“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang salah. Karena itu, barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. Al-Baqarah : 256)
Sejak awal, Islam lahir dan berkembang di tengah-tengah masyarakat Arab jahiliyah, dianut oleh kebanyakan orang- orang yang lemah. Sementara itu, kalangan bangsawan menolaknya dengan cara-cara kekerasan; penyiksaan, pengusiran, bahkan sampai pembunuhan. Namun demikian, masyarakat Muslim terus bertambah. Hal ini menjelaskan bahwa mereka memilih Islam berdasarkan kesadaran dan kecerdasan. Salah sekali jika ada orang yang masih berpersepsi bahwa Islam disebarkan dengan pedang; kekerasan fisik dan revolusi ekstrim, seperti yang dituduhkan orientalis saat ini.
Ayat di atas merupakan argumen kuat bahwa Islam menolak paksaan dalam beragama. Islam adalah agama yang mengajarkan kecerdasan dalam segala hal; kecerdasan pikiran, kecerdasan hati nurani, dan kecerdasan amal, sebagaimana halnya ayat yang paling pertama diturunkan yaitu surah Al Alaq ayat 1,
“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan!”
Ayat tersebut memberikan gambaran bahwa betapa kasih sayang Allah swt. dan penghormatan-Nya kepada manusia sedemikian tinggi. Sehingga manusia tidak disamakan dengan makhluk lainnya yang tidak memiliki pilihan dalam hidupnya. Aktivitasnya pun terulang-ulang tanpa mengalami kemajuan dan perkembangan, seperti gerakan matahari dan bulan, gerakan bumi dan air, bahkan termasuk gerakan binatang.
Kemajuan dunia ini sangat bergantung kepada kemajuan berpikir manusia melalui proses membaca dan menganalisa. Manusia diciptakan sebagai khalifah di muka bumi ini memiliki tugas utama agar selalu menuntut ilmu. Bahkan, dalam Al Qur'an, kata-kata yang berkaitan dengan ilmu seperti akal, pikiran, membaca, memerhatikan, dan sejenisnya, lebih dari 700 kali diungkapkan. Hal ini menjelaskan bahwa betapa pentingnya pencerdasan dalam Islam. Rasulullah saw. bersabda,
“Carilah ilmu sejak dalam buaian ibu sampai liang lahat!”
Saat ini, ada kecenderungan memaksakan kehendak agar orang lain mengikuti keinginannya, dengan menghalalkan segala cara; melakukan pelanggaran terhadap aturan yang sudah disepakati, money politic, memberikan janji yang mustahil diwujudkan, ancaman teror fisik maupun psikis yang makin menumbuhkan sikap ketakutan dan kecemasan, pengucilan, dan lain-lain. Hal ini sangat kontradiktif dengan ajaran Islam. Dan, tentu saja cara-cara kotor seperti ini tidak akan berdampak pada pencerdasan dan kemajuan ke arah positif negeri ini.
Kecerdasan Rasulullah dalam Menarik Simpati Masyarakat
Kehidupan umat Islam berkembang sangat pesat dalam berbagai bidang, terutama yang berkenaan dengan keyakinan dan kecerdasan, karena pengikutnya adalah orang-orang yang sangat cerdas; memerhatikan langsung figur Rasulullah saw. beserta para sahabatnya, yang berhasil dibina oleh beliau. Sekalipun dalam kondisi sulit dan sempit karena berbagai tekanan yang dilakukan oleh orang-orang jahiliyah, Rasulullah saw. bersama para sahabatnya tetap stabil dalam meningkatkan kualitas diri, menimba ilmu pengetahuan, bergerak dengan sistematik, dan beramal dengan cara-cara yang terhormat dan manusiawi.
Dengan gaya hidup seperti inilah Rasulullah saw. bersama para sahabat berhasil menarik simpati para tokoh masyarakat yang berbeda agama, seperti 'Adi bin Hatim, seorang tokoh Nasrani yang dermawan, yang kemudian dalam perjalanan waktu, ia bersyahadat di depan Rasulullah saw., Tamim Ad Dari, seorang Nasrani yang sengaja menempuh perjalanan yang amat jauh demi berjumpa Rasulullah saw. untuk masuk Islam, Suhaib bin Sinan, seorang Nasrani Romawi yang sudah lama merantau di Mekkah yang selanjutnya masuk Islam, Salman Alfarisi yang beragama Majusi kemudian menjadi Nasrani dan akhirnya masuk Islam, dan Adas, seorang Nasrani yang menjadi budak di Thaif, setelah berjumpa Rasulullah saw., ia pun masuk Islam karena tertarik dengan akhlak beliau. Semua itu berlangsung atas dasar kesadaran masing-masing, bukan karena paksaan dan ancaman. Karena kecerdasan inilah, ketika mereka memeluk ajaran Islam, mereka berhasil menjadi figur-figur yang dihormati dan dikenang sepanjang sejarah.
Jika kita mengkaji perkembangan agama lain, kental dengan nuansa kekerasan. Seperti halnya Romawi, di sana orang-orang Nasrani mendapat perlakuan kasar dari para rajanya, sehingga di antara mereka ada yang diusir dan dibunuh. Kemudian, setelah raja itu masuk Nasrani, orang-orang yang tidak beragama Nasrani diusir, bahkan dibunuh. Begitupula di Spanyol, ketika negara itu berada dalam naungan Islam, orang-orang Yahudi dan Nasrani, sebagai kelompok minoritas, dapat hidup berdampingan dengan umat Islam. Namun, setelah Nasrani berkuasa, dalam waktu singkat umat Islam dihabisi. Sampai-sampai, jika ada orang tua yang ketahuan mengajarkan Islam kepada anaknya, ia dibunuh.
Saat ini pun masih terjadi pemaksaan di negara-negara Eropa yang sekuler terhadap umat Islam minoritas untuk tidak melakukan praktik-praktik keislaman, seperti memakai jilbab, mengumandangkan adzan, label sertifikasi dan pengadaan makanan dan minuman halal, membangun masjid, shalat wajib dan shalat jumat di kantor-kantor, intitusi pendidikan dan ruang publik lainnya, mendirikan lembaga ekonomi dan bank syariah, dan lain sebagainya. Malah, umat Islam justru dipaksa untuk mengikuti gaya hidup mereka yang sekuler, materialis dan hedonis, yang jauh dari ajaran Islam.
Memang, di dalam ajaran Islam ada yang disebut dengan perang, namun bukan untuk memaksa orang menganut agama Islam. Perang tersebut hanyalah untuk mengentaskan kezhaliman. Oleh karena itu, setiap kali umat Islam akan bertempur dengan kaum musyrikin, ditawarkan kepada mereka 3 hal; Pertama, menganut agama Islam sehingga hak dan kewajibannya sama dengan umat Islam lainnya, kedua, tetap menganut agamanya namun membayar jizyah sebagai jaminan untuk kehidupan mereka, dan ketiga, tidak kedua-duanya, namun konsekuensinya diperangi untuk meruntuhkan kezhaliman mereka.
Dari sekelumit sejarah di atas dapat kita simpulkan bahwa peperangan dalam Islam bukanlah untuk memaksakan agama Islam, namun untuk merebut kepemimpinan dan sistemnya dari orang-orang zhalim agar masyarakat tidak terhalang masuk Islam. Contoh lain, ketika ada segelintir minoritas Nasrani di wilayah kesultanan Turki, lalu sultan memerintahkan supaya kelompok tersebut dipaksa masuk Islam atau dibunuh karena mereka selalu mengganggu stabilitas; menghasut rakyat dan memprovokasi keributan. Namun, para ulama pada saat itu menolaknya dengan alasan bahwa tidak ada paksaan dalam agama. Seandainya agama Islam boleh disyiarkan dengan cara paksa, sudah barang tentu Allah swt. tidak akan memberikan pilihan melalui akal dan hati nuraninya. Allah swt. berfirman,
“Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang ada di muka bumi seluruhnya. Maka, apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?” (QS Yûnus: 99)
Ayat tersebut sekaligus merupakan koreksi terhadap Rasulullah saw. dan kepada kita sebagai pengikutnya agar tidak memaksa orang untuk beriman karena keimanan persoalan hati yang tidak bisa dipaksakan oleh orang lain kecuali atas izin Allah. Hidayah itu hanya urusan Allah semata. Tugas kita hanyalah menyampaikan petunjuk Allah dengan bijak dan cerdas sehingga benar-benar dapat dipahami dengan baik dan terbukti memberikan kenikmatan dalam kehidupan ini dan memberikan keyakinan akan adanya kebahagiaan hidup di akhirat kelak. Seandainya Allah menghendaki, niscaya semua yang ada di bumi ini beriman kepada-Nya dan hal itu sangat mudah bagi-Nya; tidak memerlukan dakwah kita sebagai umat Islam, tidak harus menguras energi untuk membuat taktik dan strate»gi dakwah agar manusia menggunakan kecerdasannya untuk meninggalkan doktrin-doktrin mitos, mengentaskan kezhaliman, kebodohan dan kemiskinan.
Oleh karena itu, marilah kita menjadi Muslim yang cerdas agar menjadi pemilih yang bijak dalam menentukan arah dan target kehidupan ini. Di mulai dengan memilih agama yang menjamin keberhasilan kita untuk dapat hidup bahagia, memilih idola kita yang menjadi teladan bagi kehidupan, serta memilih orang-orang yang dapat dipercaya untuk memimpin bangsa dalam mencerdaskan masyarakat, memperteguh keyakinan dan memerbaiki aktivitas kehidupan, tanpa melakukan cara-cara yang emosional, irasional dan brutal, yang membawa keterpurukan bangsa ini.
B E R S A M B U N G . . . .
Ralat pada artikel sebelumnya:
1. Menikmati Reformasi (bagian 2)
Tertulis Surah An Nisa:107, seharusnya surah An Nisa:105
2. Pilar-pilar Masyarakat Sakinah (bagian 4)
Tertulis Surah Al Maidah:136,137,138, seharusnya Surah Al An'am:136,137,138
Tidak ada komentar:
Posting Komentar