Jumat, 08 Mei 2009

Bijak Dalam Memilih (bagian 4 - Dzikrullah)


”Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS 13 : 28)

Seorang muslim, agar hidupnya sukses di dunia dan di akhirat, hendaknya senantiasa berdzikir kepada Allah Swt., yaitu dengan mengingat-Nya dan merenungkan ayat-ayat yang menjadi tanda Keagungan dan Kekuasaan-Nya.

Aktivitas mengingat menjadi sangat mudah dilakukan, apabila berhubungan dengan sesuatu yang sangat menarik. Seperti halnya al-Qur'anul Karim; ia mudah diingat, karena diturunkan di tengah-tengah masyarakat yang ummi, mayoritas penduduknya tidak bisa membaca dan menulis. Namun demikian, mereka sangat mengagumi bahasa dan sastra, sehingga orang yang disebut hebat pada saat itu, adalah mereka yang mampu mengutarakan buah pikiran dan gagasannya dengan bahasa yang sangat indah, melalui pidato atau melantunkan sya’ir. Semakin menarik bahasa yang disampaikan, maka semakin populer orang yang menyampaikannya. Dalam situasi seperti itulah al-Qur'an diturunkan.

Sekalipun kebanyakan masyarakat Arab pada saat itu, tidak bisa membaca dan menulis, namun karena bahasa al-Qur'an sangat menarik bagi mereka, maka al-Qur'an pun sangat mudah diingat dan dihafal, bahkan apabila ada salah seorang sahabat yang tidak hadir ketika al-Qur'an dibacakan oleh Rasul, ia dengan gigih mencari orang yang hadir dan mendengarkannya. Sementara itu, orang-orang yang mampu baca tulis, walaupun sangat sedikit, mereka sangat sibuk mencatat ayat demi ayat yang disampaikan oleh Rasulullah Saw. Dengan demikian al-Qur'an sudah ditulis sejak diturunkan. Sedangkan yang tidak menulisnya, mereka rata-rata hafal al-Qur'an.

Berbeda dengan kitab lainnya, seperti Taurat, baru ditulis dengan rapih, 400 tahun setelah nabi Musa As meninggal dunia, begitu pula kitab Injil, baru ditulis dengan rapih 300 tahun setelah nabi Isa As meninggal dunia. Itu pun tidak dalam bahasa asli yang sesuai dengan yang disampaikan oleh nabi Isa As atau pun nabi Musa As. Bahkan kebenarannya pun banyak yang mempertanyakannya.

Sedangkan al-Quran, bukan hanya bahasanya yang asli, akan tetapi setiap kalimat bahkan setiap kata dan setiap hurufnya sesuai dengan bacaan Rasulullah Saw. Sekalipun al-Quran yang kita baca pada saat ini adalah mushaf Utsmani, yang ditulis pada masa khalifah Utsman ra., namun bisa dibaca dengan beragam bacaan sesuai aslinya, yang belum memakai tanda baca dan tanda huruf. Kualitasnya pun sampai saat ini masih terjaga sebagai “kitab suci” dengan bahasa Arab terindah di dunia, sejak 14 abad lewat bahkan sampai hari kiamat Insya Allah. Sebagaimana firman-Nya:
”Sesungguhnya kami telah menurunkan Al-Quran dan sesungguhnya kami yang memeliharanya” (QS. 15 : 9)
Dapat dibayangkan apabila pada saat ini, ada teks bahasa Indonesia yang ditulis 14 abad lewat, tentu saja kita akan bingung membacanya, atau teks itu bisa dibaca apabila mengalami ratusan bahkan ribuan kali perubahan. Itulah keistimewaan al-Quran; sebagai mu’jizat Rasulullah Saw.

Sedangkan umat terdahulu, yang sangat menarik bagi mereka adalah yang bersifat inderawi yang sangat terbatas. Seperti pada zaman nabi Musa As; yang dibanggakan mereka adalah kehebatan para dukun dan ahli sihir. Semakin hebat sihirnya, semakin populer orang yang melakukannya, sehingga yang menarik bagi mereka dari kehebatan nabi Musa adalah tongkat beliau, yang dapat mengalahkan tongkat para tukang sihir, dan itu pula yang senantiasa diingat oleh mereka. Sementara itu, kitabnya bukan sesuatu yang menarik bagi mereka.

Begitu pula kaum nabi Isa As, yang menarik bagi mereka adalah kehebatan ilmu pengetahuan, terutama yang berkaitan dengan kimia dan fisika. Orang-orang hebat pada saat itu adalah para ahli di bidang kimia dan fisika. Kemudian Allah pun menurunkan mu’jizat kepada nabi Isa As berupa tanah yang disulap menjadi burung, kemudian ditiupnya lalu burung itupun terbang. Bagi mereka kehebatan itulah yang sangat menarik dan selalu diingat.

Sedangkan bagi umat Rasulullah Saw., al-Qur’anul Karim, yang secara bahasa dan kandungannya memiliki keistimewaan yang luar biasa, yang dikaji bukan hanya oleh umat Islam akan tetapi menjadi kajian menarik bagi kalangan non muslim. Al-Qur’an sekaligus menjadi sarana berdzikir kepada Allah Swt yang maha kuasa.

Disamping itu, Al-Qur’an merupakan miniatur alam semesta, yang diungkap secara ilmiah dan sesuai dengan kebutuhan manusia sejak 14 abad lewat yang disebut dengan zaman unta, sampai saat ini yang disebut dengan zaman ilmu dan teknologi, bahkan sampai zaman masa depan yang disebut dengan ”entah zaman apa namanya?”. Al-Quran tetap up to date membimbing orang beriman menuju ketenangan dan ketentraman.

Selain itu, manusia diciptakan dengan bekal fitrah iman kepada Allah Swt. Seperti sabda Rasulullah Saw.: “Setiap anak, dilahirkan atas dasar fitrah ( iman)”.

Oleh karena itu, untuk beriman kepada Allah tidak perlu mencari Tuhan dengan susah payah, cukup hanya dengan berdzikir; yaitu mengingat Allah melalui ayat-ayat-Nya. Dengan proses dzikir kepada Allah Swt, orang beriman akan merasa aman dan tentram, seperti yang difirmankan-Nya :
”Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS 13 : 28)
Ayat ini menjelaskan, bahwa ketenangan tersebut hanya dapat diraih dengan cara berdzikir kepada-Nya.

Jika kita menelaah perkembangan Agama Islam, merambah berbagai pelosok dunia, yang bermacam-macam latar belakang budaya dan peradaban serta berbeda-beda kebiasaan dan tradisi, pada umumnya tidak mengalami benturan yang berarti, karena Islam bukan budaya dan tradisi atau peradaban dan kebiasaan, akan tetapi merupakan ajaran untuk membimbing kehidupan menuju ketenangan dan ketentraman, yang sejatinya menjadi pokok keberhasilan dalam membangun segala hal, termasuk membangun budaya dan peradaban.

Saat ini, kita dikejutkan dengan berbagai peristiwa yang sangat memprihatinkan, seperti skandal cinta segitiga, pembunuhan pejabat, jual beli perkara, tertangkapnya orang-orang terhormat yang jadi koruptor dan lain sebagainya. Hal ini memberi gambaran kepada kita, betapa kegelisahaan dan kepanikan melanda negeri kita tercinta, yang notabene mayoritas penduduknya Muslim. Tentu saja semua prilaku amoral yang tidak terhormat ini bukanlah hasil pillihan bijak yang dilakukan oleh orang beriman yang tenang hatinya, akan tetapi sebagai akibat dari kelalaian terhadap ayat-ayat Allah Swt, dan akhirnya berakibat tercorengnya kehormatan negeri ini.

Hal ini, sudah menjadi sunatullah bahwa kelalaian akan berdampak pada sikap yang tidak bijak dan memilih perbuatan yang kontra produktif bahkan menghancurkan bangsa. Sementara itu, orang-orang yang beriman dan berdzikir kepada Allah serta yakin, bahwa “Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”, hidupnya akan tenang, pilihannya akan bijak, karya-karyanya akan bermanfaat, dan akhir hayatnya akan merasa puas, bahkan masuk syurga jannatunaa'im. Firman Allah Swt :
”Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhan-mu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku dan masuklah kedalam syurga-Ku” ( QS 89 : 27, 28, 29 dan 30)
B E R S A M B U N G...

Tidak ada komentar: