Jumat, 30 Januari 2009

Semangat Resolusi Amal di Tahun Baru Hijriyah 1430 H (Bagian 4 - Jihad)


“ Sesungguhnya, orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah, dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Q.S. Al Baqarah: 218)

Esensi jihad di jalan Allah adalah berjuang dengan sungguh-sungguh untuk meninggikan agama Allah dengan jiwa dan harta, yang puncaknya adalah bertempur di medan perang.

Pada zaman Rasulullah Saw., jihad merupakan solusi dari berbagai persoalan kaum Muslimin terutama ketika menghadapi musuh-musuh Allah yang senantiasa berambisi memadamkan ruh dakwah di muka bumi ini. Dengan jihad, eksistensi umat Islam semakin diakui oleh para penentangnya dan semakin dirasakan sebagai rahmat dan nikmat oleh pemeluknya sehingga kalimâtullâh semakin membahana, merambah berbagai pelosok di muka bumi ini. Berbagai wilayah jajahan Romawi dan Persia berangsur bangkit menjadi wilayah merdeka dan mendapat kesempatan untuk membangun eksistensinya masing-masing, sementara itu negara-negara imperialis berangsur-angsur menemui kehancurannya.

Sejarah mencatat bahwa kemenangan terbesar Rasulullah Saw. adalah ketika membebaskan kota Mekkah dari berbagai arogansi yang memakan korban dari kalangan orang-orang beriman pengikut Rasulullah Saw. Dalam perjuangan itu, tidak setitik pun darah yang menetes, bahkan sama sekali tidak terjadi pertempuran fisik, namun pasukan Islam yang dipimpin Rasulullah Saw. ketika datang ke Mekkah membuat orang-orang Musrik ketakutan. Di antara mereka ada yang memasuki rumahnya dan tidak berani keluar, ada yang lari keluar daerah, ada pula yang datang kepada Rasulullah dan menyatakan keislamannya. Dalam situsasi seperti itu, Rasulullah bersama kaum Muslimin justru memaafkan mereka atas segala arogansinya dan mengajak mereka untuk tetap tinggal di Mekkah dan meninggalkan segala kejahiliyahan yang pernah dilakukannya.

Bahkan, ketika salah seorang panglima Quraisy, Abu Sofyan bin Harb yang berulang kali berusaha membunuh Rasulullah Saw, tidak berani keluar rumah karena saking takutnya oleh kaum Muslimin, Rasulullah Saw. malah mengeluarkan pernyataan, “Barangsiapa memasuki rumah Abu Sofyan, akan dijamin keamanannya.” Akhirnya, Abu Sofyan pun masuk Islam bersama keluarganya.

Itulah jihad yang dilakukan Rasulullah Saw.; bukan balas dendam, bukan gerakan kekecewaan atau kemarahan, namun merupakan perjuangan suci yang lahir dari hati nurani yang ikhlas, ilmu yang utuh, serta bertujuan untuk menyelamatkan masyarakat dari kehancuran menuju kebahagian dunia dan akhirat.

Dewasa ini, di masyarakat kita muncul pandangan yang kontradiktif terhadap kata jihad. Di satu pihak, ada kelompok yang sangat alergi terhadap kata jihad dan berpandangan bahwa jihad adalah kekerasan yang tidak manusiawi dan harus dihilangkan dari kehidupan beragama. Sementara itu, di pihak lainnya ada kelompok yang sangat ekstrim terhadap kata jihad bahkan berpendapat bahwa saat ini, untuk menyelesaikan segala persoalan harus dilakukan dengan jihad, sekalipun dengan cara-cara yang tidak islami dan tidak melalui proses yang matang; membangun pribadi yang ikhlas, cerdas, dan rapih dalam beramal, serta mampu berkoordinasi bersama barisannya, sehingga melahirkan gerakan jihad yang kontraproduktif; masyarakat menjadi bingung bahkan melahirkan anti pati terhadap agama.

Padahal, jihad dalam Islam begitu suci, terlebih jika dilakukan sesuai dengan tuntunan Al Qur'an dan contoh Rasulullah Saw. Jihad seperti ini akan menjadi satu-satunya solusi dalam menyelesaikan berbagai persoalan.

Banyak yang bertanya kenapa diharuskan berjihad dan kenapa Allah Swt. menciptakan sesuatu yang memusuhi agama. Banyak pula jawaban ulama tentang hal itu, di antaranya adalah bahwa Allah Swt. Mahakuasa menciptakan segala sesuatu. Allah telah menciptakan tiga kelompok makhluk; ada yang hanya beribadah (Malaikat), tidak beribadah dan tidak pula bermaksiat (benda), dan ada yang diberi potensi beribadah sekaligus bermaksiat (jin dan manusia).
Dari kelompok yang ketiga ini, ada yang memilih maksiat yang disebut setan jin dan setan manusia (QS. Al An'âm: 112) dan ada yang memilih ibadah (mukmin) dan berjihad (mujahid). Dua kelompok ini, sama-sama berjuang untuk mencapai tujuannya masing-masing. Kelompok pertama berjuang dengan mempertuhankan hawa nafsu dan selalu melahirkan kerusakan di muka bumi, sementara kelompok kedua berjuang dengan menyadari akan hakikat dirinya sebagai manusia yang diberi kenikmatan memilih dan berkehendak, serta telah memilih Allah sebagai Tuhan yang mengurus, Islam sebagai agama yang menjadi pegangan, dan Muhammad sebagai rasul yang dijadikan teladan.

Jadi, dalam kehidupan ini tidak lepas dari perjuangan. Hanya tujuan dan cara yang berbeda. Di Palestina sekarang misalnya, ada pejuang Islam melawan tentara biadab Israel yang berakhir dengan permintaan gencatan senjata dari pihak Israel, ini satu gambaran betapa kuatnya pejuang Palestina sekalipun kondisinya serba terbatas, sekaligus menggambarkan betapa kerdilnya Israel sekalipun dengan senjata yang serba canggih, terutama dilihat dari sasaran tembak mereka yang hanya kalangan anak-anak, wanita, dan orang-orang sipil. Ini menggambarkan bahwa Israel bukan hanya lemah, namun juga hanya berani menyerang orang-orang yang lemah.

Sementera itu, di negeri kita, korban-korban berjatuhan setiap hari. Ada korban bunuh diri, mutilasi, tawuran, miras oplosan, gizi buruk, kelaparan, kebakaran, kapal tenggelam, penggusuran, banjir, dan lain-lain. Hakikatnya, semua korban ini adalah pejuang dalam mencari solusi untuk menyelesaikan masalah kehidupan, namun karena perjuangan tersebut tidak memiliki pijakan, tuntunan, dan tujuan akhir yang jelas, maka dampaknya sangat mengerikan.

Oleh karena itu, umat Islam tidak memiliki pilihan selain menjadikan perjuangan tersebut selalu di jalan Allah Swt., bukan karena ambisi dunia, pemuas hawa nafsu, terprovokasi oleh peristiwa-peristiwa yang mengecewakan atau oleh hasutan orang sehingga melahirkan perjuangan yang destruktif dan kontraproduktif, akan tetapi perjuangan yang jelas, rapih, dan kokoh, memberikan kekuatan dan melahirkan pertolongan Allah Swt.

Pendidikan jihad bagi umat Islam perlu ditanamkan sejak usia dini, bahkan sejak pendidikan TK sehingga anak-anak muslim mengenal Rasulullah Saw. dan para sahabatnya yang telah terbukti dapat meyelesaikan persoalan yang rumit di dunia ini dengan baik, sekalipun hanya baru dikenalkan nama serta kebaikannya, sesuai dengan usia mereka. Mereka pun harus dibiasakan berzikir dan berdoa setiap mau melakukan sesuatu, serta diakrabkan dengan kata-kata jihad, seperti dengan nyanyian tentang keindahan jihad, atau berpakaian dengan bertuliskan mujahid kecil dan lain-lain.

Pendidikan seperti ini sangat efektif membangun jiwa anak untuk mencintai jihad dan menyelesaikan masalah dengan baik. Sebagai contoh, ada seorang anak usia TK terjatuh kemudian berdarah. Dia pun tidak menangis. Dan, setelah mencium darahnya, dia pun menangis tersedu-sedu. Ibunya bertanya, “Kenapa menangis?” Anak itu menjawab “Habis, darahnya tidak harum! Padahal kata ibu guru, darah mujahid itu harum.” Akhirnya, ibunyapun ikut menangis karena terharu melihat anaknya sangat mendambakan menjadi mujahid, pejuang dijalan Allah Swt.

BERSAMBUNG...

Tidak ada komentar: