Jumat, 30 Januari 2009

Semangat Resolusi Amal di Tahun Baru Hijriyah 1430 H (Bagian 5 - Optimis)


“ Sesungguhnya, orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah, dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Q.S. Al Baqarah: 218)

Imam Ghazali berkata, “Harap dan cemas merupakan dua sayap orang beriman. Dia akan mampu terbang menuju ketinggian derajatnya, ketika kedua sayap tersebut sehat dan berfungsi secara seimbang.” Pernyataan tersebut merupakan apresiasi pemahaman beliau tentang Islam yang mengajarkan agar umat muslim memiliki “ pandangan masa depan yang cerah dan harapan yang positif “ atau yang disebut dengan “optimisme” dalam kehidupan; optimisme yang obyektif, rasional dan realistis, bukan optimisme yang dibangun tanpa landasan dan perbuatan.

Dewasa ini, banyak orang yang membangun optimisme berdasarkan prasangka-prasangka atau bahkan informasi yang tidak jelas. Contoh kasus, ketika Barack Obama menjadi calon kuat Presiden Amerika Serikat dan akhirnya terpilih. Hampir semua orang menaruh harapan kepadanya untuk dapat menyelesaikan krisis dunia, menciptakan perdamaian di Timur Tengah, membangun kesejahteraan masyarakat internasional, bahkan lebih perhatian terhadap situasi dan kondisi negeri tercinta Indonesia ini, dengan dalih dia pernah tinggal di negeri ini.
Kasus lain, banyak orang yang berharap kepada tokoh-tokoh nasional atau kepada partai politik dan lain sebagainya untuk merubah kondisi bangsa. Saking besarnya harapan tersebut, sampai terjadi miskomunikasi antar kelompok, bahkan kontak fisik yang sangat memperihatinkan. Mereka khawatir, kalau bukan kelompoknya yang berkuasa, mereka tidak tentram dan sejahtera.

Bahkan ada sebuah dagelan, tahun 2009 adalah tahun stress dan depresi, karena calon legislatif yang telah menggelontorkan uang milyaran rupiah untuk kampanye, tidak lolos menjadi anggota Legislatif. Sementara itu, masyarakat yang sudah hidup menderita, merasa terabaikan, janji-janji kesejahteraan pun yang sudah disampaikan tidak terbukti. Akhirnya memunculkan kekecewaaan besar dan depresi massal.

Semua itu terjadi akibat kesalahan dalam membangun optimisme dan memberikan harapan-harapan kosong kepada masyarakat. Banyak orang bertanya, apa dosanya menyimpan harapan terhadap figure Presiden AS yang menjadi orang nomor satu di dunia, kepada tokoh-tokoh nasional yang banyak mengobral janji, atau kepada partai politik dan lembaga lainnya? Sesungguhnya, tidak ada yang salah jika harapan dan optimisme tersebut dibangun secara proporsional, obyektif, rasional, dan realistis.

Islam mengajarkan bahwa optimisme seseorang sejatinya lahir dari dalam dirinya, yaitu membangun keyakinan melalui pemahaman yang jelas terhadap jati dirinya sebagai hamba Allah sehingga aktivitas yang lahir dari pemahaman dan keyakinan tersebut benar-benar menciptakan ketenangan dan ketentraman serta menyimpan harapan untuk membangun masa depan yang lebih baik. Setelah itu, dia senantiasa berbenah diri untuk selalu berada dalam keyakinannya, yaitu hidup bersama Allah dan Rasul-Nya. Lalu, dia berjuang dengan sungguh-sungguh untuk menciptakan situasi dan kondisi yang kondusif, yang dimulai dari dirinya sendiri secara bertahap dan bercita-cita agar dunia ini layak mendapatkan ampunan dan kasih sayang-Nya. Kemudian, dia berharap kepada siapa saja yang bersama-sama di jalan Allah untuk menjadi pendukungnya. Barulah setelah itu giliran hal-hal yang lain seperti tokoh, partai dan lembaga-lembaga yang banyak diandalkan orang-orang saat ini, bisa dijadikan harapan dalam membangun optimisme masa depan.

Sebetulnya, bagi orang yang beriman yang senantiasa berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya serta berjuang di jalan-Nya, dunia dan seisinya ini akan menjadi “tentara” Allah yang mendukung perjuangan mereka. Sampai orang kafir sekalipun, hakikatnya adalah tentara Allah yang akan membesarkan kaum Muslimin. Berbagai kajian orientalis tentang Allah dan Rasul, Al Qur'an dan Sunnah merupakan media yang semakin mencerdaskan umat Islam dalam memahami kekeliruan mereka ketika berinteraksi dengan Islam. Hal ini sudah menjadi sebuah aksiomatik.

Kemudian, kebiadaban Israel terhadap Muslim Palestina semakin menyadarkan betapa berbahayanya akidah yang salah terhadap kemanusiaan. Hal ini bukan saja diakui oleh orang-orang Islam, namun juga oleh masyarakat internasional. Hanya saja, persoalannya menjadi kabur jika membangun optimisme tidak dimulai dari dalam diri sendiri, dengan mempertajam fitrah iman, berbenah diri dan berjuang, agar mendapatkan ampunan dan rahmat Allah swt. Sehingga tidak aneh jika ada orang mengaku Muslim namun nyeleneh dengan mengatakan bahwa HAMAS tidak fair, kurang memperhatikan rakyatnya, provokator dan lain sebagainya. Sementara itu, dia memuji-muji Israel sebagi manusia cerdas, pandai berdiplomasi, melobbi, dan mencari dukungan dunia, sekalipun semua itu dilakukan dengan cara-cara kotor. Pada saat yang bersamaan, Barack Obama dijadikan figure sentral dalam membangun optimisme masa depan, padahal berulang kali menyatakan dukungannya secara penuh terhadap negara biadab Zionis Israel.

Inilah yang disebut dengan harapan semu belaka, padahal jaminan Allah bagi orang-orang yang beriman dan berjuang di jalan-Nya adalah Allah Maha Penyayang lagi Maha Pengampun, sebagai jaminan yang pasti dan tidak akan salah, walaupun tidak mustahil dalam perjuangan tersebut ada beberapa kekhilafan yang tidak disengaja.

Contoh kasusnya bisa dilihat di ayat di atas (Al Baqarah: 218). Ayat tersebut turun bersamaan dengan peristiwa Abdullah bin Jahsy dan delapan sahabat lainnya yang mendapatkan perintah dari Rasulullah saw. untuk pergi menyelidiki perbatasan kota Madinah. Di sana mereka melihat tiga orang Quraisy yang mencurigakan. Kemudian dengan seketika Abdullah bin Jahsy dan kawan-kawannya menyerang mereka sehingga salah seorang di antara orang Quraisy tewas dan dua orang lainnya ditawan. Padahal, saat itu sudah memasuki bulan Rajab, bulan yang disepakati oleh masyarakat Arab sebagai bulan bebas dari perang. Ketika mereka tiba di Madinah dan menghadap Rasulullah saw., Rasul pun menegurnya karena tidak pernah memberikan perintah perang. Kemudian, umat Islam pun serempak ikut menyalahkan mereka. Tersiarlah di tengah-tengah masyarakat musyrikin bahwa Muhammad telah menodai bulan suci. Pada saat itulah Abdullah bin Jahsy dan kawan-kawan merasa semakin terdesak. Dalam kondisi seperti itu, turun ayat di atas sebagai jaminan bahwa optimisme umat Islam yang berjuang di jalan Allah, termasuk Abdullah Bin Jahsy dan yang lainnya akan senantiasa mendapatkan rahmat dan ampunan-Nya.

Sungguh sangat berbeda dengan ayat-ayat yang sering kita baca yang berkenaan dengan orang-orang musyrik, yang mengandalkan optimisme bukan dengan berjuang di jalan Allah, namun dengan menyekutukan Allah dan mengandalkan prasangka-prasangka yang tidak realistis dan tidak rasional, seperti kekerasan disebut kecerdasan, orang yang tidak baik dijadikan harapan, dan lain sebagainya. Sehingga sikap hidupnya, sadar atau tidak sadar, telah berpihak kepada perjuangan sebuah pengrusakan, bahkan membela dan mendukungnya.
Ayat yang berkenaan dengan orang-orang seperti ini selalu diakhiri dengan pernyataan, “Allah sangat keras siksaannnya,” atau “Bagi mereka adzab yang sangat pedih,” atau “Mereka adalah penghuni-penghuni Neraka Jahanam yang kekal di dalamnya.”

Betapa indahnya ajaran Islam yang telah terbukti membangun optimisme ummatnya berdasarkan keyakinan yang terpahami dengan baik, karya nyata yang bermanfaat, serta perjuangan untuk mendapatkan rahmat Allah Swt.

Wallahu A'lam. TAMAT.

Semangat Resolusi Amal di Tahun Baru Hijriyah 1430 H (Bagian 4 - Jihad)


“ Sesungguhnya, orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah, dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Q.S. Al Baqarah: 218)

Esensi jihad di jalan Allah adalah berjuang dengan sungguh-sungguh untuk meninggikan agama Allah dengan jiwa dan harta, yang puncaknya adalah bertempur di medan perang.

Pada zaman Rasulullah Saw., jihad merupakan solusi dari berbagai persoalan kaum Muslimin terutama ketika menghadapi musuh-musuh Allah yang senantiasa berambisi memadamkan ruh dakwah di muka bumi ini. Dengan jihad, eksistensi umat Islam semakin diakui oleh para penentangnya dan semakin dirasakan sebagai rahmat dan nikmat oleh pemeluknya sehingga kalimâtullâh semakin membahana, merambah berbagai pelosok di muka bumi ini. Berbagai wilayah jajahan Romawi dan Persia berangsur bangkit menjadi wilayah merdeka dan mendapat kesempatan untuk membangun eksistensinya masing-masing, sementara itu negara-negara imperialis berangsur-angsur menemui kehancurannya.

Sejarah mencatat bahwa kemenangan terbesar Rasulullah Saw. adalah ketika membebaskan kota Mekkah dari berbagai arogansi yang memakan korban dari kalangan orang-orang beriman pengikut Rasulullah Saw. Dalam perjuangan itu, tidak setitik pun darah yang menetes, bahkan sama sekali tidak terjadi pertempuran fisik, namun pasukan Islam yang dipimpin Rasulullah Saw. ketika datang ke Mekkah membuat orang-orang Musrik ketakutan. Di antara mereka ada yang memasuki rumahnya dan tidak berani keluar, ada yang lari keluar daerah, ada pula yang datang kepada Rasulullah dan menyatakan keislamannya. Dalam situsasi seperti itu, Rasulullah bersama kaum Muslimin justru memaafkan mereka atas segala arogansinya dan mengajak mereka untuk tetap tinggal di Mekkah dan meninggalkan segala kejahiliyahan yang pernah dilakukannya.

Bahkan, ketika salah seorang panglima Quraisy, Abu Sofyan bin Harb yang berulang kali berusaha membunuh Rasulullah Saw, tidak berani keluar rumah karena saking takutnya oleh kaum Muslimin, Rasulullah Saw. malah mengeluarkan pernyataan, “Barangsiapa memasuki rumah Abu Sofyan, akan dijamin keamanannya.” Akhirnya, Abu Sofyan pun masuk Islam bersama keluarganya.

Itulah jihad yang dilakukan Rasulullah Saw.; bukan balas dendam, bukan gerakan kekecewaan atau kemarahan, namun merupakan perjuangan suci yang lahir dari hati nurani yang ikhlas, ilmu yang utuh, serta bertujuan untuk menyelamatkan masyarakat dari kehancuran menuju kebahagian dunia dan akhirat.

Dewasa ini, di masyarakat kita muncul pandangan yang kontradiktif terhadap kata jihad. Di satu pihak, ada kelompok yang sangat alergi terhadap kata jihad dan berpandangan bahwa jihad adalah kekerasan yang tidak manusiawi dan harus dihilangkan dari kehidupan beragama. Sementara itu, di pihak lainnya ada kelompok yang sangat ekstrim terhadap kata jihad bahkan berpendapat bahwa saat ini, untuk menyelesaikan segala persoalan harus dilakukan dengan jihad, sekalipun dengan cara-cara yang tidak islami dan tidak melalui proses yang matang; membangun pribadi yang ikhlas, cerdas, dan rapih dalam beramal, serta mampu berkoordinasi bersama barisannya, sehingga melahirkan gerakan jihad yang kontraproduktif; masyarakat menjadi bingung bahkan melahirkan anti pati terhadap agama.

Padahal, jihad dalam Islam begitu suci, terlebih jika dilakukan sesuai dengan tuntunan Al Qur'an dan contoh Rasulullah Saw. Jihad seperti ini akan menjadi satu-satunya solusi dalam menyelesaikan berbagai persoalan.

Banyak yang bertanya kenapa diharuskan berjihad dan kenapa Allah Swt. menciptakan sesuatu yang memusuhi agama. Banyak pula jawaban ulama tentang hal itu, di antaranya adalah bahwa Allah Swt. Mahakuasa menciptakan segala sesuatu. Allah telah menciptakan tiga kelompok makhluk; ada yang hanya beribadah (Malaikat), tidak beribadah dan tidak pula bermaksiat (benda), dan ada yang diberi potensi beribadah sekaligus bermaksiat (jin dan manusia).
Dari kelompok yang ketiga ini, ada yang memilih maksiat yang disebut setan jin dan setan manusia (QS. Al An'âm: 112) dan ada yang memilih ibadah (mukmin) dan berjihad (mujahid). Dua kelompok ini, sama-sama berjuang untuk mencapai tujuannya masing-masing. Kelompok pertama berjuang dengan mempertuhankan hawa nafsu dan selalu melahirkan kerusakan di muka bumi, sementara kelompok kedua berjuang dengan menyadari akan hakikat dirinya sebagai manusia yang diberi kenikmatan memilih dan berkehendak, serta telah memilih Allah sebagai Tuhan yang mengurus, Islam sebagai agama yang menjadi pegangan, dan Muhammad sebagai rasul yang dijadikan teladan.

Jadi, dalam kehidupan ini tidak lepas dari perjuangan. Hanya tujuan dan cara yang berbeda. Di Palestina sekarang misalnya, ada pejuang Islam melawan tentara biadab Israel yang berakhir dengan permintaan gencatan senjata dari pihak Israel, ini satu gambaran betapa kuatnya pejuang Palestina sekalipun kondisinya serba terbatas, sekaligus menggambarkan betapa kerdilnya Israel sekalipun dengan senjata yang serba canggih, terutama dilihat dari sasaran tembak mereka yang hanya kalangan anak-anak, wanita, dan orang-orang sipil. Ini menggambarkan bahwa Israel bukan hanya lemah, namun juga hanya berani menyerang orang-orang yang lemah.

Sementera itu, di negeri kita, korban-korban berjatuhan setiap hari. Ada korban bunuh diri, mutilasi, tawuran, miras oplosan, gizi buruk, kelaparan, kebakaran, kapal tenggelam, penggusuran, banjir, dan lain-lain. Hakikatnya, semua korban ini adalah pejuang dalam mencari solusi untuk menyelesaikan masalah kehidupan, namun karena perjuangan tersebut tidak memiliki pijakan, tuntunan, dan tujuan akhir yang jelas, maka dampaknya sangat mengerikan.

Oleh karena itu, umat Islam tidak memiliki pilihan selain menjadikan perjuangan tersebut selalu di jalan Allah Swt., bukan karena ambisi dunia, pemuas hawa nafsu, terprovokasi oleh peristiwa-peristiwa yang mengecewakan atau oleh hasutan orang sehingga melahirkan perjuangan yang destruktif dan kontraproduktif, akan tetapi perjuangan yang jelas, rapih, dan kokoh, memberikan kekuatan dan melahirkan pertolongan Allah Swt.

Pendidikan jihad bagi umat Islam perlu ditanamkan sejak usia dini, bahkan sejak pendidikan TK sehingga anak-anak muslim mengenal Rasulullah Saw. dan para sahabatnya yang telah terbukti dapat meyelesaikan persoalan yang rumit di dunia ini dengan baik, sekalipun hanya baru dikenalkan nama serta kebaikannya, sesuai dengan usia mereka. Mereka pun harus dibiasakan berzikir dan berdoa setiap mau melakukan sesuatu, serta diakrabkan dengan kata-kata jihad, seperti dengan nyanyian tentang keindahan jihad, atau berpakaian dengan bertuliskan mujahid kecil dan lain-lain.

Pendidikan seperti ini sangat efektif membangun jiwa anak untuk mencintai jihad dan menyelesaikan masalah dengan baik. Sebagai contoh, ada seorang anak usia TK terjatuh kemudian berdarah. Dia pun tidak menangis. Dan, setelah mencium darahnya, dia pun menangis tersedu-sedu. Ibunya bertanya, “Kenapa menangis?” Anak itu menjawab “Habis, darahnya tidak harum! Padahal kata ibu guru, darah mujahid itu harum.” Akhirnya, ibunyapun ikut menangis karena terharu melihat anaknya sangat mendambakan menjadi mujahid, pejuang dijalan Allah Swt.

BERSAMBUNG...

Semangat Resolusi Amal di Tahun Baru Hijriyah 1430 H (Bagian 3 - Hijrah II)


“ Sesungguhnya, orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah, dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
(Q.S. Al Baqarah: 218)

Edisi sebelumnya membahas tentang iman dan hijrah; iman adalah pembangunan diri sehingga memiliki jiwa yang siap mengemban misi kehidupan sesuai dengan petunjuk Allah swt. dan menempuh jalan yang diridhai-Nya serta hijrah adalah memperbaiki nilai-nilai keimanan agar menjadi kekuatan yang sangat efektif dalam mengemban dakwah di tengah-tengah masyarakat. Di samping itu, hijrah merupakan titik balik kekuatan umat Islam dari kondisi sulit menuju keluasan langkah sehingga panji-panji Islam dengan cepat berkibar di seantero dunia melalui berbagai perjuangan, seperti Badar dan Uhud yang telah dibahas di edisi sebelumnya.

Perang Tabuk
Sejak awal, Kaum Muslimin yang lemah imannya memprediksi bahwa di perang tersebut akan mengalami kekalahan karena terjadi pada musim kemarau panjang, krisis pangan, dan terik matahari yang sangat menyengat, sehingga kaum Muslimin yang sanggup ikut berperang bersama Rasulullah hanya orang-orang yang yakin bahwa iman mereka adalah yang melahirkan kekuatan.

Setelah Allah memenangkan kaum Muslimin dalam perang tersebut, mereka yang tidak ikut berperang berdatangan meminta maaf atas ketidak ikut sertaannya. Di antara mereka ada sahabat senior, yaitu Ka'ab bin Malik. Ketika Ka'ab menyampaikan permohonan maaf bahwa dirinya sedang mengalami krisis iman, Rasul berpaling. Ka'ab pun berulang-ulang menyampaikan permohonan maaf, namun Rasul tetap berpaling. Akhirnya, Ka'ab bertobat kepada Allah swt. dan mengikat dirinya sendiri di benteng sebuah kebun sampai akhirnya turunlah Al Qur'an surah At Taubah ayat 103, “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka. Dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka. Doakanlah mereka. Sesungguhnya, doa kamu itu menjadi ketenteraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Ayat tersebut merupakan jawaban atas tobat Ka'ab sekaligus memberikan tarbiyah (pelajaran) bahwa untuk membersihkan hidup dari orientasi materi menuju tauhid dengan membangun kepedulian terhadap sesama, bukan dengan berebut dunia.

Perang Hunain
Dalam perang tersebut, pasukan Muslimin mencapai 12.000 personil; pasukan yang sangat besar secara jumlah. Namun ternyata, setelah berada di medan peperangan, 11.000 orang lebih lari meninggalkan medan karena ternyata mereka hanyalah orang-orang yang merasa bangga dengan kuantitas. Sampai di antara mereka ada yang berkata, “Pasukan kita hari ini tidak akan terkalahkan karena jumlahnya sangat besar.” Perkataan yang memperlihatkan arogansi keduniaan dan tidak menggambarkan semangat untuk mendapatkan rahmat dan pertolongan Allah swt., sehingga Allah pun membiarkannya.

Setelah pasukan Muslimin bersih dari orang-orang arogan tersebut dan yang tersisa hanya 500-an orang lebih, mereka ternyata dapat menguasai pertempuran dan memenangkannya. Peristiwa ini diabadikan dalam Al Qur'an surah At Taubah ayat 25-26, “Sesungguhnya, Allah telah menolong kamu (wahai mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu pada waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu. Jumlah banyak itu tidak akan memberikan manfaat kepadamu sedikit pun dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai. Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman. Allah menurunkan bala tentara yang kamu tidak melihatnya dan Allah menampakkan bencana kepada orang-orang yang kafir. Demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir.”

Ayat tersebut menjelaskan bahwa kekalahan dalam perang Hunain disebabkan oleh kecongkakan. Setelah orang-orang congkak itu lari, Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan orang-orang beriman. Pertempuran pun berakhir dengan kemenangan bagi Kaum Muslimin.

Ghanimah (harta rampasan) yang berlimpah ruah dari peperangan tersebut dibagikan oleh Rasulullah saw. kepada orang-orang Makkah yang baru saja masuk Islam, sehingga melahirkan kekecewaan di kalangan Anshar yang merasa banyak berjasa dalam peperangan. Akhirnya, muncul desas-desus bahwa Rasulullah saw. telah berpihak kepada keluarganya yang berada di Makkah.

Fitnah tersebut tercium oleh tokoh Anshar, Sa'ad bin Ubadah. Dia pun bertanya kepada Rasulullah saw., “Wahai Rasulullah, golongan kami kecewa terhadapmu karena membagikan harta rampasan hanya kepada orang-orang Makkah.” Rasulullah bertanya, “Dan kamu, wahai Sa'ad, bagaimana pendapatmu mengenai hal itu?” Sa'ad menjawab, “Aku ini, tiada lain hanyalah salah seorang warga kaumku.” Rasulullah bersabda, “Kalau begitu, kumpulkanlah kemari kaummu itu!”

Setelah kaum Anshar berkumpul dan Rasulullah melihat rona wajah mereka, beliau bersabda, ”Wahai kaum Anshar! Segala bisikan dan getaran hati kalian mengenai diriku telah disampaikan kepadaku. Sekarang, aku bertanya kepada kalian, 'Bukankah ketika aku datang kalian sedang sesat, kemudian Allah memberi petunjuk?' Waktu itu, kalian dalam kekurangan, kemudian Allah memberi kecukupan? Kalian selalu bermusuhan, kemudian Allah menanamkan kasih sayang dalam hati kalian?” Mereka serentak menjawab, “Benar” Rasul bertanya lagi, “Tidakkah kalian akan menyanggahku, wahai golongan Anshar?” Mereka menjawab, “Sanggahan apa yang dapat kami sampaikan kepada engkau, wahai Rasulullah?” Rasul bersabda, “Allah Maha Pemurah lagi Maha Pemberi telah mengutus Rasul-Nya. Jika mau, kalian dapat mengatakannya kepadaku dan sanggahan itu pasti benar dan tidak dapat disanggah. Andaikan kalian mengatakan kepadaku, 'Dahulu engkau datang kepada kami dalam kedaan didustakan orang, namun kami sambut dan kami benarkan ucapan engkau. Engkau datang kepada kami dalam keadaan terhina, kami bela dan angkat engkau sebagai pemimpin, engkau datang terhuyung-huyung, kami sambut dan merawat tuan, engkau datang terusir, kami beri tempat perlindungan. Apakah hati kalian kecewa, wahai golongan Anshar, melihat sampah dunia yang kuberikan kepada segolongan manusia untuk menjinakkan hati mereka dalam beragama sementara untuk kalian kuberikan keteguhan keislaman? Tidakkah kalian rela, wahai kaum Anshar, orang-orang itu pulang bersama kambing dan unta, sedangkan kalian pulang bersama Rasulullah ke tanah kalian? Demi Allah yang nyawaku berada di tangan-Nya, jika bukan karena hijrah, tentulah aku termasuk golongan Anshar. Andaikan orang-orang menempuh jalannya sendiri-sendiri, pastilah aku akan mengikuti jalannya orang-orang Anshar. Ya Allah, berilah rahmat bagi kaum Anshar, generasi demi generasi.”

Setelah Rasulullah saw. selesai bersabda dengan penuh lirih tersebut, orang-orang Anshar pun sontak menangis, menyesal, dan bertobat atas kekeliruan orientasi mereka serta memohon maaf kepada Rasulullah saw. Itulah keimanan yang senantiasa bersemi; sebentar layu kemudian bermekaran kembali ketika disiram dengan satu dan dua ayat atau dengan untaian nasihat.

Inilah esensi hijrah bagi orang-orang beriman. Ketika keimanan terkontaminasi oleh fitnah dunia sehingga melahirkan misorientasi, lalu berhijrah kembali kepada iman yang murni, maka lahirlah kekuatan baru.

BERSAMBUNG ...

Semangat Resolusi Amal di Tahun Baru Hijriyah 1430 H (Bagian 2 - Hijrah I)


“ Sesungguhnya, orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah, dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Q.S. Al Baqarah: 218)

Pada bulletin edisi sebelumnya telah dibahas masalah iman, yang senantiasa akan tumbuh subur, bertambah kokoh dan kuat, semakin memberikan hasil dan manfaat, apabila dipupuk, disiram dan dibersihkan sesuai dengan pola dan cara yang dicontohkan oleh Rasulullah saw., ketika membangun umat di tengah-tengah masyarakat Jahiliyah dulu. Yang kemudian berubah menjadi masyarakat Islam yang berorientasi ingin mendapatkan rahmat Allah swt. serta berbagi rahmat dengan sesamanya.

Adapun yang Kedua, berhijrah. Tentang hal ini, umat Islam diingatkan oleh peristiwa empat belas abad silam, ketika Rasulullah saw. bersama para sahabatnya berhijrah dari Makkah ke Madinah, meninggalkan kampung halaman, keluarga, harta kekayaan, bahkan meninggalkan pekerjaan yang menjadi sumber penghasilan, menuju tempat yang baru dengan hanya bermodalkan keimanan yang sudah dibangun bersama Rasulullah saw. serta bergabung dengan orang-orang beriman yang sudah berada di Madinah terlebih dahulu. Sontak saja, Madinah mengalami sebuah revolusi besar, yang tadinya bernama kampung Yastrib, berubah menjadi Madinah Al Munawwarah, kota yang bersinar terang benderang.

Bagi umat Islam, kata hijrah selalu diingatkan oleh Al Qur'an secara berulang-ulang lebih dari 30 kali disebutkan, dengan berbagai macam maknanya, dari mulai yang positif hingga negatif, agar menjadi jiwa mereka, yaitu hijrah kepada Allah dan Rasul-Nya. Karena pada zaman Rasul pun yang berhijrah ke Madinah, tidak disebut hijrah jika tidak dilatar belakangi oleh keimanan. Seperti kasus Muhajir Ummu Qa'is yang berhijrah karena mengejar-ngejar wanita cantik, sampai-sampai Rasulullah mengoreksinya dengan kalimat, “Barangsiapa yang berhijrah karena dunia, dia akan mendapatkannya dan barangsiapa yang berhijrah karena wanita, dia akan menikahinya. Sementara itu, orang yang berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, dia akan sampai hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya.”

Esensi hijrah adalah mencari rahmat dan ridha Allah swt, bukan sekadar perpindahan fisik dari satu tempat ke tempat lain. Apalagi setelah Futuh Makkah, Rasulullah saw. sempat menyampaikan pernyataan, “Tidak ada hijrah (dari Makkah ke Madinah) setelah pembebasan kota Makkah. Akan tetapi yang ada adalah jihad dan niat.”

Melakukan proses pembinaan iman di dalam diri, kemudian menjadi anggota komunitas muslim, yang berupaya untuk membangun kebersamaan amal di jalan Allah swt. adalah satu sarana untuk berhijrah menuju Allah dan Rasul-Nya. Sikap hijrah ini perlu dipertajam secara terus-menerus dengan melakukan perbaikan dalam segala hal dan diperdalam esensinya dengan menjalin komunikasi agar kebersamaan umat Islam menjadi kekuatan efektif dalam meningkatkan kualitas diri dan peningkatan kesejahteraan masyarakat lahir dan bathin. Peristiwa hijrah pada jaman Rasul saw. merupakan peristiwa monumental, yaitu sebagai titik balik dari dakwah yang penuh dengan cobaan, tekanan, dan penderitaan yang dilakukan oleh pihak eksternal, atau ketika mereka masih berada di Makkah, setelah di Madinah mereka berubah menjadi kekuatan yang sangat efektif dan produktif dalam penyebaran dakwah, walau acapkali muncul fitnah internal.

Pada peristiwa Badar misalnya, ketika itu umat Islam dalam kondisi sangat tidak siap untuk bertempur melawan musuh, yang dipimpin Abu Jahal dan kawan-kawan. Karena pada awalnya mereka datang ke Badar hanyalah untuk mengambil kekayaan yang dirampas oleh orang-orang Quraisy ketika mereka berada di Makkah, yakni pada saat orang-orang Quraisy baru saja pulang berniaga dari negeri Syams. Namun ternyata mereka harus berhadapan dengan pasukan tentara yang lengkap dengan persenjataan dan perbekalan, karena Abu Sofyan dan kafilah dagangnya sudah mencium gelagat kaum Muslimin, dengan serta merta sigap melarikan diri ke Makkah dan mengirim pasukan ke Badar. Sementara umat Islam tanpa perbekalan dan persenjataan yang memadai untuk melawan mereka. Tetapi ternyata Allah swt. memberikan kemenangan yang besar kepada umat Islam pada saat itu, dengan mengalahkan musuh dan dianugerahi ghanimah yang berlimpah ruah. Dan ternyata kemenangan gemilang beserta harta rampasan tersebut menjadi fitnah bagi kamu Muslimin, yang hampir saja membuat umat Islam terpecah, anatara kaum muda dengan kaum tua, karena memang pada saat itu kaum muda yang maju berperang, sementara yang tua berjaga-jaga di belakang. Sehingga anak muda merasa paling berhak untuk mendapatkan imbalan jasanya dengan mengambil harta rampasan. Sedangkan yang tua merasa sangat berjasa, karena bersiap-siap untuk memberikan perlawanan kalau para pemuda mendapatkan kekalahan. Perasaan sama-sama berjasa inilah yang sering menjadi fitnah kebersamaan. Selain itu, perasaan paling berhak mendapatkan tanda jasa atau imbalan seringkali menjadi perpecahan.

Tiba-tiba turunlah Al Qur'an, yang terdapat pada surah Al Anfal ayat 1: “Mereka bertanya kepadamu tentang harta rampasan. Katakanlah! Harta rampasan itu milik Allah dan RasulNya. Maka hendaklah bertakwa kepada Allah dan perbaiki hubungan sesama kalian dan ta'atlah kepada Allah dan RasulNya jika kamu adalah orang-orang yang beriman!” Dan ternyata dengan seketika persoalanpun selesai. Keimanan mereka kembali utuh, kebersamaan terjalin kembali dan perjuangan pun dilanjutkan.

Begitupula peristiwa Uhud. Sebelumnya Rasulullah saw. bermusyawah dengan para sahabat, ketika pasukan Musyrikin Quraisy sudah bersiap siaga di bukit Uhud, untuk menggempur Madinah. Rasulullah saw. meminta pendapat para sahabat, apakah bertahan di Madinah dan baru memberikan perlawanan apabila orang-orang Musyrikin Makkah telah menggempurnya, ataukah berangkat ke bukit Uhud untuk memberikan perlawanan di sana. Kaum tua umumnya berpendapat, bahwa bertahan di Madinah lebih baik, namun kaum muda berpendapat, bahwa berangkat ke Uhud lebih baik. Dan pada akhirnya Rasulullah mengambil pendapat mayoritas, yaitu berangkat ke medang Uhud dan memberikan pembekalan kepada para sahabat, menempatkan pasukan berkuda dan pasukan pemanah, serta yang lain-lainnya.

Persiapan ini tidak sia-sia. Kaum Musliminpun menang dengan gemilang. Namun lagi-lagi mereka tergoda dengan harta rampasan. Mereka pun berebut di lapangan, dan di saat itulah pasukan Musyrikin mengambil kesempatan dengan melakukan serangan balik ke tengah-tengah pasukan Muslimin yang sedang berebut ghanimah. Sehingga banyak yang berguguran dari kalangan pejuang-pejuang besar yang mukhlisin; hanya mengharapkan rahmat Allah swt. Di antaranya Hamzah bin Abdul Muthalib; paman Rasulullah yang paling dicintainya, dan Mus'ab bin Umair; seorang pemuda sederhana dan cerdas serta tokoh perintis hijrah di Madinah.

Bahkan Rasulullah saw. sendiri jatuh ke dalam lembah, giginya patah dan mukanya berdarah-darah, sampai tersiar berita bahwa Muhammad telah meninggal dunia. Para sahabat pun panik berlarian ke pinggir medan dan bersembunyi. Mental mereka runtuh, sehingga turunlah surah Ali Imran ayat 139: “Janganlah kamu bersikap lemah! Dan janganlah pula kamu bersedih hati! Padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya, jika kamu orang-orang yang beriman.” Dan tiba-tiba dengan ayat ini ruh iman mereka hidup kembali. Mereka sadar bahwa orang-orang mukmin adalah orang-orang yang sangat tinggi, yang tidak pantas merasa rendah dan sedih.

Sehingga mereka pun berkumpul kembali di medan Uhud, dibariskan oleh Rasulullah saw., dan disiapkan untuk mengejar pasukan Quraisy dalam keadaan penuh luka dan kelelahan secara fisik, sampai-sampai ada yang memenuhi panggilan Rasul dengan merangkak, dengan dipapah bahkan digendong. Namun ruh imannya bersinar-sinar menerangi kehidupannya. Sehingga mereka pun mengikuti Rasulullah mengejar orang-orang kafir Quraisy sampai padang Humaral ul Asad. Bahkan mereka berkemah di sana, di malam harinya membakar api unggun. Sehingga orang-orang kafir Quraisy ketakutan, mengira bahwa pasukan Muslimin bertambah jumlahnya. Dan akhirnya musuhpun lari tunggang langgang. Kemenangan pun diraih kembali. Bukan karena perbekalan materi yang cukup, sejanta yang lengkap dan badan yang sehat, namun karena iman yang disiram oleh ayat Al Qur'an tersebut.
BERSAMBUNG ...

Semangat Resolusi Amal di Tahun Baru Hijriyah 1430 H (Bagian 1 - Iman)


“ Sesungguhnya, orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah, dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
(Q.S. Al Baqarah: 218)

Dalam hitungan beberapa hari lagi, tahun 2008 M, bersamaan dengan tahun 1429 H, akan ditinggalkan oleh kita semua. Sebagai muslim hendaknya memanfaatkan momen akhir tahun ini dengan merenung dan mengevaluasi hasil kerja kita, khususnya selama 1 tahun ke belakang, agar dapat memasuki tahun baru yang akan datang dengan penuh kesadaran dan keinsyafan atas segala kekhilafan dan kekurangan, serta merencanakan amal-amal yang lebih baik, bertambah dan berkelanjutan di masa depan. Adapun bentuk-bentuk amalan yang diamanahkan kepada ummat Islam secara garis besar ada 3 (tiga) hal.

Yang pertama; membangun keimanan, agar kokoh dan kuat, serta tumbuh subur, sehingga menjadi pohon besar, dengan akar yang kuat dan cabang-cabangnya menjulang keangkasa, senantiasa memberikan manfaat bagi diri pribadi dan masyarakat sekitarnya. Dalam hal ini, yaitu dengan senantiasa menyiramnya dengan ilmu pengetahuan, memupuknya dengan dzikir dan ibadah, serta membersihkannya dengan istighfar dan taubat. Ketiga hal ini insya Allah sudah menjadi jiwa dan pribadi kita selama berada dalam komunitas Muslim yang menjalankan ajaran Islam. Sebagaimana pernyataan seorang tokoh antariksawan Amerika yang masuk Islam, karena tertarik dengan orang-orang Muslim Indonesia.

Beliau bernama Mr. Clark, yang setelah masuk Islam namanya berubah menjadi Mr. Ibrahim Clark. Beliau pernah ditanya oleh wartawan tentang keIslamannya: “Mengapa anda masuk Islam ?” Jawabnya: “Karena Islam itu harmonis. Saya memperhatikan orang-orang Islam dan berdialog dengan mereka, ternyata apa yang mereka pikirkan senantiasa memperkuat keyakinan dan keimanannya. Sedangkan keyakinan mereka selalu mendorong untuk terus menerus belajar, sehingga ilmu pengetahuan mereka terus semakin bertambah dan keyakinan mereka terus kuat dan bersih. Dari kekuatan ilmu dan kekuatan keyakinan ini lahirlah aktivitas yang rapih, terencana dan terprogram, sehingga aktivitas mereka sangat konstruktif dan produktif, bermanfaat bagi dirinya dan bagi masyarakat luas. Sementara apa yang mereka lakukan senantiasa menjadi pengalaman berharga yang menambah keluasan ilmu pengetahuan, serta membangun keimanan dan keyakinan. Sedangkan agama saya sebelumnya penuh dengan kontradiktif. Ketika saya masuk rumah ibadah, pikiran tidak boleh dibawa-bawa, karena akan memprotes keyakinan yang tidak difahami. Sedangkan apabila saya bekerja, tidak boleh membawa keyakinan, karena memang agama tidak mengatur masalah pekerjaan.”
Dapat kita bayangkan, ajaran seperti ini tentu saja membuat seseorang, ketika beribadah, menjadi sangat bodoh dan tidak berpikir. Dan ketika bekerja, menjadi sangat nakal, karena tidak melibatkan hati nurani dan keyakinan. Sehingga dampaknya dalam kehidupan adalah kontradiktif dalam segala hal. Mulutnya berbicara tentang agama, namun kehidupannya jauh dari agama.

Sungguh jauh berbeda dengan ajaran Islam, karena ternyata Tarbiyah Imaniyah (pendidikan iman) akan semakin besar dan semakin memberikan hasil, apabila dilaksanakan sesuai dengan tuntunan-tuntunan Al-Qur’an, yang difirmankan oleh Allah Swt dan dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Sebagai buktinya adalah masyarakat Arab jahiliyah, yang terpuruk dalam segala hal, ternyata menjadi orang-orang besar setelah bersyahadat dan mengikuti jejak Rasulullah, yang melaksanakan Al-Qur’an dan diaplikasikannya didalam kehidupan.

Begitu pula para ulama selanjutnya, mereka hadir memberikan kontribusi, mengayomi kehidupan manusia dan memberikan solusi atas berbagai permasalahannya, seperti Umar bin Abdul Aziz, Hasan Al Basri, Solahudin Al Ayubi, bahkan sampai kepada KH. Ahmad Dahlan, KH. Hasyim Ashari, DR. Mohammad Natsir, Prof. DR. HAMKA. Dan insya Allah keimanan ini akan terus melahirkan orang-orang besar yang berkontribusi positif dan konstruktif bagi masyarakat di dunia sampai di akhirat.

Memang kenyataan istimewa yang terjadi selama ini, dalam kehidupan orang-orang beriman, sudah diputuskan oleh Allah Swt sejak 14 abad lewat, di dalam firmannya QS. An-Nahl : 97 yang artinya : “ Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan “ Di dalam ayat ini sangat jelas dan tegas, bahwa amalan orang-orang yang beriman akan senantiasa mengantarkan kepada kehidupan yang baik, tanpa membeda-bedakan siapa pelakunya laki-laki atau wanita, pejabat atau rakyat jelata, turunan orang-orang besar atau bukan, semuanya memiliki kedudukan dan kesempatan yang sama dihadapan Allah Swt. Sehingga sejak Rasul dibangkitkan sampai saat ini, bahkan insya Allah sampai hari kiamat, tidak pernah ada dan tidak pernah akan ada protes kaum perempuan yang menuntut haknya dalam kesetaraan gender, menuntut persamaan hak dan sebagainya. Karena bagi orang beriman persoalan tersebut sudah final, bahkan sudah menjadi kenikmatan bersama dari Allah Swt. Namun yang menjadi persoalan mukminin, bagaimana merumuskan amal di dunia ini agar mencapai kehidupan dunia yang baik dan kehidupan akhirat yang lebih baik.
Untuk mengukur kebaikan suatu amal adalah di lihat dari dua sisi. Pertama; Apakah amal itu diridhoi oleh Allah Swt sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan mencontoh Rasulullah Saw?, dan kedua; Apakah amal itu sesuai dengan kehidupan nyata di lapangan, memberi manfaat kepada dirinya dan masyarakatnya? Oleh karena itu amal shalih tidak bisa dicapai hanya dengan renungan dan khayalan. Jika hanya semata-mata renungan, hal itu akan melahirkan konsep ideal, namun tidak bermanfaat, bahkan hanya menjadi perdebatan dan pertengkaran. Akan tetapi amal shalih merupakan harmonisasi antara keyakinan, pengetahuan dan aktivitasnya di lapangan atau niat yang baik, pemahaman yang utuh dan aktivitas yang terencana, terprogram dan terevaluasi dengan baik. Untuk itulah bulletin akhir tahun edisi kali ini hadir untuk mengevaluasi dan mengintrospeksi keimanan kita sebagai orang yang istimewa yakni orang beriman, sehingga melahirkan harapan dan inisiasi resolutif baru di tahun berikutnya.

Pertanyaannya, Sudah siapkah keimanan kita untuk dijadikan solusi dalam menghadapi berbagai krisis, terutama krisis komunikasi dengan sesama muslim dan mengembalikan segala persoalan secara ikhlas dan ridha kepada Allah swt dan Rasul-Nya ? Kalau jawabannya belum siap, Lalu apakah sudah mempersiapkan diri untuk memiliki keimanan yang dirasakan manis oleh pemeluknya? Seperti sabda Rasul: “Ada tiga hal. Barangsiapa yang tiga hal ini ada padanya, niscaya ia akan merasakan manisnya iman. Pertama; hendaklah Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai daripada yang lainnya. Kedua; hendaklah mencintai seseorang hanya karena cinta kepada Allah swt. Ketiga; hendaklan membenci kekufuran seperti membencinya apabila ia akan dimasukkan ke dalam api neraka.”

Sungguh keimanan tersebut akan sangat kuat dan bermanfaat apabila sudah dirasakan dengan manis seperti ini.

BERSAMBUNG...