“ Sesungguhnya, orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah, dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Q.S. Al Baqarah: 218)
Pada bulletin edisi sebelumnya telah dibahas masalah iman, yang senantiasa akan tumbuh subur, bertambah kokoh dan kuat, semakin memberikan hasil dan manfaat, apabila dipupuk, disiram dan dibersihkan sesuai dengan pola dan cara yang dicontohkan oleh Rasulullah saw., ketika membangun umat di tengah-tengah masyarakat Jahiliyah dulu. Yang kemudian berubah menjadi masyarakat Islam yang berorientasi ingin mendapatkan rahmat Allah swt. serta berbagi rahmat dengan sesamanya.
Adapun yang Kedua, berhijrah. Tentang hal ini, umat Islam diingatkan oleh peristiwa empat belas abad silam, ketika Rasulullah saw. bersama para sahabatnya berhijrah dari Makkah ke Madinah, meninggalkan kampung halaman, keluarga, harta kekayaan, bahkan meninggalkan pekerjaan yang menjadi sumber penghasilan, menuju tempat yang baru dengan hanya bermodalkan keimanan yang sudah dibangun bersama Rasulullah saw. serta bergabung dengan orang-orang beriman yang sudah berada di Madinah terlebih dahulu. Sontak saja, Madinah mengalami sebuah revolusi besar, yang tadinya bernama kampung Yastrib, berubah menjadi Madinah Al Munawwarah, kota yang bersinar terang benderang.
Bagi umat Islam, kata hijrah selalu diingatkan oleh Al Qur'an secara berulang-ulang lebih dari 30 kali disebutkan, dengan berbagai macam maknanya, dari mulai yang positif hingga negatif, agar menjadi jiwa mereka, yaitu hijrah kepada Allah dan Rasul-Nya. Karena pada zaman Rasul pun yang berhijrah ke Madinah, tidak disebut hijrah jika tidak dilatar belakangi oleh keimanan. Seperti kasus Muhajir Ummu Qa'is yang berhijrah karena mengejar-ngejar wanita cantik, sampai-sampai Rasulullah mengoreksinya dengan kalimat, “Barangsiapa yang berhijrah karena dunia, dia akan mendapatkannya dan barangsiapa yang berhijrah karena wanita, dia akan menikahinya. Sementara itu, orang yang berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, dia akan sampai hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya.”
Esensi hijrah adalah mencari rahmat dan ridha Allah swt, bukan sekadar perpindahan fisik dari satu tempat ke tempat lain. Apalagi setelah Futuh Makkah, Rasulullah saw. sempat menyampaikan pernyataan, “Tidak ada hijrah (dari Makkah ke Madinah) setelah pembebasan kota Makkah. Akan tetapi yang ada adalah jihad dan niat.”
Melakukan proses pembinaan iman di dalam diri, kemudian menjadi anggota komunitas muslim, yang berupaya untuk membangun kebersamaan amal di jalan Allah swt. adalah satu sarana untuk berhijrah menuju Allah dan Rasul-Nya. Sikap hijrah ini perlu dipertajam secara terus-menerus dengan melakukan perbaikan dalam segala hal dan diperdalam esensinya dengan menjalin komunikasi agar kebersamaan umat Islam menjadi kekuatan efektif dalam meningkatkan kualitas diri dan peningkatan kesejahteraan masyarakat lahir dan bathin. Peristiwa hijrah pada jaman Rasul saw. merupakan peristiwa monumental, yaitu sebagai titik balik dari dakwah yang penuh dengan cobaan, tekanan, dan penderitaan yang dilakukan oleh pihak eksternal, atau ketika mereka masih berada di Makkah, setelah di Madinah mereka berubah menjadi kekuatan yang sangat efektif dan produktif dalam penyebaran dakwah, walau acapkali muncul fitnah internal.
Pada peristiwa Badar misalnya, ketika itu umat Islam dalam kondisi sangat tidak siap untuk bertempur melawan musuh, yang dipimpin Abu Jahal dan kawan-kawan. Karena pada awalnya mereka datang ke Badar hanyalah untuk mengambil kekayaan yang dirampas oleh orang-orang Quraisy ketika mereka berada di Makkah, yakni pada saat orang-orang Quraisy baru saja pulang berniaga dari negeri Syams. Namun ternyata mereka harus berhadapan dengan pasukan tentara yang lengkap dengan persenjataan dan perbekalan, karena Abu Sofyan dan kafilah dagangnya sudah mencium gelagat kaum Muslimin, dengan serta merta sigap melarikan diri ke Makkah dan mengirim pasukan ke Badar. Sementara umat Islam tanpa perbekalan dan persenjataan yang memadai untuk melawan mereka. Tetapi ternyata Allah swt. memberikan kemenangan yang besar kepada umat Islam pada saat itu, dengan mengalahkan musuh dan dianugerahi ghanimah yang berlimpah ruah. Dan ternyata kemenangan gemilang beserta harta rampasan tersebut menjadi fitnah bagi kamu Muslimin, yang hampir saja membuat umat Islam terpecah, anatara kaum muda dengan kaum tua, karena memang pada saat itu kaum muda yang maju berperang, sementara yang tua berjaga-jaga di belakang. Sehingga anak muda merasa paling berhak untuk mendapatkan imbalan jasanya dengan mengambil harta rampasan. Sedangkan yang tua merasa sangat berjasa, karena bersiap-siap untuk memberikan perlawanan kalau para pemuda mendapatkan kekalahan. Perasaan sama-sama berjasa inilah yang sering menjadi fitnah kebersamaan. Selain itu, perasaan paling berhak mendapatkan tanda jasa atau imbalan seringkali menjadi perpecahan.
Tiba-tiba turunlah Al Qur'an, yang terdapat pada surah Al Anfal ayat 1: “Mereka bertanya kepadamu tentang harta rampasan. Katakanlah! Harta rampasan itu milik Allah dan RasulNya. Maka hendaklah bertakwa kepada Allah dan perbaiki hubungan sesama kalian dan ta'atlah kepada Allah dan RasulNya jika kamu adalah orang-orang yang beriman!” Dan ternyata dengan seketika persoalanpun selesai. Keimanan mereka kembali utuh, kebersamaan terjalin kembali dan perjuangan pun dilanjutkan.
Begitupula peristiwa Uhud. Sebelumnya Rasulullah saw. bermusyawah dengan para sahabat, ketika pasukan Musyrikin Quraisy sudah bersiap siaga di bukit Uhud, untuk menggempur Madinah. Rasulullah saw. meminta pendapat para sahabat, apakah bertahan di Madinah dan baru memberikan perlawanan apabila orang-orang Musyrikin Makkah telah menggempurnya, ataukah berangkat ke bukit Uhud untuk memberikan perlawanan di sana. Kaum tua umumnya berpendapat, bahwa bertahan di Madinah lebih baik, namun kaum muda berpendapat, bahwa berangkat ke Uhud lebih baik. Dan pada akhirnya Rasulullah mengambil pendapat mayoritas, yaitu berangkat ke medang Uhud dan memberikan pembekalan kepada para sahabat, menempatkan pasukan berkuda dan pasukan pemanah, serta yang lain-lainnya.
Persiapan ini tidak sia-sia. Kaum Musliminpun menang dengan gemilang. Namun lagi-lagi mereka tergoda dengan harta rampasan. Mereka pun berebut di lapangan, dan di saat itulah pasukan Musyrikin mengambil kesempatan dengan melakukan serangan balik ke tengah-tengah pasukan Muslimin yang sedang berebut ghanimah. Sehingga banyak yang berguguran dari kalangan pejuang-pejuang besar yang mukhlisin; hanya mengharapkan rahmat Allah swt. Di antaranya Hamzah bin Abdul Muthalib; paman Rasulullah yang paling dicintainya, dan Mus'ab bin Umair; seorang pemuda sederhana dan cerdas serta tokoh perintis hijrah di Madinah.
Bahkan Rasulullah saw. sendiri jatuh ke dalam lembah, giginya patah dan mukanya berdarah-darah, sampai tersiar berita bahwa Muhammad telah meninggal dunia. Para sahabat pun panik berlarian ke pinggir medan dan bersembunyi. Mental mereka runtuh, sehingga turunlah surah Ali Imran ayat 139: “Janganlah kamu bersikap lemah! Dan janganlah pula kamu bersedih hati! Padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya, jika kamu orang-orang yang beriman.” Dan tiba-tiba dengan ayat ini ruh iman mereka hidup kembali. Mereka sadar bahwa orang-orang mukmin adalah orang-orang yang sangat tinggi, yang tidak pantas merasa rendah dan sedih.
Sehingga mereka pun berkumpul kembali di medan Uhud, dibariskan oleh Rasulullah saw., dan disiapkan untuk mengejar pasukan Quraisy dalam keadaan penuh luka dan kelelahan secara fisik, sampai-sampai ada yang memenuhi panggilan Rasul dengan merangkak, dengan dipapah bahkan digendong. Namun ruh imannya bersinar-sinar menerangi kehidupannya. Sehingga mereka pun mengikuti Rasulullah mengejar orang-orang kafir Quraisy sampai padang Humaral ul Asad. Bahkan mereka berkemah di sana, di malam harinya membakar api unggun. Sehingga orang-orang kafir Quraisy ketakutan, mengira bahwa pasukan Muslimin bertambah jumlahnya. Dan akhirnya musuhpun lari tunggang langgang. Kemenangan pun diraih kembali. Bukan karena perbekalan materi yang cukup, sejanta yang lengkap dan badan yang sehat, namun karena iman yang disiram oleh ayat Al Qur'an tersebut.
BERSAMBUNG ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar