“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. At Taubah: 18)
Buletin edisi yang lalu telah membahas, bahwa yang layak memakmurkan masjid Allah swt. hanyalah orang-orang yang senantiasa membangun keimanan, mendirikan shalat dan mengeluarkan zakat. Adapun aktivitas memakmurkan masjid yang keempat adalah membangun rasa takut hanya kepada Allah swt. semata. Yang dimaksud dengan kalimat "tidak takut selain kepada Allah" dalam ayat di atas, bukan berarti mengabaikan akal pikiran dan hati nurani, tidak manusiawi, bertindak ugal-ugalan dan berkata ngawur, sehingga membuat semua orang takut kepadanya. Pemahaman seperti itu sangat keliru dan hanya akan melahirkan peradaban destruktif.
Pemahaman yang benar adalah rasa takut yang melahirkan sikap rasional dan realistis, bersikap wajar dan mudah di terima orang lain, sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah saw. Karena dengan sangat takutnya kepada Allah swt., beliau mempelajari dunia ini sebagai lapangan kerja dan mengikuti wahyu yang difirmankan Allah kepadanya, sebagai tuntunan kerja. Dengan memperhatikan dua sisi ini, kehidupan beliau sangat manusiawi sekaligus rabbani; artinya kehidupan beliau dapat dicontoh oleh setiap yang memiliki akal sehat dan hati nurani, sekaligus merupakan amal nyata daripada perintah Allah swt. sebagai Tuhan.
Oleh karena itu, tidak ada orang yang bisa merasakan takut kepada Allah dengan benar, kecuali orang-orang yang berilmu. Sebagaimana firmanNya dalm Al Qur'an Surah 35 ayat 28-29: "Dan demikian (pula) di anatara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak, ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di anatara hamban-hambaNya, hanyalah ulama (orang-orang yang berilmu), sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun (28). Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian dari rezeki yang kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan. Mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi (29)."
Ayat di atas menjelaskan, bahwa orang-orang yang takut kepada Allah swt. hanyalah orang-orang yang berilmu, yang memahami kehidupan ini dengan baik. Di mana Allah swt. menciptakan alam semesta ini terdiri dari berbagai macam jenis makhluknya, beraneka ragam warnanya. Hal ini disesuaikan dengan kebutuhan kehidupan manusia itu sendiri. Dan kesimpulannya, alam ini tertata dengan indah serta rapih dan harmonis, berwarna-warni dan saling melengkapi, sehingga bagi orang yang berilmu, membuat ia tersadar, bahwa yang menciptakan alam semesta ini memiliki sifat-sifat mulia, terhormat dan meiliki kekuasaan mutlak yang tak tertandingi, sehingga wajarlah, apabila ia sedemikian takut kepada Allah swt.
Sedangkan ayat berikutnya menjelaskan, bahwa rasa takut kepada Allah swt. tidak akan sempurna, kecuali apabila disertai dengan rasa harap kepadaNya. Sementara itu, harapan tersebut hanya dapat direalisasikan dengan baik, apabila memahami kehendak Allah yang Maha Kuasa, yaitu dengan mebaca Kitabullah, serta mengkajinya denganbaik, mendirikan shalat dan menginfaqkan dari sebahagian rezekinya yang diberikan Allah swt kepadanya.
Dengan demikia, merasa takut terhadap murka Allah dan berharap akan rahmatnYa, merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Sebagaimana Imam Ghazali pernah menjelaskan: "Rasa takut dan rasa harap, merupakan dua sayap orang beriman, dengan keduanya ia mampu terbang menuju ketinggianNya." Tentu saja, apabila kedua sayap itu sehat dan berfungsi secara seimbang. Adapun jika salah satunya sakit, maka kedua-duanya justru tidak akan berfungsi.
Seperti seorang petani, yang bercocok tanam, takut pertaniannya gagal, kemudian ia bekerja keras, menanam bibit yang unggul di tanah yang subur, disiram, dipupuk dan dibersihkan dari segala hama. Setelah itu, ia berharap, agar pertaniannya berhasil. Maka dapat kita bayangkan, bahwa petani seperti ini adalah petani yang baik dan dijamin berhasil. Sedangkan, apabila ada seorang petani yang takut gagal, namun tidak bersungguh-sungguh dalam bercocok tanam, dia adalah seorang pengkhayal yang pasti gagal dan tidak akan berhasil.
Contoh lain, Sayyidah A'isyah ra. pernah bertanya kepada Rasulullah saw. tentang surah Al Mu'minun ayat 60: "Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhannya." A'isyah berkata: "Wahai Rasulullah, apakah orang yang dimaksud dalam ayat ini adalah pencuri dan penzina?" Rasulullah bersabda: "Bukan, akan tetapi orang yang senantiasa shalat dan shaum."
Artinya, bahwa orang yang merasa takut amalnya tidak diterima oleh Allah swt., bukanlah orang yang senantiasa maksiat, akan tetapi orang y7ang senantiasa beramal shalih, kemudian disertai dengan hati yang cemas dan khawatir tidak diterima amalnya. Adapun orang yang tidak beramal shalih dan bermaksiat kepadaNya, sudah dapat dipastikan bahwasanya tidak ada amal yang diterima olehNya. Dan biasanya, orang seperti itu sulit memiliki harapan dari Allah swt.
Rasulullah saw. pernah bersabda di dalam Hadits Qudsi: "Allah swt berfirman: Demi kebesaranKu! Sesungguhnya Aku tidak akan menghimpunkan dua rasa takut pada hambaku dan tidak akan menghimpunkan dua rtasa aman padanya. Apabila ia takut kepadaKu di dunia ini, maka akan aku berikan rasa aman di akhirat kelak. Sedangkan, apabila ia merasa aman dari padaKu di dunia ini, maka akan Aku berikan kepadanya rasa takut di akhirat kelak."
Oleh karena itu, seorang mukmin menikmati kehidupan di dunia dengan berbagai amal shalihnya, sementara di akhirat kelak ia akan menikmati kehidupannya dengan balasan berbagai amalannya dari Allah swt. Namun demikian, kehidupan dunia ini sarat dengan berbagai perubahan. Termasuk rasa takut dan harap yang terdapat pada seorang mukmin pun tidak luput dari perubahan tersebut. Kadang-kadang kondisinya naik, kadang-kadang turun. Seeperti digambarkan dalam firman Allah swt. pada surah Ali Imran ayat 173: "Orang-orang beriman itu adalah (yang menaati Allah dan RasulNya), yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: "Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka.", maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: "Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baiknya pelindung."
Ayati ini turun pada saat peristiwa Badar Shugra (Badar Kecil). Yang terjadi satu tahun kemudian setelah pertempuran Uhud. Ketika orang-orang Quraisy hendak meninggalkan Uhud, mereka menantang Rasulullah saw. untuk bertemu kembali di medan Badar pada tahun berikutnya. Saat itu pun Rasul menerima tantangan tersebut. Namun ternyata, ketika sudah tiba waktunya, terjadi kemarau panjang dan krisis pangan. Sehingga membuat orang-orang kafir Quraisy sangat berat bertempur pada saat itu, sekalipun mereka sudah berangkat menuju Uhud. Kemudian mereka berjumpa dengan salah satu seorang penduduk Madinah; Nu'aim bin Mas'ud, yang baru saja menyelesaikan Umrah di Baitullah. Kemudian Abu Sufyan memanggil orang tersebut. Dia berkata kepadanya: "Sebaiknya pertempuran itu dilakukan ketika melimpah ruah buah-buahan dan air susu. Sedangkan saat ini musim paceklik. Oleh karenai itu, wahai Mu'aim, sampaikanlah kepada Muhammad, bahwa orang Makkah sudah menyiapkan sejumlah pasukan besar, lengkap dengan persenjataannya. Agar Muhammad dan kawan-kawannya, tidak jadi pergi ke Badar. Apabila engkau berhasil menakut-nakuti mereka, akan aku bayar engkau dengan sepuluh unta." Nu'aim bin Mas'ud pun menyetujuinya dan ia pun melaksanakan misi kerjanya.
Dengan intimidasi Nu'aim bin Mas'ud ini, ada beberapa orang sahabat yang terkena "virus", kemudian ketakutan. Melihat gelagat seperti itu, Rasulullah saw bersabda: "Saya akan pergi ke Badar, walaupun sendirian." Dengan mendengar sabda Rasul tersebut, semangat para sahabat tumbuh kembali. Kemudian rasul memanggil tujuh puluh orang sahabat pilihan, lalu mereka bersama-sama berangkat menuju Badar dengan beramai-ramai membacakan kalimat: "Hasbunallaah wa Ni'mal wakiil!"; Cukup bagi kami Allah sebagai penolong dan ia sebaik-baik pelindung!
Dari kisah ini kita dapat simpulkan, bahwa rasa takut kepada Allah swt. bisa naik turun, karena terpengaruh oleh lingkungan yang ada disekitarnya. Ketika Nu'aim menyampaikan intimidasinya, ada beberapa sahabat yang ketakutan. Namun ketika mendengar sabda Rasulullah saw., menggelorakan semangatnya, keimanan mereka bertambah dan rasa takut kepada Allah semakin besar.
Dengan demikian, untuk memelihara dan mempertahankan rasa takut kepada Allah swt. hendaknya" (1) Diperlukan adanya lingkungan yang baik, yang kondusif, dapat menumbuhkan rasa takut kepadaNya, (2) Hendaknya rasa takut tersebut, selalu disiram dengan ilmu pengetahuan, terutama ilmu yang berkenaan dengan keagungan dan keuasaan Allah swt., (3) Hendaklah selalu dipupuk dengan berbagai amal shalih, yang senantiasa mendekatkan diri kepadaNya, (4) Hendaklah selalu dibersihkan dari berbagai kotoran penyakit, yang dapat mematikan rasa takut kepada Allah swt. Dengan berbagai upaya seperti ini, insya Allah!, seorang muslim akan dapat menikmati kehidupan dunianya, dengan berbagai amal yang bermanfaat, sementara di akhiratnya akan mendapat balasan yang lebih baik dari Allah swt. Sedangkan, apabila upaya tersebut diabaikan, maka akan melahirkan berbagai bencana yang mengerikan. Seperti dinyatakan oleh sorang ulama besar; Syaikh Sulaiman Ad Darani. Beliau berkata: "Tidak akan pernah hilang rasa takut pada Allah dari hati seseorang, kecuali hati itu akan hancur binasa."
Oleh karena itu, orang-orang yang memakmurkan masjid Allah, agar fungsi masjid tetap terjaga sebagai tempat bersujud kepada Allah swt. dan tempat mengendalika kehidupan ini, agar tetap berorientasi berbadah kepadaNya. Maka disamping membangun keimanan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, maka melestarikan rasa takut kepadaNya menjadi sesuatu yang niscaya.
T A M A T
Pemahaman yang benar adalah rasa takut yang melahirkan sikap rasional dan realistis, bersikap wajar dan mudah di terima orang lain, sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah saw. Karena dengan sangat takutnya kepada Allah swt., beliau mempelajari dunia ini sebagai lapangan kerja dan mengikuti wahyu yang difirmankan Allah kepadanya, sebagai tuntunan kerja. Dengan memperhatikan dua sisi ini, kehidupan beliau sangat manusiawi sekaligus rabbani; artinya kehidupan beliau dapat dicontoh oleh setiap yang memiliki akal sehat dan hati nurani, sekaligus merupakan amal nyata daripada perintah Allah swt. sebagai Tuhan.
Oleh karena itu, tidak ada orang yang bisa merasakan takut kepada Allah dengan benar, kecuali orang-orang yang berilmu. Sebagaimana firmanNya dalm Al Qur'an Surah 35 ayat 28-29: "Dan demikian (pula) di anatara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak, ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di anatara hamban-hambaNya, hanyalah ulama (orang-orang yang berilmu), sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun (28). Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian dari rezeki yang kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan. Mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi (29)."
Ayat di atas menjelaskan, bahwa orang-orang yang takut kepada Allah swt. hanyalah orang-orang yang berilmu, yang memahami kehidupan ini dengan baik. Di mana Allah swt. menciptakan alam semesta ini terdiri dari berbagai macam jenis makhluknya, beraneka ragam warnanya. Hal ini disesuaikan dengan kebutuhan kehidupan manusia itu sendiri. Dan kesimpulannya, alam ini tertata dengan indah serta rapih dan harmonis, berwarna-warni dan saling melengkapi, sehingga bagi orang yang berilmu, membuat ia tersadar, bahwa yang menciptakan alam semesta ini memiliki sifat-sifat mulia, terhormat dan meiliki kekuasaan mutlak yang tak tertandingi, sehingga wajarlah, apabila ia sedemikian takut kepada Allah swt.
Sedangkan ayat berikutnya menjelaskan, bahwa rasa takut kepada Allah swt. tidak akan sempurna, kecuali apabila disertai dengan rasa harap kepadaNya. Sementara itu, harapan tersebut hanya dapat direalisasikan dengan baik, apabila memahami kehendak Allah yang Maha Kuasa, yaitu dengan mebaca Kitabullah, serta mengkajinya denganbaik, mendirikan shalat dan menginfaqkan dari sebahagian rezekinya yang diberikan Allah swt kepadanya.
Dengan demikia, merasa takut terhadap murka Allah dan berharap akan rahmatnYa, merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Sebagaimana Imam Ghazali pernah menjelaskan: "Rasa takut dan rasa harap, merupakan dua sayap orang beriman, dengan keduanya ia mampu terbang menuju ketinggianNya." Tentu saja, apabila kedua sayap itu sehat dan berfungsi secara seimbang. Adapun jika salah satunya sakit, maka kedua-duanya justru tidak akan berfungsi.
Seperti seorang petani, yang bercocok tanam, takut pertaniannya gagal, kemudian ia bekerja keras, menanam bibit yang unggul di tanah yang subur, disiram, dipupuk dan dibersihkan dari segala hama. Setelah itu, ia berharap, agar pertaniannya berhasil. Maka dapat kita bayangkan, bahwa petani seperti ini adalah petani yang baik dan dijamin berhasil. Sedangkan, apabila ada seorang petani yang takut gagal, namun tidak bersungguh-sungguh dalam bercocok tanam, dia adalah seorang pengkhayal yang pasti gagal dan tidak akan berhasil.
Contoh lain, Sayyidah A'isyah ra. pernah bertanya kepada Rasulullah saw. tentang surah Al Mu'minun ayat 60: "Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhannya." A'isyah berkata: "Wahai Rasulullah, apakah orang yang dimaksud dalam ayat ini adalah pencuri dan penzina?" Rasulullah bersabda: "Bukan, akan tetapi orang yang senantiasa shalat dan shaum."
Artinya, bahwa orang yang merasa takut amalnya tidak diterima oleh Allah swt., bukanlah orang yang senantiasa maksiat, akan tetapi orang y7ang senantiasa beramal shalih, kemudian disertai dengan hati yang cemas dan khawatir tidak diterima amalnya. Adapun orang yang tidak beramal shalih dan bermaksiat kepadaNya, sudah dapat dipastikan bahwasanya tidak ada amal yang diterima olehNya. Dan biasanya, orang seperti itu sulit memiliki harapan dari Allah swt.
Rasulullah saw. pernah bersabda di dalam Hadits Qudsi: "Allah swt berfirman: Demi kebesaranKu! Sesungguhnya Aku tidak akan menghimpunkan dua rasa takut pada hambaku dan tidak akan menghimpunkan dua rtasa aman padanya. Apabila ia takut kepadaKu di dunia ini, maka akan aku berikan rasa aman di akhirat kelak. Sedangkan, apabila ia merasa aman dari padaKu di dunia ini, maka akan Aku berikan kepadanya rasa takut di akhirat kelak."
Oleh karena itu, seorang mukmin menikmati kehidupan di dunia dengan berbagai amal shalihnya, sementara di akhirat kelak ia akan menikmati kehidupannya dengan balasan berbagai amalannya dari Allah swt. Namun demikian, kehidupan dunia ini sarat dengan berbagai perubahan. Termasuk rasa takut dan harap yang terdapat pada seorang mukmin pun tidak luput dari perubahan tersebut. Kadang-kadang kondisinya naik, kadang-kadang turun. Seeperti digambarkan dalam firman Allah swt. pada surah Ali Imran ayat 173: "Orang-orang beriman itu adalah (yang menaati Allah dan RasulNya), yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: "Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka.", maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: "Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baiknya pelindung."
Ayati ini turun pada saat peristiwa Badar Shugra (Badar Kecil). Yang terjadi satu tahun kemudian setelah pertempuran Uhud. Ketika orang-orang Quraisy hendak meninggalkan Uhud, mereka menantang Rasulullah saw. untuk bertemu kembali di medan Badar pada tahun berikutnya. Saat itu pun Rasul menerima tantangan tersebut. Namun ternyata, ketika sudah tiba waktunya, terjadi kemarau panjang dan krisis pangan. Sehingga membuat orang-orang kafir Quraisy sangat berat bertempur pada saat itu, sekalipun mereka sudah berangkat menuju Uhud. Kemudian mereka berjumpa dengan salah satu seorang penduduk Madinah; Nu'aim bin Mas'ud, yang baru saja menyelesaikan Umrah di Baitullah. Kemudian Abu Sufyan memanggil orang tersebut. Dia berkata kepadanya: "Sebaiknya pertempuran itu dilakukan ketika melimpah ruah buah-buahan dan air susu. Sedangkan saat ini musim paceklik. Oleh karenai itu, wahai Mu'aim, sampaikanlah kepada Muhammad, bahwa orang Makkah sudah menyiapkan sejumlah pasukan besar, lengkap dengan persenjataannya. Agar Muhammad dan kawan-kawannya, tidak jadi pergi ke Badar. Apabila engkau berhasil menakut-nakuti mereka, akan aku bayar engkau dengan sepuluh unta." Nu'aim bin Mas'ud pun menyetujuinya dan ia pun melaksanakan misi kerjanya.
Dengan intimidasi Nu'aim bin Mas'ud ini, ada beberapa orang sahabat yang terkena "virus", kemudian ketakutan. Melihat gelagat seperti itu, Rasulullah saw bersabda: "Saya akan pergi ke Badar, walaupun sendirian." Dengan mendengar sabda Rasul tersebut, semangat para sahabat tumbuh kembali. Kemudian rasul memanggil tujuh puluh orang sahabat pilihan, lalu mereka bersama-sama berangkat menuju Badar dengan beramai-ramai membacakan kalimat: "Hasbunallaah wa Ni'mal wakiil!"; Cukup bagi kami Allah sebagai penolong dan ia sebaik-baik pelindung!
Dari kisah ini kita dapat simpulkan, bahwa rasa takut kepada Allah swt. bisa naik turun, karena terpengaruh oleh lingkungan yang ada disekitarnya. Ketika Nu'aim menyampaikan intimidasinya, ada beberapa sahabat yang ketakutan. Namun ketika mendengar sabda Rasulullah saw., menggelorakan semangatnya, keimanan mereka bertambah dan rasa takut kepada Allah semakin besar.
Dengan demikian, untuk memelihara dan mempertahankan rasa takut kepada Allah swt. hendaknya" (1) Diperlukan adanya lingkungan yang baik, yang kondusif, dapat menumbuhkan rasa takut kepadaNya, (2) Hendaknya rasa takut tersebut, selalu disiram dengan ilmu pengetahuan, terutama ilmu yang berkenaan dengan keagungan dan keuasaan Allah swt., (3) Hendaklah selalu dipupuk dengan berbagai amal shalih, yang senantiasa mendekatkan diri kepadaNya, (4) Hendaklah selalu dibersihkan dari berbagai kotoran penyakit, yang dapat mematikan rasa takut kepada Allah swt. Dengan berbagai upaya seperti ini, insya Allah!, seorang muslim akan dapat menikmati kehidupan dunianya, dengan berbagai amal yang bermanfaat, sementara di akhiratnya akan mendapat balasan yang lebih baik dari Allah swt. Sedangkan, apabila upaya tersebut diabaikan, maka akan melahirkan berbagai bencana yang mengerikan. Seperti dinyatakan oleh sorang ulama besar; Syaikh Sulaiman Ad Darani. Beliau berkata: "Tidak akan pernah hilang rasa takut pada Allah dari hati seseorang, kecuali hati itu akan hancur binasa."
Oleh karena itu, orang-orang yang memakmurkan masjid Allah, agar fungsi masjid tetap terjaga sebagai tempat bersujud kepada Allah swt. dan tempat mengendalika kehidupan ini, agar tetap berorientasi berbadah kepadaNya. Maka disamping membangun keimanan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, maka melestarikan rasa takut kepadaNya menjadi sesuatu yang niscaya.
T A M A T
Tidak ada komentar:
Posting Komentar