Jumat, 30 Januari 2009

Semangat Resolusi Amal di Tahun Baru Hijriyah 1430 H (Bagian 1 - Iman)


“ Sesungguhnya, orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah, dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
(Q.S. Al Baqarah: 218)

Dalam hitungan beberapa hari lagi, tahun 2008 M, bersamaan dengan tahun 1429 H, akan ditinggalkan oleh kita semua. Sebagai muslim hendaknya memanfaatkan momen akhir tahun ini dengan merenung dan mengevaluasi hasil kerja kita, khususnya selama 1 tahun ke belakang, agar dapat memasuki tahun baru yang akan datang dengan penuh kesadaran dan keinsyafan atas segala kekhilafan dan kekurangan, serta merencanakan amal-amal yang lebih baik, bertambah dan berkelanjutan di masa depan. Adapun bentuk-bentuk amalan yang diamanahkan kepada ummat Islam secara garis besar ada 3 (tiga) hal.

Yang pertama; membangun keimanan, agar kokoh dan kuat, serta tumbuh subur, sehingga menjadi pohon besar, dengan akar yang kuat dan cabang-cabangnya menjulang keangkasa, senantiasa memberikan manfaat bagi diri pribadi dan masyarakat sekitarnya. Dalam hal ini, yaitu dengan senantiasa menyiramnya dengan ilmu pengetahuan, memupuknya dengan dzikir dan ibadah, serta membersihkannya dengan istighfar dan taubat. Ketiga hal ini insya Allah sudah menjadi jiwa dan pribadi kita selama berada dalam komunitas Muslim yang menjalankan ajaran Islam. Sebagaimana pernyataan seorang tokoh antariksawan Amerika yang masuk Islam, karena tertarik dengan orang-orang Muslim Indonesia.

Beliau bernama Mr. Clark, yang setelah masuk Islam namanya berubah menjadi Mr. Ibrahim Clark. Beliau pernah ditanya oleh wartawan tentang keIslamannya: “Mengapa anda masuk Islam ?” Jawabnya: “Karena Islam itu harmonis. Saya memperhatikan orang-orang Islam dan berdialog dengan mereka, ternyata apa yang mereka pikirkan senantiasa memperkuat keyakinan dan keimanannya. Sedangkan keyakinan mereka selalu mendorong untuk terus menerus belajar, sehingga ilmu pengetahuan mereka terus semakin bertambah dan keyakinan mereka terus kuat dan bersih. Dari kekuatan ilmu dan kekuatan keyakinan ini lahirlah aktivitas yang rapih, terencana dan terprogram, sehingga aktivitas mereka sangat konstruktif dan produktif, bermanfaat bagi dirinya dan bagi masyarakat luas. Sementara apa yang mereka lakukan senantiasa menjadi pengalaman berharga yang menambah keluasan ilmu pengetahuan, serta membangun keimanan dan keyakinan. Sedangkan agama saya sebelumnya penuh dengan kontradiktif. Ketika saya masuk rumah ibadah, pikiran tidak boleh dibawa-bawa, karena akan memprotes keyakinan yang tidak difahami. Sedangkan apabila saya bekerja, tidak boleh membawa keyakinan, karena memang agama tidak mengatur masalah pekerjaan.”
Dapat kita bayangkan, ajaran seperti ini tentu saja membuat seseorang, ketika beribadah, menjadi sangat bodoh dan tidak berpikir. Dan ketika bekerja, menjadi sangat nakal, karena tidak melibatkan hati nurani dan keyakinan. Sehingga dampaknya dalam kehidupan adalah kontradiktif dalam segala hal. Mulutnya berbicara tentang agama, namun kehidupannya jauh dari agama.

Sungguh jauh berbeda dengan ajaran Islam, karena ternyata Tarbiyah Imaniyah (pendidikan iman) akan semakin besar dan semakin memberikan hasil, apabila dilaksanakan sesuai dengan tuntunan-tuntunan Al-Qur’an, yang difirmankan oleh Allah Swt dan dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Sebagai buktinya adalah masyarakat Arab jahiliyah, yang terpuruk dalam segala hal, ternyata menjadi orang-orang besar setelah bersyahadat dan mengikuti jejak Rasulullah, yang melaksanakan Al-Qur’an dan diaplikasikannya didalam kehidupan.

Begitu pula para ulama selanjutnya, mereka hadir memberikan kontribusi, mengayomi kehidupan manusia dan memberikan solusi atas berbagai permasalahannya, seperti Umar bin Abdul Aziz, Hasan Al Basri, Solahudin Al Ayubi, bahkan sampai kepada KH. Ahmad Dahlan, KH. Hasyim Ashari, DR. Mohammad Natsir, Prof. DR. HAMKA. Dan insya Allah keimanan ini akan terus melahirkan orang-orang besar yang berkontribusi positif dan konstruktif bagi masyarakat di dunia sampai di akhirat.

Memang kenyataan istimewa yang terjadi selama ini, dalam kehidupan orang-orang beriman, sudah diputuskan oleh Allah Swt sejak 14 abad lewat, di dalam firmannya QS. An-Nahl : 97 yang artinya : “ Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan “ Di dalam ayat ini sangat jelas dan tegas, bahwa amalan orang-orang yang beriman akan senantiasa mengantarkan kepada kehidupan yang baik, tanpa membeda-bedakan siapa pelakunya laki-laki atau wanita, pejabat atau rakyat jelata, turunan orang-orang besar atau bukan, semuanya memiliki kedudukan dan kesempatan yang sama dihadapan Allah Swt. Sehingga sejak Rasul dibangkitkan sampai saat ini, bahkan insya Allah sampai hari kiamat, tidak pernah ada dan tidak pernah akan ada protes kaum perempuan yang menuntut haknya dalam kesetaraan gender, menuntut persamaan hak dan sebagainya. Karena bagi orang beriman persoalan tersebut sudah final, bahkan sudah menjadi kenikmatan bersama dari Allah Swt. Namun yang menjadi persoalan mukminin, bagaimana merumuskan amal di dunia ini agar mencapai kehidupan dunia yang baik dan kehidupan akhirat yang lebih baik.
Untuk mengukur kebaikan suatu amal adalah di lihat dari dua sisi. Pertama; Apakah amal itu diridhoi oleh Allah Swt sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan mencontoh Rasulullah Saw?, dan kedua; Apakah amal itu sesuai dengan kehidupan nyata di lapangan, memberi manfaat kepada dirinya dan masyarakatnya? Oleh karena itu amal shalih tidak bisa dicapai hanya dengan renungan dan khayalan. Jika hanya semata-mata renungan, hal itu akan melahirkan konsep ideal, namun tidak bermanfaat, bahkan hanya menjadi perdebatan dan pertengkaran. Akan tetapi amal shalih merupakan harmonisasi antara keyakinan, pengetahuan dan aktivitasnya di lapangan atau niat yang baik, pemahaman yang utuh dan aktivitas yang terencana, terprogram dan terevaluasi dengan baik. Untuk itulah bulletin akhir tahun edisi kali ini hadir untuk mengevaluasi dan mengintrospeksi keimanan kita sebagai orang yang istimewa yakni orang beriman, sehingga melahirkan harapan dan inisiasi resolutif baru di tahun berikutnya.

Pertanyaannya, Sudah siapkah keimanan kita untuk dijadikan solusi dalam menghadapi berbagai krisis, terutama krisis komunikasi dengan sesama muslim dan mengembalikan segala persoalan secara ikhlas dan ridha kepada Allah swt dan Rasul-Nya ? Kalau jawabannya belum siap, Lalu apakah sudah mempersiapkan diri untuk memiliki keimanan yang dirasakan manis oleh pemeluknya? Seperti sabda Rasul: “Ada tiga hal. Barangsiapa yang tiga hal ini ada padanya, niscaya ia akan merasakan manisnya iman. Pertama; hendaklah Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai daripada yang lainnya. Kedua; hendaklah mencintai seseorang hanya karena cinta kepada Allah swt. Ketiga; hendaklan membenci kekufuran seperti membencinya apabila ia akan dimasukkan ke dalam api neraka.”

Sungguh keimanan tersebut akan sangat kuat dan bermanfaat apabila sudah dirasakan dengan manis seperti ini.

BERSAMBUNG...

Tidak ada komentar: