“ Sesungguhnya, orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah, dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
(Q.S. Al Baqarah: 218)
(Q.S. Al Baqarah: 218)
Edisi sebelumnya membahas tentang iman dan hijrah; iman adalah pembangunan diri sehingga memiliki jiwa yang siap mengemban misi kehidupan sesuai dengan petunjuk Allah swt. dan menempuh jalan yang diridhai-Nya serta hijrah adalah memperbaiki nilai-nilai keimanan agar menjadi kekuatan yang sangat efektif dalam mengemban dakwah di tengah-tengah masyarakat. Di samping itu, hijrah merupakan titik balik kekuatan umat Islam dari kondisi sulit menuju keluasan langkah sehingga panji-panji Islam dengan cepat berkibar di seantero dunia melalui berbagai perjuangan, seperti Badar dan Uhud yang telah dibahas di edisi sebelumnya.
Perang Tabuk
Sejak awal, Kaum Muslimin yang lemah imannya memprediksi bahwa di perang tersebut akan mengalami kekalahan karena terjadi pada musim kemarau panjang, krisis pangan, dan terik matahari yang sangat menyengat, sehingga kaum Muslimin yang sanggup ikut berperang bersama Rasulullah hanya orang-orang yang yakin bahwa iman mereka adalah yang melahirkan kekuatan.
Setelah Allah memenangkan kaum Muslimin dalam perang tersebut, mereka yang tidak ikut berperang berdatangan meminta maaf atas ketidak ikut sertaannya. Di antara mereka ada sahabat senior, yaitu Ka'ab bin Malik. Ketika Ka'ab menyampaikan permohonan maaf bahwa dirinya sedang mengalami krisis iman, Rasul berpaling. Ka'ab pun berulang-ulang menyampaikan permohonan maaf, namun Rasul tetap berpaling. Akhirnya, Ka'ab bertobat kepada Allah swt. dan mengikat dirinya sendiri di benteng sebuah kebun sampai akhirnya turunlah Al Qur'an surah At Taubah ayat 103, “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka. Dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka. Doakanlah mereka. Sesungguhnya, doa kamu itu menjadi ketenteraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
Ayat tersebut merupakan jawaban atas tobat Ka'ab sekaligus memberikan tarbiyah (pelajaran) bahwa untuk membersihkan hidup dari orientasi materi menuju tauhid dengan membangun kepedulian terhadap sesama, bukan dengan berebut dunia.
Perang Hunain
Dalam perang tersebut, pasukan Muslimin mencapai 12.000 personil; pasukan yang sangat besar secara jumlah. Namun ternyata, setelah berada di medan peperangan, 11.000 orang lebih lari meninggalkan medan karena ternyata mereka hanyalah orang-orang yang merasa bangga dengan kuantitas. Sampai di antara mereka ada yang berkata, “Pasukan kita hari ini tidak akan terkalahkan karena jumlahnya sangat besar.” Perkataan yang memperlihatkan arogansi keduniaan dan tidak menggambarkan semangat untuk mendapatkan rahmat dan pertolongan Allah swt., sehingga Allah pun membiarkannya.
Setelah pasukan Muslimin bersih dari orang-orang arogan tersebut dan yang tersisa hanya 500-an orang lebih, mereka ternyata dapat menguasai pertempuran dan memenangkannya. Peristiwa ini diabadikan dalam Al Qur'an surah At Taubah ayat 25-26, “Sesungguhnya, Allah telah menolong kamu (wahai mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu pada waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu. Jumlah banyak itu tidak akan memberikan manfaat kepadamu sedikit pun dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai. Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman. Allah menurunkan bala tentara yang kamu tidak melihatnya dan Allah menampakkan bencana kepada orang-orang yang kafir. Demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir.”
Ayat tersebut menjelaskan bahwa kekalahan dalam perang Hunain disebabkan oleh kecongkakan. Setelah orang-orang congkak itu lari, Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan orang-orang beriman. Pertempuran pun berakhir dengan kemenangan bagi Kaum Muslimin.
Ghanimah (harta rampasan) yang berlimpah ruah dari peperangan tersebut dibagikan oleh Rasulullah saw. kepada orang-orang Makkah yang baru saja masuk Islam, sehingga melahirkan kekecewaan di kalangan Anshar yang merasa banyak berjasa dalam peperangan. Akhirnya, muncul desas-desus bahwa Rasulullah saw. telah berpihak kepada keluarganya yang berada di Makkah.
Fitnah tersebut tercium oleh tokoh Anshar, Sa'ad bin Ubadah. Dia pun bertanya kepada Rasulullah saw., “Wahai Rasulullah, golongan kami kecewa terhadapmu karena membagikan harta rampasan hanya kepada orang-orang Makkah.” Rasulullah bertanya, “Dan kamu, wahai Sa'ad, bagaimana pendapatmu mengenai hal itu?” Sa'ad menjawab, “Aku ini, tiada lain hanyalah salah seorang warga kaumku.” Rasulullah bersabda, “Kalau begitu, kumpulkanlah kemari kaummu itu!”
Setelah kaum Anshar berkumpul dan Rasulullah melihat rona wajah mereka, beliau bersabda, ”Wahai kaum Anshar! Segala bisikan dan getaran hati kalian mengenai diriku telah disampaikan kepadaku. Sekarang, aku bertanya kepada kalian, 'Bukankah ketika aku datang kalian sedang sesat, kemudian Allah memberi petunjuk?' Waktu itu, kalian dalam kekurangan, kemudian Allah memberi kecukupan? Kalian selalu bermusuhan, kemudian Allah menanamkan kasih sayang dalam hati kalian?” Mereka serentak menjawab, “Benar” Rasul bertanya lagi, “Tidakkah kalian akan menyanggahku, wahai golongan Anshar?” Mereka menjawab, “Sanggahan apa yang dapat kami sampaikan kepada engkau, wahai Rasulullah?” Rasul bersabda, “Allah Maha Pemurah lagi Maha Pemberi telah mengutus Rasul-Nya. Jika mau, kalian dapat mengatakannya kepadaku dan sanggahan itu pasti benar dan tidak dapat disanggah. Andaikan kalian mengatakan kepadaku, 'Dahulu engkau datang kepada kami dalam kedaan didustakan orang, namun kami sambut dan kami benarkan ucapan engkau. Engkau datang kepada kami dalam keadaan terhina, kami bela dan angkat engkau sebagai pemimpin, engkau datang terhuyung-huyung, kami sambut dan merawat tuan, engkau datang terusir, kami beri tempat perlindungan. Apakah hati kalian kecewa, wahai golongan Anshar, melihat sampah dunia yang kuberikan kepada segolongan manusia untuk menjinakkan hati mereka dalam beragama sementara untuk kalian kuberikan keteguhan keislaman? Tidakkah kalian rela, wahai kaum Anshar, orang-orang itu pulang bersama kambing dan unta, sedangkan kalian pulang bersama Rasulullah ke tanah kalian? Demi Allah yang nyawaku berada di tangan-Nya, jika bukan karena hijrah, tentulah aku termasuk golongan Anshar. Andaikan orang-orang menempuh jalannya sendiri-sendiri, pastilah aku akan mengikuti jalannya orang-orang Anshar. Ya Allah, berilah rahmat bagi kaum Anshar, generasi demi generasi.”
Setelah Rasulullah saw. selesai bersabda dengan penuh lirih tersebut, orang-orang Anshar pun sontak menangis, menyesal, dan bertobat atas kekeliruan orientasi mereka serta memohon maaf kepada Rasulullah saw. Itulah keimanan yang senantiasa bersemi; sebentar layu kemudian bermekaran kembali ketika disiram dengan satu dan dua ayat atau dengan untaian nasihat.
Inilah esensi hijrah bagi orang-orang beriman. Ketika keimanan terkontaminasi oleh fitnah dunia sehingga melahirkan misorientasi, lalu berhijrah kembali kepada iman yang murni, maka lahirlah kekuatan baru.
BERSAMBUNG ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar