“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu)
apabila menetapkan hukum di antara manusia
supaya kamu menetapkan dengan adil.
Sesungguhnya Allah memberi pengajaran
yang sebaik-baiknya kepadamu.
Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar
lagi Maha Melihat.”
(Surah An Nissa: 58)
apabila menetapkan hukum di antara manusia
supaya kamu menetapkan dengan adil.
Sesungguhnya Allah memberi pengajaran
yang sebaik-baiknya kepadamu.
Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar
lagi Maha Melihat.”
(Surah An Nissa: 58)
Di antara fitrah manusia adalah berubah. Jika orang ingin survive dan menikmati kehidupan ini, perubahan merupakan sebuah harga mutlak. Untuk itu, dia akan jenuh dan cenderung berontak jika berada dalam satu kondisi yang tidak mengalami perubahan. Hanya, perubahan akan efektif jika diawali dengan niat yang baik dan direncanakan dengan matang; bermanfaat bagi diri sendiri dan masyarakat umumnya, agar positif serta maju, tidak berputar-putar seperti yoyo dan gasing.
Pada saat Demokrasi Terpimpin (Orde Lama), banyak orang tidak merasa puas dan menginginkan perubahan karena saat itu terjadi kontradiksi antara dua kata tersebut: demokrasi dan terpimpin. Demokrasi didefiniskan sebagai suara rakyat yang berkuasa, namun kata terpimpin lebih menunjukkan bahwa penguasa lebih bebas melakukan sesuatu. Akhirnya, pecahlah aksi demonstrasi di mana-mana.
Setelah itu lahirlah Orde Baru yang lebih layak disebut dengan ”Orde Otoriter” yang berkedok demokrasi, melalui PEMILU yang berulang-ulang dan menghasilkan single majority yang berulang-ulang pula. Sejarah ketidakadilan terulang, meletuslah demonstrasi, yang puncaknya adalah lahirnya Reformasi. Namun ternyata, banyak kalangan yang merasa tidak puas dengan orde reformasi tersebut. Akhirnya mereka melakukan berbagai aksi protes. Dan, salah satu fenomena ketidakpuasan itu adalah munculnya gerakan Golput; memilih golongan di luar sistem.
Hal ini justru mengundang pro dan kontra, bahkan ada yang sampai mengharamkannya. Perdebatan tersebut tentu saja semakin memperpanjang perjalanan masalah bangsa ini. Padahal, Islam sudah sangat jelas berbicara tentang pengelolaan kehidupan ini, mulai dari yang terkecil sampai yang terbesar; dari mengelola diri pribadi sampai yang berhubungan dengan persoalan-persoalan dunia internasional. Di antaranya adalah diktum ilahi yang terdapat dalam surah An Nissa: 58, yang berbicara tentang amanah (jujur) dan keadilan.
Sejatinya, umat Islam yang senantiasa membaca Al Qur'an, memanfaatkan secara maksimal reformasi ini, bahkan menikmatinya sebagai sarana amal untuk membangun masyarakat yang cerdas, jujur dan adil, serta memiliki pilihan untuk memberikan amanah kepada orang-orang yang jujur pula. Pekerjaan seperti ini hanya dapat dilakukan oleh orang-orang beriman, yang memiliki keyakinan sangat kuat; bermental baja, serta pandangan dan tujuan yang sangat jelas. Orang-orang beriman seperti ini, akan selalu berjuang menuju satu muara, mendapatkan rahmat dan ridha Allah. Sementara dunia dan seisinya, termasuk manusia di dalamnya, menjadi fasilitas dan sarana yang senantiasa dikelola dan dimanfaatkan agar melahirkan rahmat dan ridha-Nya.
Oleh karena itu, siapa pun dia, apapun aktivitasnya, bagaimanapun situasi dan kondisinya, dan apapun ormas ataupun parpolnya, asalkan dia mukmin, dia pasti memandang dunia ini sebagai lautan rahmat Allah swt. yang harus digarap dengan amal serta menjadi sarana berdzikir setiap saat kepada sang Khalik, yang puncaknya adalah mengingat kalimat, ”Tiada tuhan selain Allah.” Kemudian, dzikir tersebut melahirkan sikap syukur dengan memanfaatkan segala ciptaan Allah dalam kehidupan ini seoptimal mungkin, sehingga reformasi ini tidak berwajah garang, bertangan besi, menebar teror, dan lain sebagainya, namun ramah dan memberikan kesejahteraan lahir dan batin kepada masyarakatnya.
Mukmin reformis yang bercita-cita seperti inilah yang layak mendapatkan amanah dari masyarakat. Dan, mukmin reformis seperti ini hanya akan menjadi harapan bagi orang-orang yang sudah reformis pula. Kenapa George Walker Bush terpilih menjadi presiden Amerika dua periode, sementara ketika berkunjung ke Irak dia dilempar sepatu? Jawabannya, karakter Bush mewakili karakter orang Amerika, sementara orang Irak sangat bersebrangan. Oleh karena itu, pemimpin yang baik akan lahir dari masyarakat yang baik pula. Begitu pula masyarakat Arab, ketika masih jahiliyah, memusuhi dan berkali-kali mencoba membunuh Rasulullah saw. Namun, setelah menjadi masyarakat beriman, Rasulullah Saw. menjadi pemimpin yang sangat diidolakan. Untuk itu, reformasi sangat layak untuk dinikmati sebagai media membangun masyarakat yang cerdas, jujur, adil, dan sejahtera lahir serta batin.
Masyarakat Muslim adalah masyarakat yang memahami dunia ini sebagai lapangan perjuangan, yang sampai kapan pun memerlukan orang-orang yang senantiasa memiliki semangat juang yang kokoh. Mereka selalu optimis melihat masa depan dan siap menghadapi berbagai tantangan.
Tidak ada orang yang sempurna! Ketika Rasulullah saw. wafat, diselenggarakan pemilihan umum. Abu Bakar pun meraih suara terbanyak dan akhirnya terpilih menjadi khalifah. Dalam pidato pertamanya, dia mengatakan, ”Saya bukanlah orang yang terbaik di antara kalian. Jika aku benar, dukunglah! Dan jika aku salah, luruskanlah! Orang-orang yang kuat di antara kalian menjadi lemah di sisiku karena akan aku ambil hak-hak orang-orang miskin darinya. Sementara itu, orang-orang lemah akan menjadi kuat di sisiku karena akan kuberikan hak-hak mereka dari orang-orang kuat... ”
Penggalan pidato ini, menggambarkan betapa sadarnya sahabat besar Abu Bakar atas segala kekurangannya sekaligus menyadari tugasnya sebagai pemimpin untuk membela masyarakat lemah dan mengelola orang-orang kuat agar menikmati kekayaan dengan berbagi, tidak individualis, materialis, dan hedonis.
Kesadaran seperti ini sangat diperlukan sampai saat ini. Karena, diakui ataupun tidak, bangkrutnya negeri ini disebabkan oleh orang-orang yang dikhawatirkan Abu Bakar, berambisi ingin berkuasa hanya untuk memperkaya diri. Oleh karena itu, Rasulullah saw. mengingatkan, ”Jika sebuah urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, tunggulah kehancurannya.” (HR. Bukhari)
Ukuran keahlian seseorang terhadap sebuah amanah dilihat dari dua sisi, integritas dan kapabelitas. Rasulullah saw. bersabda, ”Barangsiapa yang memberikan amanah kepada seseorang, sementara ada orang lain yang lebih cakap untuk mengelola amanah tersebut, dia termasuk pengkhianat kepada Allah, Rasul-Nya, dan kepada orang-orang beriman.” (HR. Hakim)
Tidak ada orang yang sempurna! Ketika perang Yarmuk, Abu Bakar Shiddiq mengangkat Khalid bin Walid sebagai panglima perang. Sontak saja Umar bin Khattab tidak setuju karena melihat ada beberapa kekurangan dalam diri Khalid. Namun, dengan berbagai alasan Abu Bakar tetap mempertahankan Khalid bin Walid sebagai panglima dan Umar pun menerima keputusan itu. Pertempuran pun dimenangkan umat Islam. Setelah Abu Bakar wafat, Umar bin Khattab menjadi Khalifah dan beliau pun mengganti panglima Khalid bin Walid dengan yang lain. Khalid pun menerimanya tanpa protes. Namun pada akhirnya, Umar pun sadar bahwa Abu bakar tidak salah menentukan pilihan karena ternyata Khalid bin Walid, prajurit yang terbaik pada masanya.
Itulah gambaran masyarakat Muslim yang berani berpendapat, namun disertai dengan sikap saling menghormati, terutama dalam hal-hal yang bersifat ijtihadiyah; persoalan-persoalan yang harus dimusyawarahkan. Bukan mencari sosok yang sempurna, namun mencari sosok yang paling layak pada saat itu. Sementara itu, semua orang giat beramal, tanpa mempermasalahkan jabatan sebagai panglima atau bukan, pemimpin atau bukan, dan lain sebagainya.
B E R S A M B U N G . . . . .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar