Minggu, 15 Februari 2009

Menikmati Reformasi (bagian 2 - tamat)


“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak
menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia
supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran
yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar
lagi Maha Melihat.”
(Surah An Nissa: 58)
Perangkat vital lain untuk bisa merasakan nikmatnya reformasi adalah penyadaran betapa pentingnya membangun sebuah masyarakat yang memiliki sikap 'al adl (adil) dalam menyelesaikan berbagai persoalan.

Adil menurut bahasa adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya secara proporsional, sedangkan menurut istilah; adil merupakan sikap proporsional seseorang terhadap persoalan yang ditanganinya. Keadilan mutlak diperlukan oleh siapa pun, termasuk di dalam menentukan jalan hidup.

Ada kisah tentang seorang intelektual Muslim di Mesir bernama DR. Mustafa Mahmud. Sekalipun seorang Muslim, namun ia banyak menyimpan kekecewaan terhadap umat Islam, terutama yang ada di Mesir. Ia menilai bahwa orang-orang Islam itu bodoh, miskin, kotor, semerawut, suka bertengkar, dan lain-lain sehingga akhirnya ia pun berpindah agama menjadi seorang Nasrani.

Akan tetapi, ketika menjadi seorang Nasrani, ia malah mengalami kekecewaan lebih banyak lagi karena ternyata, bukan hanya orang-orang Nasraninya yang tidak benar, setelah ia menganalisa, ajarannya pun justru tidak benar dan sulit dipahami. Ia pun “hijrah” menjadi seorang Yahudi. Namun, kekecewaannya justru menjadi-jadi karena, bukan saja ajarannya yang meragukan, Yahudi banyak mengajarkan kejahatan kemanusiaan. Akhirnya ia meninggalkan semua agama dan menjadi Komunis. Hidupnya menjadi terlunta-lunta, tidak memiliki pegangan dan tujuan hidup yang jelas.

Akhir cerita, ia menjadi seorang Muslim lagi dan mengkaji ajaran agama terakhirnya ini dengan sungguh-sungguh. Sampai akhirnya ia menyimpulkan, agama Islam adalah yang sempurna dan manusiawi, menuntun ke arah hidup yang bahagia lahir dan batin, bahkan dunia dan akhirat, sekalipun orang-orangnya masih banyak yang belum islami. Sementara ajaran di luar Islam, bukan saja pemeluknya yang tidak bisa dipertanggungjawabkan, ajarannya pun tidak memberikan harapan.

Ia menyimpulkan, ilmu pengetahuan sangat bermanfaat jika dimiliki oleh orang-orang beriman, dan sebaliknya, sangat berbahaya jika dimiliki oleh orang-orang non-Muslim. Hemat penulis ketika berada di Kairo, ia adalah seorang Muslim yang taat beribadah. Ia pun pengisi tetap acara Iman dan Ilmu Pengetahuan di salah satu TV swasta di Kairo.

Ini adalah salah satu contoh sikap adil dalam menilai dan menyikapi agama. Artinya, secara proposional mengkaji ajaran agama dan kemudian menyimpulkannya serta mengamalkan dan menyebarkannya kepada masyarakat.

Dewasa ini, yang disebut Masa Reformasi adalah semua orang bebas berbicara dan berpendapat, bersikap dan berekspresi, yang dampaknya sangat berbahaya bagi masyarakat, jika penduduk negeri tercinta ini tidak memiliki sikap adil terhadap berbagai informasi yang tidak jelas dari mana asalnya dan bagaimana kebenaran peristiwanya. Bisa jadi ada berita atau pemikiran yang dijungkir balikkan yang mengemuka menjadi opini publik, karena diprovokasi oleh misi-misi tertentu, sehingga dunia ini seolah-olah hutan rimba, yang hanya dikuasai oleh binatang buas pencari mangsa, yang sama sekali tidak ada kebaikan dan keadilannya.

Sejatinya, bagi umat Islam yang mendapatkan perintah untuk bersikap adil di tengah-tengah masyarakat manusia, seperti yang tertuang di dalam QS An-Nissa di atas, mereka harus sudah memiliki sikap yang jelas dan penilaian yang adil terhadap berbagai informasi yang diterimanya. Apalagi pada situasi dan kondisi yang beberapa saat lagi akan melaksanakan pemilihan anggota legislatif, tidak mustahil di antara sekian banyak peserta PEMILU yang jujur dan adil, adapula yang memancing ikan di air keruh. Sehingga bukanlah mendapatkan ikan dan menikmatinya secara nyaman dan tentram, akan tetapi justru menikmati kekeruhan air dan kekacau balauan, yang berakibat Reformasi ini bukan dinikmati oleh masyarakat banyak, justru malah menguntungkan segelintir orang saja.

Berkenaan dengan perintah Allah swt. tentang sikap adil, bukan saja hal itu kepada orang-orang muslim, akan tetapi terhadap masyarakat manusia secara keseluruhan, tanpa membedakan latar belakang almamater, golongan, ormas, parpol, bahkan agama sekalipun. Karena sikap tidak adil akan berdampak sangat fatal bagi kehidupan masyarakat manusia, seperti halnya menunaikan amanah. Siapapun yang memberikan amanah, maka hendaklah ditunaikan dengan sebaik-baiknya amanah tersebut.

Al Imam Ali pernah melakukan protes terhadap seorang hakim ketika memiliki perkara dengan seorang Yahudi. Karena sang hakim memanggil beliau dengan gelarnya, sementara memanggil seorang Yahudi dengan hanya namanya. Imam Ali meminta kepada hakim, agar panggilan tersebut disamakan, tanpa membeda-bedakan latar belakang agama maupun kedudukannya.
Pada cerita yang lain, ketika seorang yang bernama Tu'mah bin Ubayirik, mencuri baju perang dari salah seorang tetangganya; bernama Qotadah bin Nu'man, yang kedua-duanya adalah beragama Islam. Karena takut ketahuan atas perbuatannya, maka baju perang itu disembunyikan di dalam karung berisi tepung gandum. Lalu ia pun setelahnya pergi menuju rumah Zaid bin As-Samin; seorang Yahudi, dan menyembunyikan karung berisi baju perang dan tepung tersebut di rumah Zaid. Ceceran tepung berserakan di sepanjang jalan, meninggalkan jejak yang nyata. Sehingga orang-orang mudah mengetahuinya, bahwa Zaid lah pelakunya.

Namun banyak orang Yahudi yang menyaksikan Tu'mah membawa karung tersebut. Kemudian keluarga Tu'mah pun datang melaporkan Zaid kepada Rasulullah saw. Sedangkan dari pihak Zaidpun banyak yang bersaksi atas peristiwa tersebut. Terjadilah perdebatan, dan keluarga Tu'mah pun terdesak, sehingga mereka memohon kepada Rasulullah untuk menghukum Zaid yang beragama Yahudi dan membebaskan Tu'mah yang Muslim. Dengan alasan, jika tidak demikian berarti Islam akan tercoreng, sedangkan Zaid yang beragama Yahudi akan bebas. Namun demikian tiba-tiba turunlah surah An-Nissa ayat 107, yang mengingatkan Rasul agar tidak berpihak kepada ”pengkhianat”.

Kemenangan umat Islam selalu diraih melalui keadilan, bukan dengan kezhaliman. Sejak jaman Rasul sampai saat ini tidak ada sejarahnya berdakwah dengan cara-cara kotor, melalui penjajahan, kecurangan, pengusiran, atau penganiayaan. Sekalipun ada yang disebut dengan perang ”Sabil”, namun selalu diwarnai dengan akhlaq yang baik; tidak boleh membunuh orang tua, wanita, anak-anak, merusak tempat ibadah dan tanaman yang sedang berbuah dan lain-lain, sangat berbeda dengan cara-cara yang dilakukan oleh non muslim.

Di dalam membangun sebuah negara, amanah dan adil ini merupakan dua prinsip yang tidak bisa ditinggalkan. Karena dengan keduanyalah tegaknya sebuah negara, sehingga Allah pun menyebutnya; bahwa perintah amanah dan adil ini merupakan nasihat yang terbaik dari pada-Nya untuk kita semua. Dan Allah pun memberikan jaminan, bahwa menegakkan amanah dan keadilan ini akan senantiasa diawasi, sejak lahir sampai bathin, mulai niat sampai sikap. Artinya bahwa amanah dan adil ini bukan sekedar persoalan hubungan dengan sesama manusia di dunia saja, akan tetapi persoalan agama yang akan mengantarkan kebahagiaan hidup di dunia sampai akhirat.

Wallahu a'lam.

Tidak ada komentar: