Sabtu, 02 Mei 2009

Bijak Dalam Memilih (bagian 2 - Rendah Hati)


“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang salah. Karena itu, barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. Al-Baqarah : 256)

Alhamdulillah, kita sebagai bangsa telah menunaikan amanah, memilih wakil rakyat di parlemen. Tugas kita hari ini adalah berdo'a dan berupaya agar mereka yang terpilih sebagai anggota legislatif menjadi orang-orang soleh, peduli terhadap rakyat; yang telah memberikan amanah kepadanya, serta mampu berpikir cerdas dan bijaksana dalam mengemban amanahnya. Tugas berikutnya, hendaklah kita senantiasa bertawakal kepada Allah Swt, bukan kepada anggota legeslatif. Agar jiwa dan pikiran kita senantiasa bersih dan stabil, mampu mengendalikan emosi manakala pilihan kita yang sudah duduk di parlemen mengecewakan, tidak peduli terhadap masyarakat yang sudah memilihnya.

Dengan tawakal inilah, kita sebagai umat Islam akan mampu melanjutkan perjuangan dengan membangun kualitas diri dan memperbaiki kondisi masyarakat, serta mampu mengkritisi dengan cerdas, apabila ada penyimpangan yang dilakukan oleh para petinggi yang terhormat, termasuk oleh anggota legislatif.

Dengan selesainya pelaksanaan Pemilihan Umum Legislatif, bukan berarti tugas kita sebagai pemilih sudah berakhir, karena tugas utama manusia adalah mempergunakan akal pikiran dan hati nurani dengan cara belajar, kemudian memilih yang baik dan meninggalkan yang buruk.

Sejak tengah malam dini hari, ketika tidur pulas, tiba-tiba terbangun, kemudian melihat jam menunjukan pukul 3.00 malam umpamanya, pada saat itu kita dihadapkan pada sebuah pilihan; apakah melanjutkan tidur sampai pagi hari atau bangun dan mengambil air wudhu lalu shalat dan berdo'a kepada yang Maha Kuasa. Begitu pula ketika mendengar azan subuh; shalatkah? atau tidak?, dan begitulah seterusnya. Tugas pilih memilih ini baru akan berakhir ketika ajal sudah menjemput, pada saat itulah, pilihan-pilihan kita akan diminta pertanggung jawaban di hadapan Allah Swt.

Hanya saja untuk menjadi pemilih yang bijaksana, diperlukan beberapa hal yang sangat vital, di antaranya adalah cerdas, seperti yang sudah dibahas pada buletin yang lalu.

Adapun sarana vital lainnya yaitu rendah hati (tawadhu). Banyak orang cerdas namun gagal dalam perjuangannya, karena tinggi hati atau sombong, kemudian kegagalan tersebut menjadi beban yang sangat berat, bahkan bisa mengalami gangguan mental atau stres dan membuat kehidupan semakin terpuruk.

Sangat berbeda dengan orang yang tawadhu. Dia akan menyikapi kegagalan atau keberhasilan sebagai bahan evaluasi dan instropeksi, agar senantiasa menjadi bekal untuk mengabdi kepada Allah Swt; karena dia sadar betul dirinya hanyalah seorang hamba yang lemah, dan tidak memiliki daya dan kekuatan kecuali yang di anugerahkan Allah Swt. Sehingga meyakini bahwa semangat juang dan kemampuan berkorban, merupakan anugerah dari padaNya. Begitu pula hasilnya “gagal atau berhasil” adalah merupakan kasih sayangNya. Karena tidak akan pernah ada kata berhasil, jika tidak ada yang gagal.

Namun demikian, pada akhirnya Allah Swt selalu memenangkan “Al-Haq”; kebenaran yang diperjuangkan oleh orang-orang yang rendah hati dan mengalahkan “Al Batil”; yang diperjuangkan oleh orang-orang yang sombong.

Jika kita menelaah kehidupan orang-orang Arab terdahulu terutama di kalangan penduduk Mekkah dan Quraisy, mereka dapat dikatakan sukses secara ekonomi, karena di daerah tersebut ada baitullah yang menjadi pusat peribadatan sejak zaman Nabi Ibrahim as. Pada musim haji berbagai kabilah berdatangan, sehingga orang-orang Arab sangat diuntungkan secara ekonomi dan politik, karena mereka memiliki kedudukan terhormat di tengah-tengah kabilah yang lain. Sementara itu pada musim panas mereka berniaga ke negeri Syam dan pada musim dingin ke negeri Yaman, dengan perjalanan yang cukup aman; karena orang-orang Quraisy dengan ka'bahnya sangat diperlukan oleh bangsa lain.

Namun pertumbuhan ekonomi yang sangat bagus, serta posisi mereka yang sangat strategis itu, justru membuat mereka terpuruk; di sebabkan oleh “kesombongan dan kerakusan”. Sehingga berbagai kejahatan dilakukan; perjudian meraja rela, perzinahan, perbudakan, rentenir, mabuk-mabukan dan kekerasan menjadi kehidupan sehari-hari. Akibat dari keterpurukan ideologi dan moral tersebut kesuburan, ekonomi hanya dapat dinikmati oleh segelintir manusia, itupun dipergunakan dalam pengrusakan kehidupan kemanusiaan.

Begitu pula masyarakat Madinah, sebelum Rasulullah Saw berhijrah ke sana, kebanyakan orang Madinah sangat bangga, apabila dapat menitipkan putra putrinya kepada orang-orang Yahudi. Karena menurut pandangan mereka, orang Yahudi lebih baik dan lebih sejahtera dalam kehidupan dunianya. Mereka berharap, jika anak keturunannya menjadi Yahudi dan dapat hidup senang serta sejahtera seperti mereka, sekalipun mereka sadar, bahwa orang-orang Yahudi menjadi sejahtera dan terhormat adalah sebagai akibat dari kelalaian penduduk asli Madinah.

Karena kekayaan orang Yahudi adalah hasil rentenir yang didapatkan dari orang-orang Arab yang miskin, dan dari hasil provokasi dan adu domba antara orang-orang arab itu sendiri sehingga mereka dapat berbisnis senjata dengan bebas dan meraup keuntungan yang luar biasa. Disamping itu kehidupan masyarakat Madinah hanyalah sebagai petani yang bekerja keras memeras keringat , membanting tulang dan menghabiskan tenaganya di ladang perkebunan. Sementara orang-orang Yahudi menjadi para pedagang yang sangat licik, mengekploitasi para petani, menimbun hasil pertanian dan mencekik rakyat kecil. Sehingga dapat kita bayangkan betapa terpuruknya masyarakat Arab pada saat itu, disebabkan oleh adanya orang-orang cerdas yang tidak tawadhu dan adanya orang-orang lemah yang tidak cerdas, sehingga rahmat Allah yang tersebar di alam raya ini, hanyalah menjadi beban kehidupan yang makin hari makin berat, disebabkan oleh kekufuran terhadap-Nya.

“Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari jalan yang salah” (QS. 2 : 256)

Potongan ayat ini menggambarkan, betapa mudahnya ajaran Islam untuk dipelajari dan diikuti, karena sangat jelas kebenarannya, bahkan lebih jelas daripada sinar matahari di siang bolong.

Kebenaran potongan ayat ini sudah terbukti dapat merubah 180 derajat posisi masyarakat Arab pada zaman dulu, Mereka yang pada mulanya orang-orang kuat dan terhormat, namun ketika Rasulullah datang dan menyampaikan ayat-ayatnya, mereka sambut dengan keangkuhan dan kesombongan, maka posisi merekapun berubah menjadi orang-orang rendah dan terhina sepanjang sejarah. Sementara itu, dari kalangan masyarakat kecil dan miskin, karena menyambut ayat-ayat yang diterangkan Rasulullah dengan cerdas dan rendah hati(tawadhu), kemudian beriman dan mengikuti jejak Rasul, bahkan mengangkat beliau sebagai pemimpin, mereka berhasil menjadi orang terpandang. Itulah bukti sejarah yang terjadi diMekkah, Madinah, Mesir, Irak bahkan sampai ke Indonesia.

Umar bin Khattab ra, seorang jawara Arab yang sangat ditakuti, ketika mendengar, bahwa salah seorang adiknya Fatimah masuk Islam, kemarahannya terusik, ia segera menuju rumah adiknya. Ketika Umar hendak memukul Zaid (suami Fatimah), tiba-tiba dihadang oleh Fatimah, sehingga ia terpukul dan mengeluarkan darah dari wajahnya. Pada saat itulah Umar merenung, memperhatikan darah yang terdapat pada wajah adiknya, dengan hati yang iba dan kasihan, bercampur dengan rasa penasaran, ia meminta kepada adiknya untuk membacakan ayat Qur'an yang disampaikan oleh Muhammad Rasul Allah Swt. Fatimah membaca surah Toha. Lalu Umar menangis, otot-otot besarnya lemah terkulai, ia memuji Al-Qur'an yang dibaca adiknya dan meminta diantar kepada Rasul Saw untuk bersyahadat. Sesungguhnya, Umar bukan yang pertama kali mendengar ayat Qur'an pada saat itu, namun sebelum terjadi peristiwa itu kesombongan beliau selalu menghalangi kecerdasannya, sehingga kebaikan yang sedemikian indah disambut dengan kemarahan yang luar biasa.

Memang antara tawadhu dan cerdas laksana dua belah mata uang yang tidak bisa dipisahkan, orang cerdas selalu tawadhu, begitu juga sebaliknya orang tawadhu selalu cerdas dalam menentukan pilihan. Allah Swt berfirman :

“Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya dimuka bumi ‘tanpa alasan yang benar’ dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Mereka jika melihat tiap-tiap ayat(Ku), mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus menempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai dari padanya” (QS. Al-A’Raf : 146)

Ayat ini merupakan sebuah peringatan dari Allah Swt kepada kita, agar tidak bersikap sombong di dalam kehidupan ini. Agar dapat mencerna dan memahami ayat-ayat keagungan dan kekuasaanNya, serta mampu mengikuti jalan petunjukNya. Adapun sikap rendah hati yang diperintahkan adalah, yang paling utama dan pertama; tawadhu kepada Allah Swt dengan senantiasa mentadaburi ayat-ayatNya, kemudian kepada RasulNya dengan senantiasa meneladani kehidupan beliau, dan yang ketiga; kepada orang yang senantiasa beriman kepada Allah dan meneladani kehidupan RasulNya.

Dengan sikap rendah hati seperti ini, umat Islam akan bersaudara, penuh rahmat, dan kasih sayang, saling peduli, dan saling mencintai seolah-olah satu tubuh. Tidak saling memaki apalagi saling menuduh dengan cara-cara yang keji, hanya disebabkan oleh kesombongan kepentingan politik, ekonomi dan kedudukan

Rasul pernah bersabda “tidak akan masuk surga orang yang memutuskan silaturahim”
B E R S A M B U N G . . . .

Tidak ada komentar: