Minggu, 22 Februari 2009

Pilar-Pilar Masyarakat Sakinah (bagian 1: Taat kepada Allah)


“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”
(Surah An-Nissa : 59 )

Keharmonisan (sakînah) merupakan cita-cita setiap orang karena dengan harmonis banyak persoalan dapat diselesaikan dengan baik. Namun sayang, jauh panggang dari api, faktanya masyarakat semakin merasa jauh dari impian tersebut; kericuhan di mana-mana, bahkan sampai tingkat kekerasan. Hal ini menarik untuk direnungkan, apalagi bagi seorang Muslim yang sudah memiliki jati diri; beriman kepada Allah dan rasul-Nya serta bersemangat untuk memiliki pemimpin yang adil dan jujur dalam mengemban amanah.

Kekacauan yang diderita oleh masyarakat ini tidak terlepas dari sikap taat anggota masyarakat itu sendiri terhadap kepercayaannya. Contoh kasus, dukun cilik Ponari yang menyedot perhatian banyak orang. Tidak sedikit orang yang datang untuk menuai cita-citanya. Mereka rela mengorbankan waktu, tenaga, dan biaya, demi untuk berjumpa dengan sang dukun. Semangat tersebut hanya bermodalkan prasangka belaka bahwa Ponari dapat menyembuhkan segala penyakit. Prasangka itulah yang membuat mereka begitu setia berdesak-desakan, bahkan ada yang sampai pingsan dan meninggal dunia.

Dapat dibayangkan, seandainya kesetiaan tersebut lahir dari pemahaman yang utuh, yang selanjutnya membentuk sebuah keyakinan yang kokoh bahwa di balik dunia ini ada kekuatan Yang Maha Segalanya; Allah swt., yang dapat mengabulkan segala permohonan, serta memberikan pahala kepada siapa saja yang memenuhi panggilan-Nya. Sudah barang tentu kesetiaan tersebut bukan hanya sekadar melelahkan, sampai pingsan, bahkan sampai meregang nyawa. Akan tetapi, dapat dipastikan bahwa semua harapan mereka akan terealisasi dengan baik dan memuaskan.

Hanya saja proses untuk memiliki pemahaman yang utuh dan keyakinan yang kokoh terhadap Dzat yang menciptakan alam semesta ini, hendaknya diawali dengan mengenal dan memahami-Nya secara baik; melalui ayat-ayat-Nya yang terhampar di jagad raya, seperti matahari, bulan, bintang, bumi, langit, daratan, lautan, air, udara, dan lain-lain. Kesemuanya itu tertata dengan rapih, saling melengkapi dan harmonis, satu sama lain saling memberikan respon; beresonansi. Semua itu adalah bukti kekuasaan dan keesaan Allah swt. serta kenikmatan duniawi yang amat indah. Semua itu menjadi sarana untuk membangun jiwa yang kokoh dan harmonis, serta sarana untuk menghubungkan dirinya dengan Dzat Allah swt. Yaitu, jika kenikmatan dunia yang senantiasa silih berganti dan tiada habisnya, sudah menjadi kesadaran nurani.

Bagi seorang Muslim yang sudah menyadari akan segala nikmat Allah swt. maka sudah barang tentu ia pasti mencintai pemberi nikmat tersebut secara jujur dan adil. Adapun bagi orang yang senantiasa lalai berpikir dan berdzikir kepada-Nya, jiwanya akan sangat rentan dari gangguan penyakit mental, seperti temperamen, mudah tergoda, labil, gelisah, mudah stress, dan lain-lain, sehingga sangat sulit dibayangkan jiwa orang seperti ini mampu harmonis dengan masyarakat di lingkungan sekitarnya karena ia sering melakukan tindakan-tindakan kontroversial yang bertentangan antara lahir dan batinnya.

Hal tersebut laksana kisah seorang raja yang memiliki anak gadis cantik jelita. Begitu banyak para pemuda menyukainya sehingga tiada hari tanpa lamaran. Namun ternyata, anak gadis ini sangat cerdas, tidak begitu saja menerima semua orang. Ia pun membuat persyaratan. Barang siapa yang ingin meminangnya, hendaklah membawa sekuntum bunga mawar biru.
Setelah berita tentang persyaratan puteri itu tersiar, banyak para pemuda bertandang ke rumah sang gadis dengan mawar birunya masing-masing. Namun, ada yang mawarnya dipoles dengan cat biru, ada juga yang membawa mawar yang terbuat dari kain atau kertas biru. Otomatis gadis itu pun menolak semua lamaran. Sampai akhirnya datang seorang pemuda bersahaja membawa sekuntum mawar putih dan ternyata gadis cantik itu pun menerimanya dengan suka cita.

Sang ayah si gadis pun dibuat kebingungan karena mawar putih bukanlah yang dimaksud. Apalagi pembawa mawar tersebut adalah sekadar pemuda yang sederhana. Anak gadis yang sangat cerdas ini pun menjelaskan bahwa ternyata para pemuda yang gagah dan parlente, sepertinya cerdas dan berbau harum, hanyalah para penipu. Itulah gambaran cinta palsu yang menampilkan berbagai upaya licik dan kotor. Yang bisa jadi di belakang hari si gadis itu kecewa, jika menerima lamaran mereka. Di otak para pemuda itu yang penting dapat memiliki gadis tersebut walau dengan segala cara. Adapun si pemuda sederhana digambarkan bahwa pribadinya memiliki niat yang tulus, bukan hanya ingin memiliki gadis cantik tersebut, akan tetapi sekaligus tidak ingin mengecewakannya, yakni dengan tetap berusaha membawa sebuah mawar, tapi tidak berwarna biru, karena kenyataannya tak ada di dunia ini mawar berwarna biru. Inilah bentuk kasih sayang yang mulia; niat dan usaha yang bersih, perhatian terhadap keinginan orang lain dan tetap berusaha dengan kemampuan yang sungguh-sungguh dan tulus.

Sekalipun kisah di atas hanya sekadar ilustrasi, namun sejatinya bagi seorang Muslim, hendaklah kita meneladani dengan baik sikap si gadis dalam menilai sesuatu dari niat sucinya dan usaha yang nyata, jujur, dan tulus seseorang, walau tak seperti harapan ideal yang sesuai dambaannya. Apalagi Al Qur'an telah menegaskan dalam surah An Nisâ` yang disebutkan dalam pembukaan buletin ini, bahwasanya yang paling pertama harus ditaati adalah Allah swt., Yang Maha Mengetahui lahir dan batin seseorang; niat baik atau buruk diperhitungkan-Nya. Sehingga sudah sewajarnya, mereka bertekad untuk membangun kehidupan ini dimulai dengan membina keharmonisan batinnya bersama Allah swt.

Kemudian langkah yang kedua adalah membangun keharmonisan dengan sesama. Jika cinta kepada Allah sudah sedemikian kokoh; tertanam di dalam hati sanubari, ia akan rela menerima apa saja yang diberikan kepadanya dengan puas, serta siap melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Itulah yang disebut taat di dalam Islam, dimulai dari mengenal dan memahami, mencintai hingga puas menikmati pemberian-Nya serta melaksanakan aturan-Nya. Taat yang lahir dari kesadaraan, bukan karena paksaan. Bahkan Allah swt. mengingatkan dalam Al Qur'an agar tidak pernah terjadi pemaksaan seperti tertuang dalam surah As Syu'ara ayat 4 “Jika kami kehendaki niscaya Kami menurunkan kepada mereka mukjizat dari langit, maka senantiasa kuduk-kuduk mereka tunduk kepadaNya”. Artinya, Allah tidak menghendaki ketaatan karena terpaksa dengan menundukkan kepala, tanpa kesadaran. yang dikehendaki adalah ketaatan akal dan hati nurani, serta sikap yang logis dan realistis. Berbeda dengan taatnya malaikat, yang diciptakan tanpa pilihan selain beribadah kepada-Nya, atau makhluk selain manusia yang diciptakan hanya untuk menjadi pelayan bagi kepentingan umat manusia. Hanya saja, apabila akal dan hati nurani tidak difungsikan sebagaimana mestinya, dampaknya sangat fatal. Kehidupan di dunia akan mengalami keterpurukan, terlebih di akhirat kelak, seperti yang difirmankan oleh Allah swt. dalam Al Qur'an surah Al A'raf ayat 179, “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakan untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu bagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”

Ayat ini menjelaskan bahwa perbedaan kita sebagai manusia dengan binatang ternak, yang paling prinsip adalah, akal dan hati nurani yang bisa mengerti. Dengan keduanyalah seluruh komponen tubuh menjadi terberdayakan dengan harmonis dan efektif, membangun kehidupan yang tenang dan tenteram dengan bercita-cita mendapatkan ridha Allah swt., serta pertolongan-Nya. Hal ini tidak termasuk di dalamnya orang-orang yang melalaikan nikmatNya, terutama nikmat akal dan hati nurani.

Taat kepada Allah ini merupakan pilar pertama dalam membangun masyarakat sakinah, yang jauh dari bencana lahir dan batin. Insya Allah, segala upaya kita bermuara pada pembangunan masyarakat seperti ini.

B E R S A M B U N G...

Tidak ada komentar: