“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”
(Surah An-Nissa : 59 )
(Surah An-Nissa : 59 )
Keluasan rahmat Allah swt. begitu nampak bagi orang-orang yang beriman. Karena bukan hanya sekedar menciptakan alam semesta yang sangat lengkap sebagai sarana kehidupan manusia. Lebih dari itu, Allah menciptakan akal dan hati nurani sebagai sarana menikmati alam semesta dan mengekploitasi sumber dayanya. Namun demikian, kehidupan ini masih belum cukup memberikan kenikmatan yang maksimal, apabila nikmat berikutnya tidak disyukuri, yaitu kehadiran Rasulullah saw. Sebab bagi manusia hidup ini bukan hanya sekedar fisik material saja, akan tetapi ada unsur ruhaniyah. Dan unsur inilah yang paling penting dalam membangun masyarakat sakinah.
Apabila ruhaniyah tidak terkelola dengan baik, akan terjadi bencana kemanusiaan yang sangat dahsyat. Oleh karena itu, Allah swt. menurunkan para Rasul untuk memberikan bimbingan ruhaniyah agar kehidupan menjadi bahagia. Memang, dengan akal pikiran dan hati nurani yang berinteraksi dengan jagad raya ini, dapat dipastikan manusia akan menyimpulkan, bahwa alam ini ada penciptanya; Yang Maha Esa dan Maha Kuasa. Namun untuk mengenal pencipta secara baik tentang nama dan sifatnya serta kehendak-Nya, yang harus ditaati oleh umat manusia, tidak akan terpahami dengan baik, kecuali melalui keterangan yang disampaikan oleh para RasulNya.
Untuk itulah Allah swt. tidak akan membinasakan penduduk negeri, hanya disebabkan oleh kezhaliman dan kesesatan semata. Akan tetapi azab Allah akan turun, manakala penduduk negeri tersebut, ketika datang peringatan dari Allah swt. melalui RasulNya, kemudian mereka mendustakan Rasul tersebut. Seperti peristiwa kaum Nuh dengan azab banjirnya, atau kaum Shalih dengan angin panasnya, kaum luth dengan gempa buminya atau Fir'aun yang mati tenggelam di tengah-tengah lautan. Semua itu mendapat musibah sebagai akibat mendustakan para Rasul Allah swt.
Di dalam ajaran Islam, manusia pertama adalah Adam as. Beliau bukan hanya sekedar manusia, akan tetapi sekaligus Nabi dan Rasul. Sangat berbeda dengan konsep yang diajarkan oleh para filsuf yang berprasangka, bahwa manusia adalah hasil evolusi dari makhluk lain, berupa kera, ikan dan lain-lain. Hal ini tentu saja merupakan pemikiran yang merendahkan martabat manusia.
Islam mengajarkan bahwa Nabi Adam as. membina anak cucunya dengan risalah Allah swt. secara turun temurun. Kemudian sejalan dengan perjalanan waktu, manusia pun makin lupa dari ajaran nenek moyangnya dan rahmat Allah pun turun kembali dengan mengutus Rasul baru. Begitulah secara turun temurun, sehingga sampai pada masa Rasulullah saw sebagai nabi terakhir, yang peringatannya berupa Al-Qur’an, yang dijamin keasliannya sampai hari kiamat, manakala seluruh umat manusia sudah tidak beriman dan mendustakannya niscaya hancurlah dunia ini.
Dengan demikian, Islam bukanlah hasil perkembangan pemikiran, akan tetapi merupakan bimbingan pemikiran yang menghasilkan perkembangan ke arah positif dan konstruktif. Dewasa ini kita sering mendengar peringatan dari para pemikir, agar tidak melakukan politisasi perempuan, politisasi kemiskinan, pengangguran, pertanian dan lain sebagainya. Namun sayang, tidak ada solusi alternatif yang ditawarkan. Dan lebih disayangkan lagi, kalimat itu pun lebih berbau politisasi pernyataan.
Sementara Rasulullah saw. ketika dibangkitkan di tengah-tengah lingkungannya, masyarakat dunia berada dalam kehancuran. Segala sesuatu hanyalah menjadi korban komoditas politik dan ekonomi. Dunia terbagi menjadi dua jajahan besar; Persia dan Romawi. Hanya jazirah arab yang selamat dari penjajahan. Karena memang pada saat itu merupakan wilayah yang sangat miskin dan tidak memiliki sumber daya alam yang berarti, sehingga tidak menarik untuk dijadikan objek jajahan. Peradaban masyarakatnya berada dalam kondisi terbelakang dan terisolir dibandingkan dengan peradaban yang lain.
Namun dari tempat inilah Rasul hadir, yang tugas utamanya memperbaiki moral (akhlaq), sebagaimana sabdanya: ”Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia.” Dengan tugas inilah beliau tampil memimpin proses moralisasi politik, ekonomi, budaya, pendidikan dan kehidupan secara umum. Dan ternyata, kekuatan politik ekonomi internasional, yang sudah dibangun sedemikian lama dan telah mengakar di daerah-daerah jajahannya, secara bertahap dapat ditumbangkan oleh kekuatan moral.
Pada saat ini, seringkali terjadi pernyataan yang kontradiktif di tengah-tengah masyarakat yang menginginkan adanya perubahan sistem kehidupan. Di satu sisi, ada sekelompok orang dengan semangat membara dan menyuarakan yel-yel anti korupsi, kolusi dan nepotisme. Namun di sisi lain, tidak mengambil sikap alternatif, membangun dan membina kelompok yang bermoral dan siap memberikan alternatif solusi dalam tatanan praktis. Sehingga perjuangan tersebut hanya menjadi bumbu penyedap yang tidak pernah bisa dinikmati.
Hal itu sangat berbeda dengan Rasulullah saw., yang tampil menyuarakan moral, sekaligus menjadi praktisi dalam segala hal. Bahkan salah satu pengarahan Allah swt. kepadanya seperti tertuang dalam surah Al An'am ayat 135: ”Katakanlah : Hai kaumku, berbuatlah sepenuh kemampuanmu, sesungguhnya akupun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui, siapakah (di antara kita) yang akan memperoleh hasil yang baik dari dunia ini. Sesungguhnya, orang-orang yang zhalim itu tidak akan mendapat keberuntungan.”
Ayat tersebut memberikan gambaran kepada kita tentang pembekalan dari Allah swt. agar Rasulullah saw. pada saat itu, kemudian para pengikutnya sampai pada saat ini, selalu optimis memandang masa depan dengan penuh harapan untuk mencapai kemenangan. Sementara mempersilahkan kepada orang-orang zhalim, yang tidak bermoral, agar bekerja sepenuh kemampuan, karena pada akhirnya kezhaliman tidak akan pernah menang. Walaupun secara lahiriah dan untuk sementara memiliki kekuatan di atas angin.
Sejatinya di negeri yang mayoritas muslim, seperti Indonesia tercinta ini, sudah tidak mempertanyakan tentang konsep yang akan dipakai, serta sosok teladan yang akan diikuti. Sebab konsep tersebut sudah sangat nyata benarnya, berupa Al Qur'an dari Allah swt. dan tata cara pelaksanaannya sudah dicontohkan oleh Rasulullah saw. Dengan cara; pertama-tama, taat kepada Allah swt., dengan menjadikan hidup ini sebagai ibadah kepadaNya, baik dengan cara yang khusus seperti; shalat, zakat, shaum, haji dan seterusnya atau yang umum seperti: berpikir, berniat, beraktifitas, berorganisasi, bahkan bernegara. Dan yang kedua, pelaksanaannya mengikuti Rasulullah saw., yang mewarnai kehidupan ini dengan iman dan akhlaq, yang secara garis besar dapat disimpulkan dalam dua kalimat; membangun ketenangan dan ketenteraman secara pribadi bersama Allah swt. dan membangun ketenangan dan ketenteraman bersama masyarakat manusia.
Dalam hal ini, Rasulullah saw. mengajarkan kepada masyarakatnya, bahwa dalam membangun hubungan dengan Allah swt. dan bersama manusia, nilai-nilainya hendaklah berdasarkan wahyu, yaitu Al Qur'an dan As Sunnah Rasulullah saw. Sementara sarananya yang bersifat materi, hendaklah dikembangkan sesuai dengan kemajuan peradaban dan ilmu pengetahuan. Sehingga sangat salah sekali, apabila memiliki pandangan yang terbalik; ketika berbicara tentang nilai kemanusiaan dan ketuhanan, lepas dari wahyu, sedangkan ketika berbicara tentang fisik materi, mempertahankan cara-cara lama, bahkan sampai 14 abad yang lewat.
Salah satu contohnya adalah, ketika kita berdakwah, sarananya bisa dikembangkan sesuai dengan perkembangan pada saat ini, seperti; radio, televisi, internet dan sarana transportasinya memakai sepeda, motor, mobil hingga pesawat terbang, sarana komunitasnya mempergunakan LSM, Yayasan, Ormas, Orpol dan lain-lain. Namun nilainya jangan sampai lepas dari beribadah kepada Allah swt. dan silaturahim dengan sesama.
Namun ternyata kesalahan ini masih menjadi pekerjaan rumah bagi Umat Islam. Karena di lapangan, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat pada saat ini justru seringkali menjadi sarana yang kontraproduktif bahkan destruktif bagi kehidupan, baik di bidang sosial, politik, ekonomi, pendidikan dan seterusnya. Hal ini bukan yang pertama kali menjadi bencana kemanusiaan. Sebab, kalau kita menelaah masa jayanya Athena (Yunani) dengan Socrates dan Phytagorasnya, ternyata mereka pun bersikap tidak rasional dalam beragama, yakni menjadi penyembah berhala. Dan dalam hal kemanusiaan pun, Plato ternyata berpendapat, bahwa untuk menciptakan masyarakat yang ideal adalah dengan cara menghabisi orang-orang yang tidak produktif; lansia, penyandang cacat dan pengangguran, yang hal ini secara kebetulan atau tidak, pernah dilakukan oleh diktator Hitler komunis dengan NAZInya.
Sedangkan Rasulullah saw. mengajarkan, bahwa seorang pemimpin umat adalah pelayan bagi masyarakatnya; ”Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah.”, ”Amal yang paling utama adalah berbuat baik kepada orang tua.”, ”Apabila anak Adam meninggal dunia, terputus amalnya kecuali tiga hal: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang shalih senantiasa mendoakannya.” dan banyak lagi.
B E R S A M B U N G...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar