Sabtu, 15 Agustus 2009

Menggapai Taqwa Melalui Ramadhan


Oleh : Ustd. H. Zenal Satiawan, Lc

“Hai Orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agara kalian bertakwa”
(QS. Al-Baqarah: 183)

Ayat ini diturunkan pada akhir bulan Sya'ban tahun kedua Hijriyah. Sebagai pertanda diwajibkannya puasa Ramadhan. Setelah puasa Ramadhan diwajibkan, Rasulullah Saw. bersabda tentang puasa 'Asyura yang pernah dilakukan sebelumnya: "Barang siapa yang ingin berpuasa pada hari Asyura maka puasalah dan barang siapa yang hendak berbuka maka berbukalah.”

Rasulullah Saw. sempat berpuasa Ramadan selama hidupnya sebanyak sembilan kali. Delapan kali dengan dua puluh sembilan hari dan sekali saja puasa penuh tiga puluh hari. Riwayat lain sebanyak dua kali puasa penuh tiga puluh hari.

Imam Al-Qurtubi di dalam tafsirnya "Al-Jami' li Ahkamil Quran" menjelaskan bahwa Allah telah mewajibkan puasa Ramadan atas umat Nabi Musa dan Nabi Isa, tetapi kemudian mereka mengubah ketetapan Allah dengan menambah sepuluh hari lagi sebagai nazar pendeta mereka yang telah sembuh dari sakitnya, maka jadilah puasa orang-orang Nasrani empat puluh hari. Dan ketika bulan Ramadan jatuh di musim panas mereka memindahkan kewajiban puasa ke musim dingin. Di tengah pelaksanaan puasa ada sebagian pendeta yang menderita sebuah penyakit dan bernazar jika dia sembuh dari sakitnya ia akan menambah sepuluh hari lagi, hingga puasa mereka menjadi lima puluh hari.

Imam Mujahid meriwayatkan bahwa Allah telah mewajibkan puasa atas setiap umat. Pendapat ini dikuatkan lagi dengan kata-kata Rashid Ridha bahwa "puasa ini pernah dilakukan oleh orang-orang Arab sebelum Islam." Sebagaimana diriwayatkan dari Aisyah r.a. bahwa orang-orang Quraisy juga berpuasa pada hari Asyura. Setelah Nabi berhijrah ke Madinah, Nabi Saw. juga mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura, maka Nabi turut berpuasa dan diikuti oleh para sahabat.

Ada empat bentuk puasa yang telah dilakukan oleh umat terdahulu, yaitu: Pertama, puasa orang-orang sufi, yakni praktik puasa yang dilaksanakan setiap hari dengan maksud menambah pahala. Misalnya puasa para pendeta. Kedua, puasa bicara, seperti puasa kaum Yahudi. Sebagaimana yang telah dikisahkan Allah dalam surat Maryam ayat 26: "Jika kamu (Maryam) melihat seorang manusia, maka katakanlah, sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini." Ketiga, Puasa dari seluruh atau sebagian perbuatan (bertapa), seperti puasa yang dilakukan oleh pemeluk agama Budha dan sebagian umat Yahudi.

Sedang kewajiban puasa dalam Islam, mempunyai aturan yang berbeda dari puasa kaum sebelumnya, baik dalam tata cara maupun waktu pelaksanaan. Tidak terlalu ketat sehingga memberatkan kaum muslimin, juga tidak terlalu longgar sehingga mengabaikan aspek kejiwaan.

Di akhir ayat tersebut Allah menyebutkan kalimat "la'allakum tattaquun", yang mengandung arti bahwa tujuan utama dari pensyariatan puasa Ramadan adalah membentuk pribadi bertakwa. Dan derajat ini tidak bisa dicapai kecuali oleh orang-orang yang bersungguh dalam melaksanakan puasa.

. Imam Abu Hamid al-Ghazali dalam bukunya Ihya al-'Ulumuddin membagi puasa kepada tiga tingkatan: pertama, puasanya orang awam (shaum al-'umum), yaitu menahan diri dari perkara-perkara yang membatalkan puasa seperti makan dan minum. Kedua, puasanya orang khusus (shaum al-khusus), yakni turut berpuasa dari panca indera dan seluruh badan dari segala bentuk dosa. Ketiga, puasanya orang istimewa, super khusus (shaum al-khawasi al-khawas), yaitu puasa yang disertai puasa hati nurani, tidak memikirkan hal-hal yang bisa membuka pintu dosa.

Ibnu Rajab menyebutkan bahwa puasa mempunyai beberapa manfaat disamping tujuan utama, diantaranya adalah: pertama, mematahkan nafsu. Karena berlebihan, baik dalam makan maupun minum serta menggauli isteri, bisa mendorong nafsu berbuat kejahatan, enggan mensyukuri nikmat serta mengakibatkan kelengahan.

Kedua, mengosongkan hati hanya untuk berfikir dan berzikir. Sebaliknya, jika berbagai nafsu syahwat itu dituruti maka bisa mengeraskan dan membutakan hati, selanjutnya menghalangi hati untuk berzikir dan berfikir, sehingga membuatnya lengah. Berbeda halnya jika perut kosong dari makanan dan minuman, akan menyebabkan hati bercahaya dan lunak, kekerasan hati sirna, untuk kemudian semata-mata dimanfaatkan untuk berzikir dan berfikir

Ketiga, orang kaya menjadi tahu seberapa besar nikmat Allah atas dirinya. Allah mengaruniainya nikmat tak terhingga, pada saat yang sama banyak orang-orang miskin yang tak mendapatkan sisa-sisa makanan, minuman dan tidak mampu menikah. Dengan terhalangnya dia dari menikmati hal-hal tersebut pada saat-saat tertentu, serta rasa berat yang ia hadapi karenanya. Keadaan itu akan mengingatkannya kepada orang-orang yang sama sekali tak dapat menikmatinya. Ini akan mengharuskannya mensyukuri nikmat Allah atas dirinya yang serba kecukupan, juga akan menjadikannya berbelas kasih kepada saudaranya yang memerlukan, dan mendorongnya untuk membantu mereka.

Keempat, mempersempit jalan aliran darah yang merupakan jalan setan pada diri anak Adam. Karena setan masuk kepada anak Adam melalui jalan aliran darah. Dengan berpuasa, maka dia aman dari gangguan setan, kekuatan nafsu syahwat dan kemarahan. Karena itu Nabi Saw. menjadikan puasa sebagai benteng untuk menghalangi nafsu syahwat, sehingga Beliau memerintah orang yang belum mampu menikah agar berpuasa. Adapun manfaat-manfaat tersebut bisa dikatakan merupakan hikmah sampingan puasa. Sedangkan tujuan utama dari puasa adalah membentuk pribadi yang bertakwa.

Puasa yang disyari'atkan adalah puasanya anggota badan dari dosa-dosa, dan puasanya perut dari makan dan mimum. Sebagaimana makan dan minum membatalkan dan merusak puasa, demikian pula halnya dengan dosa-dosa, ia memangkas pahala puasa dan merusak buahnya, sehingga memposisikannya pada kedudukan orang yang tidak berpuasa.

Karena itu, orang yang benar-benar berpuasa adalah orang yang puasa segenap anggota badannya dari melakukan dosa-dosa; lisannya berpuasa dari dusta, kekejian dan mengada-ada; perutnya berpuasa dari makan dan minum; kemaluannya berpuasa dari bersenggama.

Bila berbicara, ia tidak berbicara dengan sesuatu yang menodai puasanya, bila melakukan suatu pekerjaan ia tidak melakukan sesuatu yang merusak puasanya. Ucapan yang keluar darinya selalu bermanfaat dan baik, demikian pula dengan amal perbuatannya. Ia laksana wangi minyak kesturi, yang tercium oleh orang yang bergaul dengan pembawa minyak tersebut. Itulah metafor (perumpamaan) bergaul dengan orang yang berpuasa, ia akan mengambil manfaat dari bergaul dengannya, aman dari kepalsuan, dusta, kejahatan dan kezhaliman.

Dalam hadits riwayat Imam Ahmad disebutkan :"Dan sesungguhnya ban (mulut) orang puasa itu lebih harum di sisi AIlah daripada aroma minyak kesturi." (HR. At-Tirmidzi dan ia berkata, hadits hasan shahih gharib). Inilah puasa yang disyari'atkan. Tidak sekedar menahan diri dari makan dan minum. Dalam sebuah menahan diri dari makan dan minum. Dalam hadits shahih disebutkan : "Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta serta kedunguan maka Allah tidak butuh terhadap puasanya dari makan dan minum .(HR. Al-Bukhari, Ahmad dan lainnya). Dalam hadits lain dikatakan :"Betapa banyak orang puasa, bagian dari puasanya (hanya) lapar dan dahaga. " (HR. Ahmad, hadits hasan shahih) (Dan ia menshahihkan hadits ini).

Adapun jalan menuju takwa yang dipaparkan dalam surat Ali Imran ayat 134-136 adalah menafkahkan harta (baik di waktu lapang maupun sempit), menahan amarah, memaafkan kesalahan orang lain dan bersegera bertaubat dan kembali mengingat keagungan Allah tatkala terpaksa melakukan sebuah kemaksiatan.

Bagi mereka yang berhasil mencapai tangga takwa, Allah telah menyediakan ampunan dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai sedang penghuninya kekal di dalamnya. Dan hal itu adalah sebaik-baik balasan bagi orang yang beramal.Diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, bahwa Nabi bersabda: "Setiap amal yang dilakukan anak Adam adalah untuknya, dan satu kebaikan dibalas sepuluh kali lipatnya bahkan sampai tujuh ratus kali lipat. Allah Ta'ala berfirman, 'Kecuali puasa, itu untuk-Ku dan Aku yang langsung membalasnya. la telah meninggalkan syahwat, makan dan minumnya karena-Ku.' Orang yang berpuasa mendapatkan dua kesenangan, yaitu kesenangan ketika berbuka puasa dan kesenangan ketika berjumpa dengan Tuhannya. Sungguh, bau mulut orang berpuasa lebih harum daripada aroma kesturi."

Ber-taqarrub kepada Allah tidak dapat dicapai dengan meninggalkan syahwat ini -yang selain dalam keadaan berpuasa adalah mubah- kecuali setelah ber-taqarrub kepada-Nya dengan meninggalkan apa yang diharamkan Allah dalam segala hal, seperti: dusta, kezhaliman dan pelanggaran terhadap orang lain dalam masalah darah, harta dan kehormatannya. Untuk itu, Nabi bersabda : "Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta maka Allah tidak butuh dengan puasanya dari makan dan minum." (HR. Al-Bukhari).

Inti pernyataan ini, bahwa tidak sempurna ber-taqarrub kepada Allah Ta'ala dengan meninggalkan hal-hal yang mubah kecuali setelah ber-taqarrub kepada-Nya dengan meninggalkan hal-hal yang haram. Dengan demikian, orang yang melakukan hal-hal yang haram kemudian ber-taqarrub kepada Allah dengan meninggalkan hal-hal yang mubah, ibaratnya orang yang meninggalkan hal-hal yang wajib dan ber-taqarrub dengan hal-hal yang sunat.

Jika seseorang dengan makan dan minum berniat agar kuat badannya dalam shalat malam dan puasa maka ia mendapat pahala karenanya. Juga jika dengan tidurnya pada malam dan siang hari berniat agar kuat beramal (bekerja) maka tidurnya itu merupakan ibadah. Jadi orang yang berpuasa senantiasa dalam keadaan ibadah pada siang dan malam harinya. Dikabulkan do'anya ketika berpuasa dan berbuka. Pada siang harinya ia adalah orang yang berpuasa dan sabar, sedang pada malam harinya ia adalah orang yang memberi makan dan bersyukur.

Akhirnya, Ramadhan beberapa saat lagi akan tiba. Marilah kita mempersiapkan diri dalam menyambutnya. Sehingga tarbiyah yang akan kita jalani pada Ramadhan ke depan lebih bermakna, sehingga betul-betul menjadi salahsatu sarana meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. Semoga Ramadhan yang akan kita jalani lebih baik dari Ramadhan tahun kemarin. Aamiin.

Jumat, 07 Agustus 2009

Masjid dan Peradaban (bag.7-TAMAT)


“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. At Taubah: 18)

Buletin edisi yang lalu telah membahas, bahwa yang layak memakmurkan masjid Allah swt. hanyalah orang-orang yang senantiasa membangun keimanan, mendirikan shalat dan mengeluarkan zakat. Adapun aktivitas memakmurkan masjid yang keempat adalah membangun rasa takut hanya kepada Allah swt. semata. Yang dimaksud dengan kalimat "tidak takut selain kepada Allah" dalam ayat di atas, bukan berarti mengabaikan akal pikiran dan hati nurani, tidak manusiawi, bertindak ugal-ugalan dan berkata ngawur, sehingga membuat semua orang takut kepadanya. Pemahaman seperti itu sangat keliru dan hanya akan melahirkan peradaban destruktif.

Pemahaman yang benar adalah rasa takut yang melahirkan sikap rasional dan realistis, bersikap wajar dan mudah di terima orang lain, sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah saw. Karena dengan sangat takutnya kepada Allah swt., beliau mempelajari dunia ini sebagai lapangan kerja dan mengikuti wahyu yang difirmankan Allah kepadanya, sebagai tuntunan kerja. Dengan memperhatikan dua sisi ini, kehidupan beliau sangat manusiawi sekaligus rabbani; artinya kehidupan beliau dapat dicontoh oleh setiap yang memiliki akal sehat dan hati nurani, sekaligus merupakan amal nyata daripada perintah Allah swt. sebagai Tuhan.

Oleh karena itu, tidak ada orang yang bisa merasakan takut kepada Allah dengan benar, kecuali orang-orang yang berilmu. Sebagaimana firmanNya dalm Al Qur'an Surah 35 ayat 28-29: "Dan demikian (pula) di anatara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak, ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di anatara hamban-hambaNya, hanyalah ulama (orang-orang yang berilmu), sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun (28). Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian dari rezeki yang kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan. Mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi (29)."

Ayat di atas menjelaskan, bahwa orang-orang yang takut kepada Allah swt. hanyalah orang-orang yang berilmu, yang memahami kehidupan ini dengan baik. Di mana Allah swt. menciptakan alam semesta ini terdiri dari berbagai macam jenis makhluknya, beraneka ragam warnanya. Hal ini disesuaikan dengan kebutuhan kehidupan manusia itu sendiri. Dan kesimpulannya, alam ini tertata dengan indah serta rapih dan harmonis, berwarna-warni dan saling melengkapi, sehingga bagi orang yang berilmu, membuat ia tersadar, bahwa yang menciptakan alam semesta ini memiliki sifat-sifat mulia, terhormat dan meiliki kekuasaan mutlak yang tak tertandingi, sehingga wajarlah, apabila ia sedemikian takut kepada Allah swt.

Sedangkan ayat berikutnya menjelaskan, bahwa rasa takut kepada Allah swt. tidak akan sempurna, kecuali apabila disertai dengan rasa harap kepadaNya. Sementara itu, harapan tersebut hanya dapat direalisasikan dengan baik, apabila memahami kehendak Allah yang Maha Kuasa, yaitu dengan mebaca Kitabullah, serta mengkajinya denganbaik, mendirikan shalat dan menginfaqkan dari sebahagian rezekinya yang diberikan Allah swt kepadanya.

Dengan demikia, merasa takut terhadap murka Allah dan berharap akan rahmatnYa, merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Sebagaimana Imam Ghazali pernah menjelaskan: "Rasa takut dan rasa harap, merupakan dua sayap orang beriman, dengan keduanya ia mampu terbang menuju ketinggianNya." Tentu saja, apabila kedua sayap itu sehat dan berfungsi secara seimbang. Adapun jika salah satunya sakit, maka kedua-duanya justru tidak akan berfungsi.

Seperti seorang petani, yang bercocok tanam, takut pertaniannya gagal, kemudian ia bekerja keras, menanam bibit yang unggul di tanah yang subur, disiram, dipupuk dan dibersihkan dari segala hama. Setelah itu, ia berharap, agar pertaniannya berhasil. Maka dapat kita bayangkan, bahwa petani seperti ini adalah petani yang baik dan dijamin berhasil. Sedangkan, apabila ada seorang petani yang takut gagal, namun tidak bersungguh-sungguh dalam bercocok tanam, dia adalah seorang pengkhayal yang pasti gagal dan tidak akan berhasil.

Contoh lain, Sayyidah A'isyah ra. pernah bertanya kepada Rasulullah saw. tentang surah Al Mu'minun ayat 60: "Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhannya." A'isyah berkata: "Wahai Rasulullah, apakah orang yang dimaksud dalam ayat ini adalah pencuri dan penzina?" Rasulullah bersabda: "Bukan, akan tetapi orang yang senantiasa shalat dan shaum."

Artinya, bahwa orang yang merasa takut amalnya tidak diterima oleh Allah swt., bukanlah orang yang senantiasa maksiat, akan tetapi orang y7ang senantiasa beramal shalih, kemudian disertai dengan hati yang cemas dan khawatir tidak diterima amalnya. Adapun orang yang tidak beramal shalih dan bermaksiat kepadaNya, sudah dapat dipastikan bahwasanya tidak ada amal yang diterima olehNya. Dan biasanya, orang seperti itu sulit memiliki harapan dari Allah swt.

Rasulullah saw. pernah bersabda di dalam Hadits Qudsi: "Allah swt berfirman: Demi kebesaranKu! Sesungguhnya Aku tidak akan menghimpunkan dua rasa takut pada hambaku dan tidak akan menghimpunkan dua rtasa aman padanya. Apabila ia takut kepadaKu di dunia ini, maka akan aku berikan rasa aman di akhirat kelak. Sedangkan, apabila ia merasa aman dari padaKu di dunia ini, maka akan Aku berikan kepadanya rasa takut di akhirat kelak."

Oleh karena itu, seorang mukmin menikmati kehidupan di dunia dengan berbagai amal shalihnya, sementara di akhirat kelak ia akan menikmati kehidupannya dengan balasan berbagai amalannya dari Allah swt. Namun demikian, kehidupan dunia ini sarat dengan berbagai perubahan. Termasuk rasa takut dan harap yang terdapat pada seorang mukmin pun tidak luput dari perubahan tersebut. Kadang-kadang kondisinya naik, kadang-kadang turun. Seeperti digambarkan dalam firman Allah swt. pada surah Ali Imran ayat 173: "Orang-orang beriman itu adalah (yang menaati Allah dan RasulNya), yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: "Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka.", maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: "Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baiknya pelindung."

Ayati ini turun pada saat peristiwa Badar Shugra (Badar Kecil). Yang terjadi satu tahun kemudian setelah pertempuran Uhud. Ketika orang-orang Quraisy hendak meninggalkan Uhud, mereka menantang Rasulullah saw. untuk bertemu kembali di medan Badar pada tahun berikutnya. Saat itu pun Rasul menerima tantangan tersebut. Namun ternyata, ketika sudah tiba waktunya, terjadi kemarau panjang dan krisis pangan. Sehingga membuat orang-orang kafir Quraisy sangat berat bertempur pada saat itu, sekalipun mereka sudah berangkat menuju Uhud. Kemudian mereka berjumpa dengan salah satu seorang penduduk Madinah; Nu'aim bin Mas'ud, yang baru saja menyelesaikan Umrah di Baitullah. Kemudian Abu Sufyan memanggil orang tersebut. Dia berkata kepadanya: "Sebaiknya pertempuran itu dilakukan ketika melimpah ruah buah-buahan dan air susu. Sedangkan saat ini musim paceklik. Oleh karenai itu, wahai Mu'aim, sampaikanlah kepada Muhammad, bahwa orang Makkah sudah menyiapkan sejumlah pasukan besar, lengkap dengan persenjataannya. Agar Muhammad dan kawan-kawannya, tidak jadi pergi ke Badar. Apabila engkau berhasil menakut-nakuti mereka, akan aku bayar engkau dengan sepuluh unta." Nu'aim bin Mas'ud pun menyetujuinya dan ia pun melaksanakan misi kerjanya.

Dengan intimidasi Nu'aim bin Mas'ud ini, ada beberapa orang sahabat yang terkena "virus", kemudian ketakutan. Melihat gelagat seperti itu, Rasulullah saw bersabda: "Saya akan pergi ke Badar, walaupun sendirian." Dengan mendengar sabda Rasul tersebut, semangat para sahabat tumbuh kembali. Kemudian rasul memanggil tujuh puluh orang sahabat pilihan, lalu mereka bersama-sama berangkat menuju Badar dengan beramai-ramai membacakan kalimat: "Hasbunallaah wa Ni'mal wakiil!"; Cukup bagi kami Allah sebagai penolong dan ia sebaik-baik pelindung!

Dari kisah ini kita dapat simpulkan, bahwa rasa takut kepada Allah swt. bisa naik turun, karena terpengaruh oleh lingkungan yang ada disekitarnya. Ketika Nu'aim menyampaikan intimidasinya, ada beberapa sahabat yang ketakutan. Namun ketika mendengar sabda Rasulullah saw., menggelorakan semangatnya, keimanan mereka bertambah dan rasa takut kepada Allah semakin besar.

Dengan demikian, untuk memelihara dan mempertahankan rasa takut kepada Allah swt. hendaknya" (1) Diperlukan adanya lingkungan yang baik, yang kondusif, dapat menumbuhkan rasa takut kepadaNya, (2) Hendaknya rasa takut tersebut, selalu disiram dengan ilmu pengetahuan, terutama ilmu yang berkenaan dengan keagungan dan keuasaan Allah swt., (3) Hendaklah selalu dipupuk dengan berbagai amal shalih, yang senantiasa mendekatkan diri kepadaNya, (4) Hendaklah selalu dibersihkan dari berbagai kotoran penyakit, yang dapat mematikan rasa takut kepada Allah swt. Dengan berbagai upaya seperti ini, insya Allah!, seorang muslim akan dapat menikmati kehidupan dunianya, dengan berbagai amal yang bermanfaat, sementara di akhiratnya akan mendapat balasan yang lebih baik dari Allah swt. Sedangkan, apabila upaya tersebut diabaikan, maka akan melahirkan berbagai bencana yang mengerikan. Seperti dinyatakan oleh sorang ulama besar; Syaikh Sulaiman Ad Darani. Beliau berkata: "Tidak akan pernah hilang rasa takut pada Allah dari hati seseorang, kecuali hati itu akan hancur binasa."

Oleh karena itu, orang-orang yang memakmurkan masjid Allah, agar fungsi masjid tetap terjaga sebagai tempat bersujud kepada Allah swt. dan tempat mengendalika kehidupan ini, agar tetap berorientasi berbadah kepadaNya. Maka disamping membangun keimanan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, maka melestarikan rasa takut kepadaNya menjadi sesuatu yang niscaya.
T A M A T

Selasa, 04 Agustus 2009

Masjid dan Peradaban (bag.6)


“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. At Taubah: 18)

Dalam memakmurkan masjid, selain aktivitas membangun keimanan dan mendirikan shalat, yang keiganya adalah mengeluarkan zakat. Menurut bahasa, zakat berarti bersih atau berkembang dan bertambah. Sedangkan menurut istilah, zakat adalah sejumlah harta tertentu yang diwajibkan Allah swt. kepada orang-orang beriman untuk dikeluarkan dan diberikan kepada yang berhak.

Dalam hal ini, zakat sangat berbeda dengan pajak, karena zakat sangat memperhatikan subyek (pelaku zakat) dan obyek (yang menerima zakat), sehingga kedua belah pihak mendapatkan manfaat dari padanya. Sedangkan pajak hanya melihat pelakunya sebagai sumber pemasukan, dan hasilnya pun hanya dijadikan modal Anggaran Belanja Negara, sehingga di dalamnya hanya ada tinjauan terhadap dunia sebagai materi.

Bagi umat Islam, zakat dirasakan sebagai salah satu rahmat Allah swt. kepada hamba-hambanya yang beriman, agar di dalam hidup ini manusia eksis sebagai tuan yang mengelola bumi dengan baik, sementara dunia ini sebagai bekal beribadah kepada Allah swt. dan manusia bukan sebagai hamba yang diperbudak oleh dunia. Karenanya, zakat merupakan benteng pertahanan umat Islam dari serangan luar, sekaligus menjadi kekuatan dalam menerobos dan merintis berbagai kebaikan. Sehingga dengan zakat tersebut hati menjadi bersih dari berbagai penyakitnya - seperti kikir, rakjus dan semisalnya-, sekaligus dapat mengembangkan berbagai kebaikan - seperti memberi manfaat kepada orang lain, peduli dan empati-, serta dapat membangun keharmonisan di dalam kehidupan dan menghilangkan rasa iri, dengki, serta permusuhan.

Sebagaimana firman Allah dalam A-Qur'anulkarim, QS.9 ayat 103:
"Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka, dan doakanlah untuk mereka. Sesunggunya doa kamu itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Mendengar lagi Maha Mengetahui."

Di dalam ayat ini, sangat jelas, bahwa Allah swt. memerintahkan kepada Rasulullah saw. agar mengambil zakat dari umat Islam. Sedangkan fungsi zakat, adalah membersihkan dan menyucikan umat Islam dari berbagai penyakit. Kemudian Rasul diperintakhan berdoa kepada Allah bagi orang-orang yang memberikan zakat, agar orang tersebut mendapatkan ketenangan. Dengan demikian zakat berfungsi bagi kedua belah pihak, si pemberi mendapatkan ketenangan dan si penerima mendapatkan santunan.

Ayat ini turun berkenaan dengan salah seorang sahabat besar, yang bernama Ka'ab bin Malik. Belia tidak mengikuti perjuangan perang Tabuk, yang dipimpin Rasulullah saw. langsung., disebabkan oleh rasa takut mati dan disibukkan oleh dunia. Apalagi perang Tabuk tersebut terjadi pada ketika suhu udara sangat panas, musim kemarau panjang, krisis pangan dan menempuh perjalanan yang sangat jauh. Sehingga yang dapat mengikuti pertempuran tersebut hanyalah para sahabat pilihan, yang memiliki keimanan yang prima. Sementara orang-orang yang lemah imannya, memprediksi bahwa perjuangan tersebut konyol belaka, tidak akan mendapatkan kemenangan.

Namun ternyata, mereka dikagetkan oleh kembalinya Rasulullah saw. bersama para sahabatnya, dengan membawa kemenangan. Para sahabat yang tertinggal dan tidak ikut berjuang bersama Rasulullah menyeal dan meminta maaf kepada beliau. Rasulpun senantiasa memaafkan mereka.

Namun giliran Ka'ab bin Malik meminta maaf dan menjelaskan bahwa ketidak ikut sertaannya disebabkan oleh lemahnya iman. Rasul pun berpaling dari hadapan Ka'ab. Dengan berulang kali Ka'ab meminta maaf, namun Rasul tetap berpaling juga. Bahkan meminta keluarga Ka'ab agar tidak memberikan peayanan kepadanya. Penyesalan Ka'ab pun semakin menjadi-jadi, hingga ia bertaubat kepada Allah dengan sepenuh hati. Hingga akhirnya Ka'ab mengikat diri di sebuah benteng, sebagai bukti penyesalannya. Turunlah QS. 9 ayat 103 ini sebagai pernyataan bahwa taubatnya sudah diterima, sekaligus menjadi pelajaran bagi umat Islam, agar senantiasa membangun jiwanya dan mebersihkannya dari kotoran duniawi dengan mengeluarkan zakat.

Jadi, orang-orang yang senantiaa memakmurkan masjid, hendaknya selalu membersihkan dirinya dengan zakat atau shadaqah, agar fungsi masjid sebagai tempat sujud kepada Allah swt. tetap terjaga, tidak ternodai oleh berbagai kepentingan dunia, dan duniapun dapat terjaga fungsinya sebagai sarana mengabdi kepada Allah yang Maha Kuasa.

Sejarah mencatat berbagai penyimpangan, serta bencana yang dialami oleh orang-orang durhaka terdahulu, di antaranya ada yang diabadikan dalam Al Qur'anulkarim. Seperti kisah Nabi Hud dan Kaum 'Adnya. Ketika kaum 'Ad mendapat kesuburan ekonomi yang melimpah ruah, disertai dengan kekuatan fisik yang luar biasa, sehingga menjadi bangsa yang disegani. Namun karena jiwanya yang tidak bersih, sehingga menyimpang dari tauhid dan ketika diberi peringatan oleh Nabi Hud, mereka bersikap angkuh dan arogan, sehingga akhirnya diazab oleh Allah swt. berupa angin puting beliung yang sangat panas, tanpa adanya yang selamat, kecuali orang-orang yang beriman, seperti yang tercantum dalam QS. Al A'raf ayat 72:
"Maka kami selamatkan Hud beserta orang-orang yang bersamanya dengan rahmat yang besar dari Kami, dan Kami tumpas orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, dan tiadalah mereka orang-orang yang beriman."

Begitupula kaum Tsamud, yang sudah mampu membangun gedung-gedung besar dan mewah di dataran rendahnya, dan membangun vila-vila peristirahatan di puncak-puncak pegunungan. Namun karena mereka mendustakan peringatan yang dibawa oleh Nabi Shalih as. dan bersikap angkuh, karena keberhasilan dalam membangun dunia, maka Allahpun menurunkan azabnya, berupa gempa yang mematikan, seperti yang terdapat pada QS. Al A'raf ayat 78:
"Karena itu mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka."

Kaum Nabi Luth, yang disebut dengan kaum Sodom dan Gemorah, setelah mendapatkan kesuksesan, mereka lalu hidup bergelimangan dalam kemewahan yang tidak terkendali. Nabi Luth memberikan peringatan kepada mereka, namun tidak diindahkan, sehingga mereka akhirnya ditimpa bencana, seperti terdapat dalam QS. Al A'raf ayat 83-84:
"Kemudian kami selamatkan dia dan pengikut-pengikutnya, kecuali istrinya; dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan).<83>. Dan kami turunkan kepada mereka hujan (batu), maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang berdsa itu." Begitulah, kehidupan dunia, apabila tidak disertai dengan berdzikir kepada Allah swt. dan tidak beramal dengan mengikuti ajaran yang disampaikan oleh utusanNya.

Fungsi lain dari zakat adalah mengentaskan kemiskinan. Sekalipun Islam mengajarkan hidup sederhana, senantiasa berdzikir kepada Allah swt. dan menghindari kemewahan yang tidak terkendali, tetapi bukan berarti harus hidup miskin dan papa. Salah seorang sahabat pernah datang kepada Rasulullah saw., ia mengeluh bahwa dirinya seorang lemah, sehingga tidak mampu berjihad di jalan Allah swt., dan seorang miskin, sehingga tidak mampu berinfaq di jalanNya. Rasul bersabda: "Anda mau masuk surga dengan apa? Jihad tidak, dan Infaqpun tidak."

Sabda Rasulullah saw. ini mengajarkan kepada umatnya agar memiliki semangat hidup sehat dan kaya, karena kedua hal inilah yang akan mejadi bekal perjuangan untuyk memenangkan ridha Allah swt. Bahkan hendaknya memeiliki semangat kepedulian dan menyejahterakan orang lain, terutama fakir miskin. Hal ini merupakan ciri khas umat muslim yang harus dimiliki, karena tanpa sifat peduli ini, ia terancam dimurkai oleh Allah swt., sekalipun rajin shalat, sebagaimana firmanNya di dalam Al Qur'anulkarim Al Ma'mun:
"Tahukah kamu (orang) yang mendustakan Agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin, maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya..."

Sementara itu, sebelum Rasulullah saw dibangkitkan, orang-orang miskin selalu di pandang sebelah mata, bahkan disingkirkan dari percaturan kehidupan dunia. Umpamanya pada zaman Mesir kuno, Mesir merupakan surga dunia, apa saja bisa tumbuh serta memberikan hasil yang berlipat ganda bagi masyarakatnya. Namun demikian, masyarakat miskin tidak mempunyai apa-apa yang bisa mereka makan, karena orang-orang kaya tidak pernah menyisihkan makanan buat mereka selain ampas-ampas makanan yang tidak berguna, lagi untuk mengobati perut lapar. Kemudian, ketika kelaparan sudah merajalela, orang-orang miskin menjual diri mereka dan menjadi budak orang-orang kaya.

Begitu pula di Babilonia, keadaannya persis sama seperti di Mesir, orang-orang miskin tidak pernah menikmati hasil negeri mereka, sekalipun negeri itu sangat subur, karena seluruh hasilnya harus dialirkan ke Persia sebagai negara yang menjajahnya.

Sedangkan di Yunani, orang-orang kaya hanya meninggalkan tanah-tanah yang tandus dan tak bisa ditanami bagi orang-orang yang melarat. Di Athena, orang-orang kaya menilai, bahwa orang-orang miskin adalah manusia yang bisa diperjual belikan. Begitulah kondisi orang-orang miskin sebelum Islam.

Keadaan menjadi berubah seratus delapan puluh derajat setelah Islam datang dan menanamkan aqidah tauhid, membangun silaturahim, mendidik kepedulian terhadap sesama. Pada saat itulah nilai kemanusiaan menjadi eksis dan manusia pun menjadi masyarakat yang rukun, damai dan sejahtera, dijauhkan dari bencana dunia dan Insya Allah mendapat ridha Allah swt.

Begitulah, hendaknya orang-orang yang memakmurkan masjid Allah, mereka senantiasa membangun keimanan, emndirikan shalat dan mengeluarkan zakat. Agar hatinya terbina, hidupnya teratur, masyarakatnya tertata dengan rapih, rukun serta damai. Bersama-sama menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.
BERSAMBUNG...