan oleh “kesombongan dan kerakusan”. Sehingga berbagai kejahatan dilakukan; perjudian meraja rela, perzinahan, perbudakan, rentenir, mabuk-mabukan dan kekerasan menjadi kehidupan sehari-hari. Akibat dari keterpurukan ideologi dan moral tersebut kesuburan, ekonomi hanya dapat dinikmati oleh segelintir manusia, itupun dipergunakan dalam pengrusakan kehidupan kemanusiaan.

Begitu pula masyarakat Madinah, sebelum Rasulullah Saw berhijrah ke sana, kebanyakan orang Madinah sangat bangga, apabila dapat menitipkan putra putrinya kepada orang-orang Yahudi. Karena menurut pandangan mereka, orang Yahudi lebih baik dan lebih sejahtera dalam kehidupan dunianya. Mereka berharap, jika anak keturunannya menjadi Yahudi dan dapat hidup senang serta sejahtera seperti mereka, sekalipun mereka sadar, bahwa orang-orang Yahudi menjadi sejahtera dan terhormat adalah sebagai akibat dari kelalaian penduduk asli Madinah.

Karena kekayaan orang Yahudi adalah hasil rentenir yang didapatkan dari orang-orang Arab yang miskin, dan dari hasil provokasi dan adu domba antara orang-orang arab itu sendiri sehingga mereka dapat berbisnis senjata dengan bebas dan meraup keuntungan yang luar biasa. Disamping itu kehidupan masyarakat Madinah hanyalah sebagai petani yang bekerja keras memeras keringat , membanting tulang dan menghabiskan tenaganya di ladang perkebunan. Sementara orang-orang Yahudi menjadi para pedagang yang sangat licik, mengekploitasi para petani, menimbun hasil pertanian dan mencekik rakyat kecil. Sehingga dapat kita bayangkan betapa terpuruknya masyarakat Arab pada saat itu, disebabkan oleh adanya orang-orang cerdas yang tidak tawadhu dan adanya orang-orang lemah yang tidak cerdas, sehingga rahmat Allah yang tersebar di alam raya ini, hanyalah menjadi beban kehidupan yang makin hari makin berat, disebabkan oleh kekufuran terhadap-Nya.

“Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari jalan yang salah” (QS. 2 : 256)

Potongan ayat ini menggambarkan, betapa mudahnya ajaran Islam untuk dipelajari dan diikuti, karena sangat jelas kebenarannya, bahkan lebih jelas daripada sinar matahari di siang bolong.

Kebenaran potongan ayat ini sudah terbukti dapat merubah 180 derajat posisi masyarakat Arab pada zaman dulu, Mereka yang pada mulanya orang-orang kuat dan terhormat, namun ketika Rasulullah datang dan menyampaikan ayat-ayatnya, mereka sambut dengan keangkuhan dan kesombongan, maka posisi merekapun berubah menjadi orang-orang rendah dan terhina sepanjang sejarah. Sementara itu, dari kalangan masyarakat kecil dan miskin, karena menyambut ayat-ayat yang diterangkan Rasulullah dengan cerdas dan rendah hati(tawadhu), kemudian beriman dan mengikuti jejak Rasul, bahkan mengangkat beliau sebagai pemimpin, mereka berhasil menjadi orang terpandang. Itulah bukti sejarah yang terjadi diMekkah, Madinah, Mesir, Irak bahkan sampai ke Indonesia.

Umar bin Khattab ra, seorang jawara Arab yang sangat ditakuti, ketika mendengar, bahwa salah seorang adiknya Fatimah masuk Islam, kemarahannya terusik, ia segera menuju rumah adiknya. Ketika Umar hendak memukul Zaid (suami Fatimah), tiba-tiba dihadang oleh Fatimah, sehingga ia terpukul dan mengeluarkan darah dari wajahnya. Pada saat itulah Umar merenung, memperhatikan darah yang terdapat pada wajah adiknya, dengan hati yang iba dan kasihan, bercampur dengan rasa penasaran, ia meminta kepada adiknya untuk membacakan ayat Qur'an yang disampaikan oleh Muhammad Rasul Allah Swt. Fatimah membaca surah Toha. Lalu Umar menangis, otot-otot besarnya lemah terkulai, ia memuji Al-Qur'an yang dibaca adiknya dan meminta diantar kepada Rasul Saw untuk bersyahadat. Sesungguhnya, Umar bukan yang pertama kali mendengar ayat Qur'an pada saat itu, namun sebelum terjadi peristiwa itu kesombongan beliau selalu menghalangi kecerdasannya, sehingga kebaikan yang sedemikian indah disambut dengan kemarahan yang luar biasa.

Memang antara tawadhu dan cerdas laksana dua belah mata uang yang tidak bisa dipisahkan, orang cerdas selalu tawadhu, begitu juga sebaliknya orang tawadhu selalu cerdas dalam menentukan pilihan. Allah Swt berfirman :

“Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya dimuka bumi ‘tanpa alasan yang benar’ dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Mereka jika melihat tiap-tiap ayat(Ku), mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus menempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai dari padanya” (QS. Al-A’Raf : 146)

Ayat ini merupakan sebuah peringatan dari Allah Swt kepada kita, agar tidak bersikap sombong di dalam kehidupan ini. Agar dapat mencerna dan memahami ayat-ayat keagungan dan kekuasaanNya, serta mampu mengikuti jalan petunjukNya. Adapun sikap rendah hati yang diperintahkan adalah, yang paling utama dan pertama; tawadhu kepada Allah Swt dengan senantiasa mentadaburi ayat-ayatNya, kemudian kepada RasulNya dengan senantiasa meneladani kehidupan beliau, dan yang ketiga; kepada orang yang senantiasa beriman kepada Allah dan meneladani kehidupan RasulNya.

Dengan sikap rendah hati seperti ini, umat Islam akan bersaudara, penuh rahmat, dan kasih sayang, saling peduli, dan saling mencintai seolah-olah satu tubuh. Tidak saling memaki apalagi saling menuduh dengan cara-cara yang keji, hanya disebabkan oleh kesombongan kepentingan politik, ekonomi dan kedudukan

Rasul pernah bersabda “tidak akan masuk surga orang yang memutuskan silaturahim”
B E R S A M B U N G . . . .