Minggu, 22 Maret 2009

Pilar-pilar Masyarakat Sakinah (bagian 5 - Yakin atas Kasih Sayang Allah swt - Tamat)


“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya) jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (Q.S. An Nisâ': 59)

Yakin akan kasih sayang Allah merupakan kata kunci untuk memahami ayat di atas. Bahwa syari'at Allah swt. yang paling utama dan yang paling baik akibatnya, apabila diterapkan dalam kehidupan. Bagi umat Islam, kasih sayang Allah swt. senantiasa dirasakan setiap saat, terutama ketika merenungkan ayat-ayatnya, baik yang tersurat di dalam kitabullah ataupun yang tersirat di alam semesta. Lebih terasa lagi ketika renungan tersebut tidak semata-mata melalui hati dan pikiran, akan tetapi disertai dengan aktifitas mengikuti sunatullah yang berlaku di dalam kitab-Nya dan di alam ciptaan-Nya. Hal ini, karena Islam merupakan agama yang memadukan antara dunia sebagai lapangan kerja dan Al Qur'an sebagai petunjuknya.

Memang, sering kali kita jumpai komentar orang-orang yang belum merasakan nikmat kasih sayang Allah Swt, bahkan tidak sedikit dari mereka yang mengaku dirinya muslim. Mereka berkata: “Bahwa ternyata syari'ah Islam tidak semuanya baik dan bisa diterapkan pada masyarakat kita saat ini, sebagai contoh diantaranya; lembaga pendidikan Islam yang masih tertinggal, atau lembaga keuangan syari'ah yang gagal, atau lembaga politik Islam yang tidak mampu memberikan solusi terhadap masalah yang berkembang dimasyarakat dan lain sebagainya.

Pernyataan ini menggambarkaan betapa dangkalnya pemahaman mereka terhadap syari'ah dan betapa kasih sayang Allah belum dirasakan oleh orang-orang seperti ini. Padahal Allah swt. memberikan kasih sayangnya kepada umat manusia sejak mereka diciptakan, berupa alam raya beserta segala kekayaannya yang sangat lengkap, sesuai dengan kebutuhan manusia itu sendiri. Kemudian Allah swt. menciptakan manusia sebagai makhluk yang layak untuk tinggal di muka bumi dengan seperangkat anggota tubuh, yang sesuai dengan kebutuhan hidupnya. Lalu Allah menciptakan hati nurani dan akal pikiran yang siap untuk memahami kehidupan ini dengan baik.

Selanjutnya Allah menurunkan kitab bersama Rasul agar dijadikan pedoman dan teladan, agar hidup ini sejahtera dan bahagia. Berbagai kenikmatan tersebut merupakan satu paket rahmat Allah swt., yang antara satu sama lain tidak dapat dipisahkan. Jika semua kenikmatan tersebut dikelola dengan penuh rasa syukur kepada-Nya, niscaya kasih sayang Allah akan terus bertambah dengan berupa pertolongan-Nya. Namun sebaliknya jika kasih sayang Allah yang sudah diberikan ini tidak diterima dengan baik; alias kufur kepada nikmat tersebut, maka kasih sayang Allah akan dirasakan sebagai beban berat di dalam kehidupan ini. Bahkan berakibat fatal. Karena di akhiratpun akan binasa; alias masuk neraka jahanam.

Berbicara tentang syari'ah, yang katanya sering kali tidak memberikan kebaikan, banyak hal yang perlu dikaji ulang. Mungkin karena tujuannya salah, embel-embel kata syari'ah hanyalah untuk mengelabui orang lain, bukan untuk memperbaiki kehidupan dan memberikan kasih sayang kepada orang lain. Atau karena pemahamannya yang salah, sehingga pelaksanaannya tidak sesuai dengan aturan yang sesungguhnya, atau mungkin tujuannya ikhlas mencari ridha Allah swt. dan membangun silaturahim. Atau pemahamannya juga benar, namun pelaksanaannya belum sesuai dengan kebutuhan lapangan.

Dengan demikian, apabila menemukan lembaga apa saja yang berembel-embel syari'ah, sementara belum menjadi solusi ditengah-tengah masyarakat, bahkan menjadi beban bagi mereka, hendaklah dikaji ulang dengan seksama. Karena Rasulullah saw. pun menyebarkan Islam tidak hanya satu hari, akan tetapi berlangsung selama 23 tahun. Mulai dari seorang diri sampai diikuti oleh puluhan ribu orang, beliau mengawali dari persoalan aqidah sampai membuat struktur kepemimpinan dalam masyarakat. Hal ini menggambarkan Rasulullaah saw. melakukan da'wahnya dengan cara-cara yang realistis dan manusiawi, sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada, sesuai juga dengan kebutuhan manusia.

Sejak awal syari'ahnya tidak pernah berubah, yaitu kitabullah yang turun dari Allah swt. secara berangsur-angsur dan diaplikasikan oleh Rasulullah saw. di dalam sunnahnya. Namun yang berubah adalah metode dan sarana menerapkan kitabullah tersebut, sehingga dengan cara seperti itu syari'ah menjadi pegangan yang tidak pernah lepas. Sementara cara penerapannya senantiasa dikaji dan dievaluasi hingga ditindak lanjuti dengan cara yang amat luas dan luwes disertai hati yang lapang dan pikiran yang luas; yakni hati yang ikhlas untuk mencari ridha Allah dan ingin memberikan kasih sayang terhadap sesama, dan pikiran yang memiliki berbagai alternatif pilihan yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi masyarakatnya.

Memang, menerapkan syari'ah seperti ini tidak bisa dilakukan sendirian. Di samping memerlukan orang yang benar-benar menyukuri nikmat kasih sayang Allah dan mengelolanya dengan cerdas dan sungguh-sungguh, juga memerlukan para ahli di bidangnya masing-masing, sehingga syari'ah akan dapat diterapkan secara benar, tepat sasaran, sesuai dengan petunjuk Allah dan RasulNya, serta dapat diterima oleh masyarakat luas. Hal ini bisa terjadi, apabila sudah terbentuk sebuah jama'ah yang bergerak didalam da'wah, melalui kaderisasi yang baik dan tepat. Bukan jama'ah yang hanya menjadi kendaraan politik untuk memperkaya diri dan berebut kekuasaan. Syari'ah Islam tidak hanya melahirkan orang-orang yang senantiasa menebar kasih sayang di tengah-tengah golongannya, akan tetapi melahirkan orang-orang yang menebarkan rahmat bagi alam semesta.

Bahkan dalam sejarah, Rasulullah saw. membuktikan bagaimana tata cara beliau dalam berkomunikasi. Masyarakat selalu merasa sangat dekat ketika berdialog dengannya, baik lawan dialognya sahabat beliau atau bukan, bahkan muslim atau pun non muslim. Sehingga setiap terjadi miskomunikasi antara beliau dengan orang lain, yang kemudian diselesaikan dengan dialog, selalu mendapatkan solusi yang baik. Salah satu contohnya adalah peristiwa pembangunan Madinah, yang diawali dengan dialog bersama dengan orang-orang Yahudi dan Musyrikin, yang kemudian melahirkan Piagam Madinah. Contoh lain adalah perdamaian Hudaibiyah. Ketika terjadi ketegangan antara orang-orang Madinah, yang akan berhaji, dengan orang-orang kafir Mekkah yang ngotot tidak memberikan izin kepadanya. Kemudian terjadi dialog antara Rasulullah saw. dengan mereka yang melahirkan perjanjian perdamaian Hudaibiyah.

Para ulama merumuskan, bahwa seorang muslim hendaknya memiliki jiwa besar dan sikap yang luwes dalam percaturan dunia. Mereka menglasifikasi cara komunikasi umat Islam melalui 3 jenis persaudaraan yaitu; pertama, ukhuwah Islamiah (persaudaraan Islam), cara berkomunikasinya adalah dengan merumuskan bagaimana cara menterapkan syari'ah dalam kehidupan, sedangkan persoalan khilafiah (perbedaan pendapat para ulama terdahulu) akan dikajinya dengan seksama, kemudian mengambil yang terbaik, dengan tanpa menyalahkan orang lain. Dan persoalan ini bukan sesuatu yang harus dipaksakan oleh pemimpin kepada masyarakatnya, akan tetapi persoalan pribadi masing-masing dengan Allah swt., seperti; masalah qunut subuh, batal atau tidak batal wudhu dengan bersentuhan lawan jenis yang bukan muhrim dan lain sebagainya. Kedua, ukhuwah wathaniah (persaudaraan kebangsaan), merumuskan kehidupaan bernegara, dengan tanpa melepaskan identitas dirinya sebagai muslim, walaupun bahasa komunikasinya disesuaikan dengan berbagai persoalan bangsa yang sedang dihadapi, serta disesuaikan dengan pemahaman masyarakat terhadap persoalan bangsanya. Dan yang ketiga, ukhuwah insaniah (persaudaraan kemanusiaan), dengan tanpa melepaskaan identitas dirinya sebagai muslim, sekaligus menjadi salah seorang warga negara NKRI, namun dia mampu berkomunikasi dengan masyarakat Internasional dengan bahasa kemanusiaannya, seperti menghadapi persoalan kebijakan internasional yang dimotori oleh barat (western), terutama Amerika Serikat, berkenaan dengan standar ganda dalam menyelesaikan persoalan dunia. Demokrasi untuk mereka berbeda dengan untuk negara-negara muslim, begitu pula berkenaan dengan hak azasi manusia, terorisme, pluralitas dan isu-isu lainnya.

Masyarakat muslim dan para pemimpinnya dituntut untuk memiliki pemahaman dan kemampuan yang baik, berkenaan dengan penerapan syari'at Islam, agar dapat menikmati rahmat Allah swt. di dunia sampai ke akhirat. Insya Allah, siapapun orangnya, darimana pun datangnya, apabila berinteraksi dengan syari'at Islam dengan sungguh-sungguh, ia akan memiliki semangat mentaati Allah dan RasulNya, serta senantiasa berusaha memberikan amanah kepemimpinan kepada orang-orang yang taat kepada Allah dan Rasulnya, disertai semangat mengkaji, mengevaluasi dan merumuskan, agar syari'at Allah dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, bagi dirinya sebagai individu, bagi masyarakatnya, bahkan bagi dunia internasional, melalui komunikasi yang luwes, tidak kaku dan luas, tidak picik serta dirasakan oleh masyarakatnya. Bahwa misi orang tersebut tiada lain sebagai penebar kasih sayang. Sikap seperti ini akan diakui oleh masyarakat sebagai orang yang baik hatinya, akalnya dan aktifitasnya serta akan mendapat tempat yang lebih baik di akhirat kelak. Dzalika khairuw wa ahsanu ta' wila (yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya).

Untuk itulah seorang ahli filsafat sejarah Islam; Ibnu Khaldun, yang diakui sebagai gurunya oleh Toynbee, mengatakan bahwa negara dalam Islam tidak ditentukan corak dan bentuknya, namun yang perlu diperhatikan adalah sistem kepemimpinannya disesuaikan dengan syari’at Islam.

Tamat, Wallahu A'lam

Tidak ada komentar: