“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”. (QS. Al-Baqarah : 186)
Urgensi Berdoa bagi Setiap Muslim
Doa merupakan kekuatan umat Islam yang sangat vital dalam menentukan pilihan dan doa yang benar akan melahirkan daya kemudian dana. Ketika tiga hal tersebut (doa, daya, dan dana) berjalan secara sinergi, umat Islam akan maju melewati berbagai tantangan dan hambatan menuju kesuksesan yang sesungguhnya. Surat Al-Baqarah ayat 186 ini merupakan gambaran jelas tentang perpaduan tiga langkah tersebut.
Allah Swt. menyatakan bahwa hubungan antara hamba-Nya yang shalih dengan Dzat yang Mahaagung sangat dekat, bahkan dalam surat Qâf ayat 16 dinyatakan, “Kami lebih dekat kepada hamba daripada urat lehernya sendiri.” Allah pun berjanji akan senantiasa mengabulkan permintaan siapa saja yang berdoa kepada-Nya. Tidak ada doa yang Allah tolak.
Hanya saja, agar doanya benar, dikabulkan oleh Allah Swt. dan doa tersebut bisa dinikmati dengan baik, hendaklah setiap Muslim memohon petunjuk dan bimbingan-Nya agar dapat menempuh jalan yang lurus, jalan yang telah dinikmati oleh orang-orang terdahulu dari kalangan para nabi, para syuhada, orang-orang yang jujur, dan orang-orang yang shalih.
Seorang Muslim yang disiplin menegakkan salat setiap hari, hakikatnya dia telah berdoa, minimal 17 kali dalam sehari, yaitu ketika membaca surah Al Fatihah ayat 6 “Tunjukilah kami ke jalan yang lurus.” Sehingga, semangat untuk mendapatkan petunjuk Allah sudah menyatu dengan jiwa dalam segala aktivitas kehidupannya; setiap kali mengawali kegiatan selalu disertai doa untuk mendapatkan bimbingan Allah Swt.
Sarat Dikabulkan Doa
Di dalam berdoa, ada beberapa hal yang harus dipenuhi oleh setiap Muslim: Pertama, sebelum menyampaikan permohonan kepada Allah Swt., hendaklah menyampaikan pujian kepada-Nya dengan rasa syukur terhadap segala nikmat yang telah dianugrahkan-Nya.
Dengan demikian, paling tidak, kita membayangkan anugerah Allah yang berhubungan dengan pekerjaan yang sangat spesifik, misalnya, ketika berdoa memohon kekuatan dalam membangun bangsa dan negara, hendaklah kita menghadirkan berbagai kenikmatan Allah Swt. yang berhubungan dengan bangsa dan negara kita. Seperti kenikmatan NKRI, negeri ini merupakan negara terbesar di dunia, terdiri dari ribuan pulau dengan penduduk lebih dari 200 juta jiwa, kekayaan alamnya melimpah ruah, baik di lautan, di daratan, ataupun di udara. Umat Islam merupakan penduduk mayoritas di negeri ini, banyak lembaga-lembaga yang dikelola oleh bangsa kita, yang sebagian besarnya oleh umat Islam seperti: Ormas, Orpol, Lembaga pendidikan, Sosial, Ekonomi, Kesehatan, Budaya, Seni, dan lain sebagainya.
Namun kewajiban umat Islam, hendaklah bersikap adil, proporsional dalam menilainya tidak terlalu berpikir negatif, sampai melahirkan putus asa dan frustasi, seolah-olah negri ini tidak menyimpan harapan sama sekali. Dan sebaliknya jangan berpikir positif yang berlebihan sehingga melihat bahwa dinegri ini tidak ada masalah sama sekali sehingga melahirkan sikap lalai dan loyo.
Dengan sikap adil seperti ini kekuatan doa akan sangat efektif membimbing umat Islam dinegri ini untuk melangkah terus maju kedepan menyelesaikan persoalan-persoalan yang ada serta mensyukuri kekuatan yang telah dianugrahkan oleh Allah Swt.
Kedua, sebelum menyampaikan permohonan kepada Allah, hendaknya memohon maaf dan ampunan kepada-Nya atas segala kekhilapan, kekeliruan, dan kesalahan yang dilakukan selama ini. Karena, sering kali persoalan yang dihadapi lahir dari kekeliruan sikap di masa lalu bahkan kesalahan niat atau persepsi tentang kehidupan berbangsa dan bernegara, sehingga melahirkan persoalan-persoalan yang tak kunjung usai. Seolah-olah tidak ada solusinya dan cenderung mengambil penyelesaian dengan jalan pintas yang berakibat fatal. Oleh karena itu, renungkanlah segala kesalahan pada masa lalu dan mohonlah maaf kepada Allah Swt.
Ketiga, buatlah program kerja ke depan, baik program individu, sebagai anggota masyarakat, dan sebagai salah satu anak bangsa di negeri ini, sesuai dengan kapasitas yang dimiliki, dengan gambaran globalnya ingin mendapatkan ridha Allah Swt. serta ingin berkontribusi positif dalam membangun negeri. Sehingga, dengan langkah demi langkah disertai dengan syukur, istigfar, dan berniat untuk beramal shalih, serta berdoa, Dia berkenan mengabulkan doa dan cita-cita kita semua.
Dalam berdoa kepada Allah Swt, sekalipun target, sasaran, dan rencana kerjanya telah dibuat, bahkan semuanya sudah dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dan kebutuhan materinya dipenuhi dengan baik, namun kita harus yakin bahwa Allah Swt. Mahakuasa atas segala sesuatu, Mahabijaksana dalam memberikan yang terbaik untuk para hamba yang dicintai-Nya, dan Mahatahu atas segala kebutuhan yang menunjang bagi kebaikan orang-orang shalih.
Oleh karena itu, hendaklah seorang Muslim berdoa dengan rendah hati, tidak memaksakan kehendak dan tidak menganggap bahwa apa yang diinginkannya lebih baik daripada yang diberikan oleh Tuhannya. Ia pun harus selalu mengevaluasi diri, pada setiap langkah yang ditempuh, dan target yang dihasilkan. Apakah mengantarkan kepada kondisi yang lebih baik, semakin mendekat kepada Allah, dan semakin memberikan kontribusi kepada sesama? Sehingga kenikmatan dunia ini semakin besar dirasakannya dan semakin disadari oleh saudara sebangsa dan setanah air, bahkan oleh masyarakat dunia internasional bahwa ajaran Islam memang benar menjadi rahmat bagi alam semesta.
Sementara itu, jika seseorang lalai dari berdoa, tidak pernah beristigfar dan bersyukur, ia akan menjadi beban bagi masyarakatnya, bahkan bagi dirinya sendiri. Sehingga, semakin banyak yang ia raih, semakin banyak orang yang tidak meyukainya. Seperti sebuah anekdot, ketika suatu daerah ditimpa musibah banjir, disambut dengan sorak sorai oleh masyarakat miskin. Ketika ada orang bertanya, kenapa musibah ini disambut dengan sukacita? orang-orang miskin itu berkata, “Biasanya yang susah hanya kami sekarang jadi susah semua.”
Setelah berdoa, hendaklah bertawakal kepada Allh Swt. Apapun yang Allah putuskan, siap menerimanya dengan lapang dada disertai dengan usaha yang sungguh-sungguh, sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya.
Doa yang Paling Baik
Do'a yang paling baik bagi umat Islam adalah doa yang disampaikan secara garis besar, seperti contoh dalam Al Quran Surah Al-Baqarah: 201,
Dan di antara mereka ada orang yang berdoa, "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka."
Ketika Aisah bertanya kepada Rasulullah, “Jika malam tiba, doa apa yang harus saya baca?” Rasulullah saw. bersabda, “Bacalah, 'Ya Allah, sesungguhnya Engkau Pemberi maaf. Oleh karena itu, maafkanlah aku.“
Sementara itu, bagi seorang Muslim yang sangat menyadari bahwa dalam kehidupan ini tidak pernah luput dari kesalahan dan kekhilapan, permohonan yang paling diperlukan adalah memohon ampun kepada-Nya.
Dzikir adalah doa yang paling baik Rasulullah saw. Bersabda,
“Barang siapa yang sibuk berdzikir kepada-Ku dan tidak pernah meminta kepada-Ku, niscaya akan Aku berikan kepadanya sesuatu yang lebih baik daripada orang-orang yang meminta.“
Hadits tersebut mengandung pengertian bahwa dzikir kepada Allah Swt. merupakan salah satu doa, bahkan doa yang paling baik dan dijamin akan mendapatkan bagian dari Allah Swt. yang lebih utama.
Untuk menjadi shalih dan senantiasa dekat dengan Allah Swt., memerlukan proses yang baik, diawali dari kesadaran bahwa dirinya seorang hamba yang lemah dan tidak berkuasa kecuali dengan rahmat dan kasih sayang-Nya. Kesadaran seperti inilah yang akan melahirkan semangat berdoa dan memohon ampunan kepada-Nya.
Jika kehidupan sudah terbiasa dengan bimbingan doa, untuk ingat kepada Allah sangat mudah dilaksanakan. Sejak awal, sebagaimana diceritakan dalam Al Quran, Allah Swt. menciptakan manusia (Adam) untuk menjadi khalifah di muka bumi. Ketika Adam dan hawa tergoda oleh bujuk rayu iblis sehingga memakan buah dari pohon terlarang yang berakibat pakaian syurga yang dikenakan oleh keduanya terbuka dan terlihat aurat keduanya, Adam dan Hawa menyesal atas kekhilafannya serta memohon rahmat dan ampunan-Nya agar kehidupan selanjutnya tidak merugi. Saat itulah Allah Swt. menerima tobatnya.
Keduanya berkata, "Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi." (QS. Al 'A'râf: 23).
Wallahu ‘Alam
T A M A T
Tidak ada komentar:
Posting Komentar