Jumat, 08 Mei 2009

Bijak Dalam Memilih (bagian 3 - Ikhlas)


“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang salah. Karena itu, barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. Al-Baqarah : 256)

Untuk menjadi pemilih yang bijak, seorang muslim, disamping harus cerdas dan rendah hati, hendaknya memiliki niat yang ikhlas mencari ridho Allah Swt, sesuai dengan ajaran Islam yang disampaikan oleh para Rasul kepada umat manusia, yang pada intinya adalah “niat yang ikhlas”, dengan niat yang ikhlas inilah pengikut mereka berhasil memilih jalan hidup yang mudah, ringan, serta menuntun ke arah yang lurus dalam menempuh jalan kebahagiaan dunia dan akhirat.

Namun demikian, pada saat ini seringkali terjadi kesalah pahaman di tengah-tengah masyarakat, berkenaan dengan sifat-sifat terpuji yang diajarkan oleh para Rasul, termasuk diantaranya sifat ikhlas.

Di antara mereka ada yang memahami bahwa ikhlas itu adalah pekerjaan asal-asalan dengan alasan “yang penting ikhlas” atau pekerjaan tanpa ada target dan sasarannya bahkan identik dengan orang “kuuleun” tidak punya semangat, tidak punya cita-cita dan tidak punya keinginan. Padahal jika kita menelaah keterangan yang terdapat di dalam Al-Qur'an dan sunnah Rasul serta bukti sejarah yang dilakukan oleh para ulama yang saleh, betapa besarnya pengaruh niat yang ikhlas ini di dalam memicu semangat kerja dan merapihkan program, target dan sasaran-sasarannya, dengan membuat sebuah format planning kerja yang tujuan akhirnya adalah mendapatkan ridha Allah Swt dan memberikan kontribusi yang baik terhadap masyarakat di sekitarnya, atau yang disebut dengan rahmatan lil 'alamin; sebuah cita-cita yang sangat ideal, yang sangat indah didengar serta harus menjadi kenyataan di lapangan.

Islam mengajarkan kepada umatnya agar memiliki cita-cita yang ideal, sekaligus menuntunnya agar cita-cita tersebut dirintis dengan amal nyata, diawali dengan yang paling mudah, paling ringan dan paling mungkin dilaksanakan, sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah Saw.

Ketika beliau menerima wahyu yang paling pertama adalah perintah untuk membaca, selanjutnya perintah untuk berda'wah kepada keluarga terdekat, sampai akhirnya beliau diperintah untuk berda'wah kepada seluruh umat manusia. Inilah yang disebut dengan ikhlas dalam Islam.

Sejak langkah pertama, ketika masih sendirian, sampai menjadi seorang pemimpin yang diikuti oleh ratusan ribu orang bahkan jutaan atau miliaran, tidak pernah bergeser dari cita-cita besarnya, yaitu ingin mendapatkan ridha Allah, serta dapat memberikan kontribusi terhadap pembangunan dunia.

Silaturahim terus berlanjut, bahkan semakin besar kontribusinya manakala target-target tersebut berhasil dilalui dengan baik. Sebaliknya, apabila seorang muslim mencapai target yang dibuatnya, kemudian masyarakat yang ada di sekitar tidak merasakan hasilnya, dan cenderung antipati, apalagi sampai mencabut dukungan, hendaklah mengadakan evaluasi dan introspeksi diri, karena dikhawatirkan “niatnya tidak ikhlas” mencari ridha Allah Swt. Dia berjuang hanya mencari keuntungan duniawi, kedudukan dan kekayaan semata.

Ayat 256 surat Al-Baqarah ini, mengingatkan kepada umat Islam agar bijak dalam menentukan pilihan, berdasarkan akal sehat dan hati nurani yang bersih, cerdas, rendah hati serta ikhlas lillahi ta'ala.
“...barangsiapa yang ingkar kepada Thâghût dan beriman kepada Allah, sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang sangat kuat...” (Q.S. 2 : 256)

Ayat ini mengajarkan, bahwa prosesi membersihkan hati adalah pertama-tama dengan mengingkari segala bentuk Thâghût (segala sesuatu yang “dipertuhankan" selain Allah Swt) seperti syetan, hawa nafsu, perdukunan, berhala, kekuasaan, kekayaan dan seterusnya. Itu semua harus dibersihkan dari hati nurani, jangan sampai menjadi tuhan yang dipuja, dan mengendalikan kehidupannya. Kemudian setelah bersih dari kotoran tersebut, hendaklah hati nurani diisi dengan beriman kepada Allah, dengan membangun keyakinan bahwa hanya Allah yang berhak disembah dan dijadikan tujuan. Sedangkan jaminan Allah kepada orang beriman seperti ini, mereka akan mendapatkan pilihan yang tepat, yang membuat ketenangan dan ketentraman, seolah-olah berpegang kepada tali yang kokoh dan kuat, yang tak akan pernah lepas untuk selamanya, karena Ialah sebagai pilihan terakhir sejak hidup di dunia ini sampai mati dan berjumpa dengan-Nya di akhirat kelak.

Hanya saja, proses untuk menjadi seorang muslim yang ikhlas, memerlukan semangat yang sungguh-sungguh dan serius bertempur melawan Thâghût, yaitu iblis dan antek-anteknya. Al-Quran mengupas kisah Adam As dan Iblis ini di dalam tujuh surah berulang-ulang, yaitu surah Al-Baqarah, Al-A'raf, Al-Haj, Al-Isra, Al-Kahfi, Thaha dan surah Shad. Pengulangan tersebut menggambarkan betapa pentingnya kisah ini untuk selalu diingat dan betapa bahayanya apabila manusia tergelincir karena godaan Iblis dan sekutu-sekutunya.

Di antara isi kisah Adam dan iblis adalah tentang perintah Allah Swt kepada malaikat agar bersujud “sebagai penghargaan” kepada Adam. Seluruh malaikat taat kepada-Nya kecuali iblis, ia menolak perintah Allah dengan alasan “iblis merasa lebih baik daripada Adam” karena Iblis diciptakan dari api sementara Adam diciptakan dari tanah. Dengan perasaan inilah ia enggan melaksanakan perintah Allah Swt. Di satu sisi ia telah sombong, dan di sisi lain dia tidak ikhlas melaksanakan perintah Allah karena perasaannya terkotori oleh kesombongan yang tidak rasional; mengukur nilai kebaikan berdasarkan asal-usul kejadian. Padahal api dan tanah sama-sama makhluk Allah Swt dan kedua-duanya akan menjadi baik, manakala berfungsi sebagaimana mestinya dan masing-masing memiliki kelebihan sendiri-sendiri. Sebagai contoh; kita tidak akan bisa menanam jagung di dalam api dan tidak akan bisa membakar jagung dengan tanah.

Namun demikian, lebih parah lagi, kesombongan rasialisme pada manusia, karena memang antara tanah dengan api ada perbedaan. Sedangkan rasialisme manusia sering kali terjadi tanpa perbedaan yang berarti; seperti sama-sama diciptakan dari tanah namun berbeda warna kulitnya atau kulitnya sama-sama satu warna, namun berbeda tempat kelahirannya, atau bahkan warna kulit, tempat kelahirannya sama, dan masih satu keturunan, namun hanya karena perbedaan posisi lalu terjadilah saling menyingkirkan, sikut-sikutan dan lain-lain. Kesalahan ini hanya disebabkan oleh “perasan lebih dari yang lain”.

Kemudian iblis berjanji akan senantiasa memperjuangkan agar kesesatannya diikuti oleh hamba-hamba Allah lainnya dari kalangan jin dan manusia. Sedangkan yang memiliki kekuatan untuk melawan iblis dan antek-anteknya hanyalah hamba-hamba yang ikhlas dijalan Allah Swt. Seperti dikisahkan dalam Al-Quran surah 15 : 39-40 :
“...dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya,kecuali hamba-hamba Engkau yang ikhlas di antara mereka".

Kisah di atas memberikan jaminan kepada orang orang yang ikhlas, mereka tidak akan pernah terkalahkan oleh perjuangan iblis, sekaligus menggambarkan profesionalisme orang yang ikhlas, ia tidak akan tergoda dan akan berhasil meraih cita-citanya; bahagia dunia akhirat. Sementara itu, persoalan ikhlas hanya dapat diidentifikasi oleh orang yang besangkutan bersama Tuhan-nya. Sedangkan orang lain tidak akan bisa memastikan apa orang tersebut ikhlas, atau tidak.

Rasul pernah menggambarkan bahwa “syirik kecil (tidak ikhlas) seperti semut kecil yang hitam berada di atas batu hitam di tengah kegelapan malam”.

Artinya sangat sulit untuk menilai keikhlasan seseorang, karena perjuangan di dunia ini, muslim ataupun kafir memiliki lapangan garapannya sama, yaitu dunia. Namun yang membedakannya adalah niat karena Allah atau bukan dan ingin memberikan kasih sayang kepada sesama atau tidak. Kemudian dampak dari niat ikhlas atau tidak ikhlas ini akan melahirkan hasil yang sangat jauh berbeda, bagi diri yang bersangkutan ataupun bagi masyarakat.

Sulit menilai niat seseorang ketika terjadi rebutan suara legislatif, pejabat daerah ataupun capres dan cawapres, siapakah yang ikhlas di antara mereka. Namun kita semua akan merasakan dampak dari niat tersebut manakala mereka sudah mulai bekerja. Dan Insya Allah apabila kita memilih mereka dengan ikhlas, maka yang terpilihpun akan terdiri dari orang-orang yang ikhlas juga. Karena pilihan kita yang bersih, tidak terkotori oleh kepentingan sesaat, dan terjamin tidak akan tergelincir oleh bujukan syetan. Sedangkan apabila salah pilih, orang ikhlas akan mengevaluasi dan mengintrospeksi diri, agar pilihan selanjutnya tidak mengulangi kesalahan.
B E R S A M B U N G . . . .

Tidak ada komentar: