Minggu, 22 Februari 2009

Pilar-Pilar Masyarakat Sakinah (bagian 1: Taat kepada Allah)


“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”
(Surah An-Nissa : 59 )

Keharmonisan (sakînah) merupakan cita-cita setiap orang karena dengan harmonis banyak persoalan dapat diselesaikan dengan baik. Namun sayang, jauh panggang dari api, faktanya masyarakat semakin merasa jauh dari impian tersebut; kericuhan di mana-mana, bahkan sampai tingkat kekerasan. Hal ini menarik untuk direnungkan, apalagi bagi seorang Muslim yang sudah memiliki jati diri; beriman kepada Allah dan rasul-Nya serta bersemangat untuk memiliki pemimpin yang adil dan jujur dalam mengemban amanah.

Kekacauan yang diderita oleh masyarakat ini tidak terlepas dari sikap taat anggota masyarakat itu sendiri terhadap kepercayaannya. Contoh kasus, dukun cilik Ponari yang menyedot perhatian banyak orang. Tidak sedikit orang yang datang untuk menuai cita-citanya. Mereka rela mengorbankan waktu, tenaga, dan biaya, demi untuk berjumpa dengan sang dukun. Semangat tersebut hanya bermodalkan prasangka belaka bahwa Ponari dapat menyembuhkan segala penyakit. Prasangka itulah yang membuat mereka begitu setia berdesak-desakan, bahkan ada yang sampai pingsan dan meninggal dunia.

Dapat dibayangkan, seandainya kesetiaan tersebut lahir dari pemahaman yang utuh, yang selanjutnya membentuk sebuah keyakinan yang kokoh bahwa di balik dunia ini ada kekuatan Yang Maha Segalanya; Allah swt., yang dapat mengabulkan segala permohonan, serta memberikan pahala kepada siapa saja yang memenuhi panggilan-Nya. Sudah barang tentu kesetiaan tersebut bukan hanya sekadar melelahkan, sampai pingsan, bahkan sampai meregang nyawa. Akan tetapi, dapat dipastikan bahwa semua harapan mereka akan terealisasi dengan baik dan memuaskan.

Hanya saja proses untuk memiliki pemahaman yang utuh dan keyakinan yang kokoh terhadap Dzat yang menciptakan alam semesta ini, hendaknya diawali dengan mengenal dan memahami-Nya secara baik; melalui ayat-ayat-Nya yang terhampar di jagad raya, seperti matahari, bulan, bintang, bumi, langit, daratan, lautan, air, udara, dan lain-lain. Kesemuanya itu tertata dengan rapih, saling melengkapi dan harmonis, satu sama lain saling memberikan respon; beresonansi. Semua itu adalah bukti kekuasaan dan keesaan Allah swt. serta kenikmatan duniawi yang amat indah. Semua itu menjadi sarana untuk membangun jiwa yang kokoh dan harmonis, serta sarana untuk menghubungkan dirinya dengan Dzat Allah swt. Yaitu, jika kenikmatan dunia yang senantiasa silih berganti dan tiada habisnya, sudah menjadi kesadaran nurani.

Bagi seorang Muslim yang sudah menyadari akan segala nikmat Allah swt. maka sudah barang tentu ia pasti mencintai pemberi nikmat tersebut secara jujur dan adil. Adapun bagi orang yang senantiasa lalai berpikir dan berdzikir kepada-Nya, jiwanya akan sangat rentan dari gangguan penyakit mental, seperti temperamen, mudah tergoda, labil, gelisah, mudah stress, dan lain-lain, sehingga sangat sulit dibayangkan jiwa orang seperti ini mampu harmonis dengan masyarakat di lingkungan sekitarnya karena ia sering melakukan tindakan-tindakan kontroversial yang bertentangan antara lahir dan batinnya.

Hal tersebut laksana kisah seorang raja yang memiliki anak gadis cantik jelita. Begitu banyak para pemuda menyukainya sehingga tiada hari tanpa lamaran. Namun ternyata, anak gadis ini sangat cerdas, tidak begitu saja menerima semua orang. Ia pun membuat persyaratan. Barang siapa yang ingin meminangnya, hendaklah membawa sekuntum bunga mawar biru.
Setelah berita tentang persyaratan puteri itu tersiar, banyak para pemuda bertandang ke rumah sang gadis dengan mawar birunya masing-masing. Namun, ada yang mawarnya dipoles dengan cat biru, ada juga yang membawa mawar yang terbuat dari kain atau kertas biru. Otomatis gadis itu pun menolak semua lamaran. Sampai akhirnya datang seorang pemuda bersahaja membawa sekuntum mawar putih dan ternyata gadis cantik itu pun menerimanya dengan suka cita.

Sang ayah si gadis pun dibuat kebingungan karena mawar putih bukanlah yang dimaksud. Apalagi pembawa mawar tersebut adalah sekadar pemuda yang sederhana. Anak gadis yang sangat cerdas ini pun menjelaskan bahwa ternyata para pemuda yang gagah dan parlente, sepertinya cerdas dan berbau harum, hanyalah para penipu. Itulah gambaran cinta palsu yang menampilkan berbagai upaya licik dan kotor. Yang bisa jadi di belakang hari si gadis itu kecewa, jika menerima lamaran mereka. Di otak para pemuda itu yang penting dapat memiliki gadis tersebut walau dengan segala cara. Adapun si pemuda sederhana digambarkan bahwa pribadinya memiliki niat yang tulus, bukan hanya ingin memiliki gadis cantik tersebut, akan tetapi sekaligus tidak ingin mengecewakannya, yakni dengan tetap berusaha membawa sebuah mawar, tapi tidak berwarna biru, karena kenyataannya tak ada di dunia ini mawar berwarna biru. Inilah bentuk kasih sayang yang mulia; niat dan usaha yang bersih, perhatian terhadap keinginan orang lain dan tetap berusaha dengan kemampuan yang sungguh-sungguh dan tulus.

Sekalipun kisah di atas hanya sekadar ilustrasi, namun sejatinya bagi seorang Muslim, hendaklah kita meneladani dengan baik sikap si gadis dalam menilai sesuatu dari niat sucinya dan usaha yang nyata, jujur, dan tulus seseorang, walau tak seperti harapan ideal yang sesuai dambaannya. Apalagi Al Qur'an telah menegaskan dalam surah An Nisâ` yang disebutkan dalam pembukaan buletin ini, bahwasanya yang paling pertama harus ditaati adalah Allah swt., Yang Maha Mengetahui lahir dan batin seseorang; niat baik atau buruk diperhitungkan-Nya. Sehingga sudah sewajarnya, mereka bertekad untuk membangun kehidupan ini dimulai dengan membina keharmonisan batinnya bersama Allah swt.

Kemudian langkah yang kedua adalah membangun keharmonisan dengan sesama. Jika cinta kepada Allah sudah sedemikian kokoh; tertanam di dalam hati sanubari, ia akan rela menerima apa saja yang diberikan kepadanya dengan puas, serta siap melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Itulah yang disebut taat di dalam Islam, dimulai dari mengenal dan memahami, mencintai hingga puas menikmati pemberian-Nya serta melaksanakan aturan-Nya. Taat yang lahir dari kesadaraan, bukan karena paksaan. Bahkan Allah swt. mengingatkan dalam Al Qur'an agar tidak pernah terjadi pemaksaan seperti tertuang dalam surah As Syu'ara ayat 4 “Jika kami kehendaki niscaya Kami menurunkan kepada mereka mukjizat dari langit, maka senantiasa kuduk-kuduk mereka tunduk kepadaNya”. Artinya, Allah tidak menghendaki ketaatan karena terpaksa dengan menundukkan kepala, tanpa kesadaran. yang dikehendaki adalah ketaatan akal dan hati nurani, serta sikap yang logis dan realistis. Berbeda dengan taatnya malaikat, yang diciptakan tanpa pilihan selain beribadah kepada-Nya, atau makhluk selain manusia yang diciptakan hanya untuk menjadi pelayan bagi kepentingan umat manusia. Hanya saja, apabila akal dan hati nurani tidak difungsikan sebagaimana mestinya, dampaknya sangat fatal. Kehidupan di dunia akan mengalami keterpurukan, terlebih di akhirat kelak, seperti yang difirmankan oleh Allah swt. dalam Al Qur'an surah Al A'raf ayat 179, “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakan untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu bagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”

Ayat ini menjelaskan bahwa perbedaan kita sebagai manusia dengan binatang ternak, yang paling prinsip adalah, akal dan hati nurani yang bisa mengerti. Dengan keduanyalah seluruh komponen tubuh menjadi terberdayakan dengan harmonis dan efektif, membangun kehidupan yang tenang dan tenteram dengan bercita-cita mendapatkan ridha Allah swt., serta pertolongan-Nya. Hal ini tidak termasuk di dalamnya orang-orang yang melalaikan nikmatNya, terutama nikmat akal dan hati nurani.

Taat kepada Allah ini merupakan pilar pertama dalam membangun masyarakat sakinah, yang jauh dari bencana lahir dan batin. Insya Allah, segala upaya kita bermuara pada pembangunan masyarakat seperti ini.

B E R S A M B U N G...

Minggu, 15 Februari 2009

Menikmati Reformasi (bagian 2 - tamat)


“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak
menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia
supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran
yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar
lagi Maha Melihat.”
(Surah An Nissa: 58)
Perangkat vital lain untuk bisa merasakan nikmatnya reformasi adalah penyadaran betapa pentingnya membangun sebuah masyarakat yang memiliki sikap 'al adl (adil) dalam menyelesaikan berbagai persoalan.

Adil menurut bahasa adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya secara proporsional, sedangkan menurut istilah; adil merupakan sikap proporsional seseorang terhadap persoalan yang ditanganinya. Keadilan mutlak diperlukan oleh siapa pun, termasuk di dalam menentukan jalan hidup.

Ada kisah tentang seorang intelektual Muslim di Mesir bernama DR. Mustafa Mahmud. Sekalipun seorang Muslim, namun ia banyak menyimpan kekecewaan terhadap umat Islam, terutama yang ada di Mesir. Ia menilai bahwa orang-orang Islam itu bodoh, miskin, kotor, semerawut, suka bertengkar, dan lain-lain sehingga akhirnya ia pun berpindah agama menjadi seorang Nasrani.

Akan tetapi, ketika menjadi seorang Nasrani, ia malah mengalami kekecewaan lebih banyak lagi karena ternyata, bukan hanya orang-orang Nasraninya yang tidak benar, setelah ia menganalisa, ajarannya pun justru tidak benar dan sulit dipahami. Ia pun “hijrah” menjadi seorang Yahudi. Namun, kekecewaannya justru menjadi-jadi karena, bukan saja ajarannya yang meragukan, Yahudi banyak mengajarkan kejahatan kemanusiaan. Akhirnya ia meninggalkan semua agama dan menjadi Komunis. Hidupnya menjadi terlunta-lunta, tidak memiliki pegangan dan tujuan hidup yang jelas.

Akhir cerita, ia menjadi seorang Muslim lagi dan mengkaji ajaran agama terakhirnya ini dengan sungguh-sungguh. Sampai akhirnya ia menyimpulkan, agama Islam adalah yang sempurna dan manusiawi, menuntun ke arah hidup yang bahagia lahir dan batin, bahkan dunia dan akhirat, sekalipun orang-orangnya masih banyak yang belum islami. Sementara ajaran di luar Islam, bukan saja pemeluknya yang tidak bisa dipertanggungjawabkan, ajarannya pun tidak memberikan harapan.

Ia menyimpulkan, ilmu pengetahuan sangat bermanfaat jika dimiliki oleh orang-orang beriman, dan sebaliknya, sangat berbahaya jika dimiliki oleh orang-orang non-Muslim. Hemat penulis ketika berada di Kairo, ia adalah seorang Muslim yang taat beribadah. Ia pun pengisi tetap acara Iman dan Ilmu Pengetahuan di salah satu TV swasta di Kairo.

Ini adalah salah satu contoh sikap adil dalam menilai dan menyikapi agama. Artinya, secara proposional mengkaji ajaran agama dan kemudian menyimpulkannya serta mengamalkan dan menyebarkannya kepada masyarakat.

Dewasa ini, yang disebut Masa Reformasi adalah semua orang bebas berbicara dan berpendapat, bersikap dan berekspresi, yang dampaknya sangat berbahaya bagi masyarakat, jika penduduk negeri tercinta ini tidak memiliki sikap adil terhadap berbagai informasi yang tidak jelas dari mana asalnya dan bagaimana kebenaran peristiwanya. Bisa jadi ada berita atau pemikiran yang dijungkir balikkan yang mengemuka menjadi opini publik, karena diprovokasi oleh misi-misi tertentu, sehingga dunia ini seolah-olah hutan rimba, yang hanya dikuasai oleh binatang buas pencari mangsa, yang sama sekali tidak ada kebaikan dan keadilannya.

Sejatinya, bagi umat Islam yang mendapatkan perintah untuk bersikap adil di tengah-tengah masyarakat manusia, seperti yang tertuang di dalam QS An-Nissa di atas, mereka harus sudah memiliki sikap yang jelas dan penilaian yang adil terhadap berbagai informasi yang diterimanya. Apalagi pada situasi dan kondisi yang beberapa saat lagi akan melaksanakan pemilihan anggota legislatif, tidak mustahil di antara sekian banyak peserta PEMILU yang jujur dan adil, adapula yang memancing ikan di air keruh. Sehingga bukanlah mendapatkan ikan dan menikmatinya secara nyaman dan tentram, akan tetapi justru menikmati kekeruhan air dan kekacau balauan, yang berakibat Reformasi ini bukan dinikmati oleh masyarakat banyak, justru malah menguntungkan segelintir orang saja.

Berkenaan dengan perintah Allah swt. tentang sikap adil, bukan saja hal itu kepada orang-orang muslim, akan tetapi terhadap masyarakat manusia secara keseluruhan, tanpa membedakan latar belakang almamater, golongan, ormas, parpol, bahkan agama sekalipun. Karena sikap tidak adil akan berdampak sangat fatal bagi kehidupan masyarakat manusia, seperti halnya menunaikan amanah. Siapapun yang memberikan amanah, maka hendaklah ditunaikan dengan sebaik-baiknya amanah tersebut.

Al Imam Ali pernah melakukan protes terhadap seorang hakim ketika memiliki perkara dengan seorang Yahudi. Karena sang hakim memanggil beliau dengan gelarnya, sementara memanggil seorang Yahudi dengan hanya namanya. Imam Ali meminta kepada hakim, agar panggilan tersebut disamakan, tanpa membeda-bedakan latar belakang agama maupun kedudukannya.
Pada cerita yang lain, ketika seorang yang bernama Tu'mah bin Ubayirik, mencuri baju perang dari salah seorang tetangganya; bernama Qotadah bin Nu'man, yang kedua-duanya adalah beragama Islam. Karena takut ketahuan atas perbuatannya, maka baju perang itu disembunyikan di dalam karung berisi tepung gandum. Lalu ia pun setelahnya pergi menuju rumah Zaid bin As-Samin; seorang Yahudi, dan menyembunyikan karung berisi baju perang dan tepung tersebut di rumah Zaid. Ceceran tepung berserakan di sepanjang jalan, meninggalkan jejak yang nyata. Sehingga orang-orang mudah mengetahuinya, bahwa Zaid lah pelakunya.

Namun banyak orang Yahudi yang menyaksikan Tu'mah membawa karung tersebut. Kemudian keluarga Tu'mah pun datang melaporkan Zaid kepada Rasulullah saw. Sedangkan dari pihak Zaidpun banyak yang bersaksi atas peristiwa tersebut. Terjadilah perdebatan, dan keluarga Tu'mah pun terdesak, sehingga mereka memohon kepada Rasulullah untuk menghukum Zaid yang beragama Yahudi dan membebaskan Tu'mah yang Muslim. Dengan alasan, jika tidak demikian berarti Islam akan tercoreng, sedangkan Zaid yang beragama Yahudi akan bebas. Namun demikian tiba-tiba turunlah surah An-Nissa ayat 107, yang mengingatkan Rasul agar tidak berpihak kepada ”pengkhianat”.

Kemenangan umat Islam selalu diraih melalui keadilan, bukan dengan kezhaliman. Sejak jaman Rasul sampai saat ini tidak ada sejarahnya berdakwah dengan cara-cara kotor, melalui penjajahan, kecurangan, pengusiran, atau penganiayaan. Sekalipun ada yang disebut dengan perang ”Sabil”, namun selalu diwarnai dengan akhlaq yang baik; tidak boleh membunuh orang tua, wanita, anak-anak, merusak tempat ibadah dan tanaman yang sedang berbuah dan lain-lain, sangat berbeda dengan cara-cara yang dilakukan oleh non muslim.

Di dalam membangun sebuah negara, amanah dan adil ini merupakan dua prinsip yang tidak bisa ditinggalkan. Karena dengan keduanyalah tegaknya sebuah negara, sehingga Allah pun menyebutnya; bahwa perintah amanah dan adil ini merupakan nasihat yang terbaik dari pada-Nya untuk kita semua. Dan Allah pun memberikan jaminan, bahwa menegakkan amanah dan keadilan ini akan senantiasa diawasi, sejak lahir sampai bathin, mulai niat sampai sikap. Artinya bahwa amanah dan adil ini bukan sekedar persoalan hubungan dengan sesama manusia di dunia saja, akan tetapi persoalan agama yang akan mengantarkan kebahagiaan hidup di dunia sampai akhirat.

Wallahu a'lam.

Minggu, 08 Februari 2009

Menikmati Reformasi (bagian 1)


“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu)
apabila menetapkan hukum di antara manusia
supaya kamu menetapkan dengan adil.
Sesungguhnya Allah memberi pengajaran
yang sebaik-baiknya kepadamu.
Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar
lagi Maha Melihat.”
(Surah An Nissa: 58)

Di antara fitrah manusia adalah berubah. Jika orang ingin survive dan menikmati kehidupan ini, perubahan merupakan sebuah harga mutlak. Untuk itu, dia akan jenuh dan cenderung berontak jika berada dalam satu kondisi yang tidak mengalami perubahan. Hanya, perubahan akan efektif jika diawali dengan niat yang baik dan direncanakan dengan matang; bermanfaat bagi diri sendiri dan masyarakat umumnya, agar positif serta maju, tidak berputar-putar seperti yoyo dan gasing.

Pada saat Demokrasi Terpimpin (Orde Lama), banyak orang tidak merasa puas dan menginginkan perubahan karena saat itu terjadi kontradiksi antara dua kata tersebut: demokrasi dan terpimpin. Demokrasi didefiniskan sebagai suara rakyat yang berkuasa, namun kata terpimpin lebih menunjukkan bahwa penguasa lebih bebas melakukan sesuatu. Akhirnya, pecahlah aksi demonstrasi di mana-mana.

Setelah itu lahirlah Orde Baru yang lebih layak disebut dengan ”Orde Otoriter” yang berkedok demokrasi, melalui PEMILU yang berulang-ulang dan menghasilkan single majority yang berulang-ulang pula. Sejarah ketidakadilan terulang, meletuslah demonstrasi, yang puncaknya adalah lahirnya Reformasi. Namun ternyata, banyak kalangan yang merasa tidak puas dengan orde reformasi tersebut. Akhirnya mereka melakukan berbagai aksi protes. Dan, salah satu fenomena ketidakpuasan itu adalah munculnya gerakan Golput; memilih golongan di luar sistem.
Hal ini justru mengundang pro dan kontra, bahkan ada yang sampai mengharamkannya. Perdebatan tersebut tentu saja semakin memperpanjang perjalanan masalah bangsa ini. Padahal, Islam sudah sangat jelas berbicara tentang pengelolaan kehidupan ini, mulai dari yang terkecil sampai yang terbesar; dari mengelola diri pribadi sampai yang berhubungan dengan persoalan-persoalan dunia internasional. Di antaranya adalah diktum ilahi yang terdapat dalam surah An Nissa: 58, yang berbicara tentang amanah (jujur) dan keadilan.

Sejatinya, umat Islam yang senantiasa membaca Al Qur'an, memanfaatkan secara maksimal reformasi ini, bahkan menikmatinya sebagai sarana amal untuk membangun masyarakat yang cerdas, jujur dan adil, serta memiliki pilihan untuk memberikan amanah kepada orang-orang yang jujur pula. Pekerjaan seperti ini hanya dapat dilakukan oleh orang-orang beriman, yang memiliki keyakinan sangat kuat; bermental baja, serta pandangan dan tujuan yang sangat jelas. Orang-orang beriman seperti ini, akan selalu berjuang menuju satu muara, mendapatkan rahmat dan ridha Allah. Sementara dunia dan seisinya, termasuk manusia di dalamnya, menjadi fasilitas dan sarana yang senantiasa dikelola dan dimanfaatkan agar melahirkan rahmat dan ridha-Nya.

Oleh karena itu, siapa pun dia, apapun aktivitasnya, bagaimanapun situasi dan kondisinya, dan apapun ormas ataupun parpolnya, asalkan dia mukmin, dia pasti memandang dunia ini sebagai lautan rahmat Allah swt. yang harus digarap dengan amal serta menjadi sarana berdzikir setiap saat kepada sang Khalik, yang puncaknya adalah mengingat kalimat, ”Tiada tuhan selain Allah.” Kemudian, dzikir tersebut melahirkan sikap syukur dengan memanfaatkan segala ciptaan Allah dalam kehidupan ini seoptimal mungkin, sehingga reformasi ini tidak berwajah garang, bertangan besi, menebar teror, dan lain sebagainya, namun ramah dan memberikan kesejahteraan lahir dan batin kepada masyarakatnya.

Mukmin reformis yang bercita-cita seperti inilah yang layak mendapatkan amanah dari masyarakat. Dan, mukmin reformis seperti ini hanya akan menjadi harapan bagi orang-orang yang sudah reformis pula. Kenapa George Walker Bush terpilih menjadi presiden Amerika dua periode, sementara ketika berkunjung ke Irak dia dilempar sepatu? Jawabannya, karakter Bush mewakili karakter orang Amerika, sementara orang Irak sangat bersebrangan. Oleh karena itu, pemimpin yang baik akan lahir dari masyarakat yang baik pula. Begitu pula masyarakat Arab, ketika masih jahiliyah, memusuhi dan berkali-kali mencoba membunuh Rasulullah saw. Namun, setelah menjadi masyarakat beriman, Rasulullah Saw. menjadi pemimpin yang sangat diidolakan. Untuk itu, reformasi sangat layak untuk dinikmati sebagai media membangun masyarakat yang cerdas, jujur, adil, dan sejahtera lahir serta batin.

Masyarakat Muslim adalah masyarakat yang memahami dunia ini sebagai lapangan perjuangan, yang sampai kapan pun memerlukan orang-orang yang senantiasa memiliki semangat juang yang kokoh. Mereka selalu optimis melihat masa depan dan siap menghadapi berbagai tantangan.

Tidak ada orang yang sempurna! Ketika Rasulullah saw. wafat, diselenggarakan pemilihan umum. Abu Bakar pun meraih suara terbanyak dan akhirnya terpilih menjadi khalifah. Dalam pidato pertamanya, dia mengatakan, ”Saya bukanlah orang yang terbaik di antara kalian. Jika aku benar, dukunglah! Dan jika aku salah, luruskanlah! Orang-orang yang kuat di antara kalian menjadi lemah di sisiku karena akan aku ambil hak-hak orang-orang miskin darinya. Sementara itu, orang-orang lemah akan menjadi kuat di sisiku karena akan kuberikan hak-hak mereka dari orang-orang kuat... ”

Penggalan pidato ini, menggambarkan betapa sadarnya sahabat besar Abu Bakar atas segala kekurangannya sekaligus menyadari tugasnya sebagai pemimpin untuk membela masyarakat lemah dan mengelola orang-orang kuat agar menikmati kekayaan dengan berbagi, tidak individualis, materialis, dan hedonis.

Kesadaran seperti ini sangat diperlukan sampai saat ini. Karena, diakui ataupun tidak, bangkrutnya negeri ini disebabkan oleh orang-orang yang dikhawatirkan Abu Bakar, berambisi ingin berkuasa hanya untuk memperkaya diri. Oleh karena itu, Rasulullah saw. mengingatkan, ”Jika sebuah urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, tunggulah kehancurannya.” (HR. Bukhari)

Ukuran keahlian seseorang terhadap sebuah amanah dilihat dari dua sisi, integritas dan kapabelitas. Rasulullah saw. bersabda, ”Barangsiapa yang memberikan amanah kepada seseorang, sementara ada orang lain yang lebih cakap untuk mengelola amanah tersebut, dia termasuk pengkhianat kepada Allah, Rasul-Nya, dan kepada orang-orang beriman.” (HR. Hakim)

Tidak ada orang yang sempurna! Ketika perang Yarmuk, Abu Bakar Shiddiq mengangkat Khalid bin Walid sebagai panglima perang. Sontak saja Umar bin Khattab tidak setuju karena melihat ada beberapa kekurangan dalam diri Khalid. Namun, dengan berbagai alasan Abu Bakar tetap mempertahankan Khalid bin Walid sebagai panglima dan Umar pun menerima keputusan itu. Pertempuran pun dimenangkan umat Islam. Setelah Abu Bakar wafat, Umar bin Khattab menjadi Khalifah dan beliau pun mengganti panglima Khalid bin Walid dengan yang lain. Khalid pun menerimanya tanpa protes. Namun pada akhirnya, Umar pun sadar bahwa Abu bakar tidak salah menentukan pilihan karena ternyata Khalid bin Walid, prajurit yang terbaik pada masanya.

Itulah gambaran masyarakat Muslim yang berani berpendapat, namun disertai dengan sikap saling menghormati, terutama dalam hal-hal yang bersifat ijtihadiyah; persoalan-persoalan yang harus dimusyawarahkan. Bukan mencari sosok yang sempurna, namun mencari sosok yang paling layak pada saat itu. Sementara itu, semua orang giat beramal, tanpa mempermasalahkan jabatan sebagai panglima atau bukan, pemimpin atau bukan, dan lain sebagainya.

B E R S A M B U N G . . . . .