Jumat, 30 Januari 2009

Semangat Resolusi Amal di Tahun Baru Hijriyah 1430 H (Bagian 5 - Optimis)


“ Sesungguhnya, orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah, dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Q.S. Al Baqarah: 218)

Imam Ghazali berkata, “Harap dan cemas merupakan dua sayap orang beriman. Dia akan mampu terbang menuju ketinggian derajatnya, ketika kedua sayap tersebut sehat dan berfungsi secara seimbang.” Pernyataan tersebut merupakan apresiasi pemahaman beliau tentang Islam yang mengajarkan agar umat muslim memiliki “ pandangan masa depan yang cerah dan harapan yang positif “ atau yang disebut dengan “optimisme” dalam kehidupan; optimisme yang obyektif, rasional dan realistis, bukan optimisme yang dibangun tanpa landasan dan perbuatan.

Dewasa ini, banyak orang yang membangun optimisme berdasarkan prasangka-prasangka atau bahkan informasi yang tidak jelas. Contoh kasus, ketika Barack Obama menjadi calon kuat Presiden Amerika Serikat dan akhirnya terpilih. Hampir semua orang menaruh harapan kepadanya untuk dapat menyelesaikan krisis dunia, menciptakan perdamaian di Timur Tengah, membangun kesejahteraan masyarakat internasional, bahkan lebih perhatian terhadap situasi dan kondisi negeri tercinta Indonesia ini, dengan dalih dia pernah tinggal di negeri ini.
Kasus lain, banyak orang yang berharap kepada tokoh-tokoh nasional atau kepada partai politik dan lain sebagainya untuk merubah kondisi bangsa. Saking besarnya harapan tersebut, sampai terjadi miskomunikasi antar kelompok, bahkan kontak fisik yang sangat memperihatinkan. Mereka khawatir, kalau bukan kelompoknya yang berkuasa, mereka tidak tentram dan sejahtera.

Bahkan ada sebuah dagelan, tahun 2009 adalah tahun stress dan depresi, karena calon legislatif yang telah menggelontorkan uang milyaran rupiah untuk kampanye, tidak lolos menjadi anggota Legislatif. Sementara itu, masyarakat yang sudah hidup menderita, merasa terabaikan, janji-janji kesejahteraan pun yang sudah disampaikan tidak terbukti. Akhirnya memunculkan kekecewaaan besar dan depresi massal.

Semua itu terjadi akibat kesalahan dalam membangun optimisme dan memberikan harapan-harapan kosong kepada masyarakat. Banyak orang bertanya, apa dosanya menyimpan harapan terhadap figure Presiden AS yang menjadi orang nomor satu di dunia, kepada tokoh-tokoh nasional yang banyak mengobral janji, atau kepada partai politik dan lembaga lainnya? Sesungguhnya, tidak ada yang salah jika harapan dan optimisme tersebut dibangun secara proporsional, obyektif, rasional, dan realistis.

Islam mengajarkan bahwa optimisme seseorang sejatinya lahir dari dalam dirinya, yaitu membangun keyakinan melalui pemahaman yang jelas terhadap jati dirinya sebagai hamba Allah sehingga aktivitas yang lahir dari pemahaman dan keyakinan tersebut benar-benar menciptakan ketenangan dan ketentraman serta menyimpan harapan untuk membangun masa depan yang lebih baik. Setelah itu, dia senantiasa berbenah diri untuk selalu berada dalam keyakinannya, yaitu hidup bersama Allah dan Rasul-Nya. Lalu, dia berjuang dengan sungguh-sungguh untuk menciptakan situasi dan kondisi yang kondusif, yang dimulai dari dirinya sendiri secara bertahap dan bercita-cita agar dunia ini layak mendapatkan ampunan dan kasih sayang-Nya. Kemudian, dia berharap kepada siapa saja yang bersama-sama di jalan Allah untuk menjadi pendukungnya. Barulah setelah itu giliran hal-hal yang lain seperti tokoh, partai dan lembaga-lembaga yang banyak diandalkan orang-orang saat ini, bisa dijadikan harapan dalam membangun optimisme masa depan.

Sebetulnya, bagi orang yang beriman yang senantiasa berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya serta berjuang di jalan-Nya, dunia dan seisinya ini akan menjadi “tentara” Allah yang mendukung perjuangan mereka. Sampai orang kafir sekalipun, hakikatnya adalah tentara Allah yang akan membesarkan kaum Muslimin. Berbagai kajian orientalis tentang Allah dan Rasul, Al Qur'an dan Sunnah merupakan media yang semakin mencerdaskan umat Islam dalam memahami kekeliruan mereka ketika berinteraksi dengan Islam. Hal ini sudah menjadi sebuah aksiomatik.

Kemudian, kebiadaban Israel terhadap Muslim Palestina semakin menyadarkan betapa berbahayanya akidah yang salah terhadap kemanusiaan. Hal ini bukan saja diakui oleh orang-orang Islam, namun juga oleh masyarakat internasional. Hanya saja, persoalannya menjadi kabur jika membangun optimisme tidak dimulai dari dalam diri sendiri, dengan mempertajam fitrah iman, berbenah diri dan berjuang, agar mendapatkan ampunan dan rahmat Allah swt. Sehingga tidak aneh jika ada orang mengaku Muslim namun nyeleneh dengan mengatakan bahwa HAMAS tidak fair, kurang memperhatikan rakyatnya, provokator dan lain sebagainya. Sementara itu, dia memuji-muji Israel sebagi manusia cerdas, pandai berdiplomasi, melobbi, dan mencari dukungan dunia, sekalipun semua itu dilakukan dengan cara-cara kotor. Pada saat yang bersamaan, Barack Obama dijadikan figure sentral dalam membangun optimisme masa depan, padahal berulang kali menyatakan dukungannya secara penuh terhadap negara biadab Zionis Israel.

Inilah yang disebut dengan harapan semu belaka, padahal jaminan Allah bagi orang-orang yang beriman dan berjuang di jalan-Nya adalah Allah Maha Penyayang lagi Maha Pengampun, sebagai jaminan yang pasti dan tidak akan salah, walaupun tidak mustahil dalam perjuangan tersebut ada beberapa kekhilafan yang tidak disengaja.

Contoh kasusnya bisa dilihat di ayat di atas (Al Baqarah: 218). Ayat tersebut turun bersamaan dengan peristiwa Abdullah bin Jahsy dan delapan sahabat lainnya yang mendapatkan perintah dari Rasulullah saw. untuk pergi menyelidiki perbatasan kota Madinah. Di sana mereka melihat tiga orang Quraisy yang mencurigakan. Kemudian dengan seketika Abdullah bin Jahsy dan kawan-kawannya menyerang mereka sehingga salah seorang di antara orang Quraisy tewas dan dua orang lainnya ditawan. Padahal, saat itu sudah memasuki bulan Rajab, bulan yang disepakati oleh masyarakat Arab sebagai bulan bebas dari perang. Ketika mereka tiba di Madinah dan menghadap Rasulullah saw., Rasul pun menegurnya karena tidak pernah memberikan perintah perang. Kemudian, umat Islam pun serempak ikut menyalahkan mereka. Tersiarlah di tengah-tengah masyarakat musyrikin bahwa Muhammad telah menodai bulan suci. Pada saat itulah Abdullah bin Jahsy dan kawan-kawan merasa semakin terdesak. Dalam kondisi seperti itu, turun ayat di atas sebagai jaminan bahwa optimisme umat Islam yang berjuang di jalan Allah, termasuk Abdullah Bin Jahsy dan yang lainnya akan senantiasa mendapatkan rahmat dan ampunan-Nya.

Sungguh sangat berbeda dengan ayat-ayat yang sering kita baca yang berkenaan dengan orang-orang musyrik, yang mengandalkan optimisme bukan dengan berjuang di jalan Allah, namun dengan menyekutukan Allah dan mengandalkan prasangka-prasangka yang tidak realistis dan tidak rasional, seperti kekerasan disebut kecerdasan, orang yang tidak baik dijadikan harapan, dan lain sebagainya. Sehingga sikap hidupnya, sadar atau tidak sadar, telah berpihak kepada perjuangan sebuah pengrusakan, bahkan membela dan mendukungnya.
Ayat yang berkenaan dengan orang-orang seperti ini selalu diakhiri dengan pernyataan, “Allah sangat keras siksaannnya,” atau “Bagi mereka adzab yang sangat pedih,” atau “Mereka adalah penghuni-penghuni Neraka Jahanam yang kekal di dalamnya.”

Betapa indahnya ajaran Islam yang telah terbukti membangun optimisme ummatnya berdasarkan keyakinan yang terpahami dengan baik, karya nyata yang bermanfaat, serta perjuangan untuk mendapatkan rahmat Allah Swt.

Wallahu A'lam. TAMAT.

Tidak ada komentar: