“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu, ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah menjinakkan antara hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara, dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatNya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. Ali 'Imran: 103)
Janganlah Kalian Semuanya Bercerai-Berai
Larangan ini ditujukan kepada umat Islam, yang senantiasa berupaya untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Allah swt. dan berpegang teguh kepada kitabullah, agar mereka tidak bercerai-berai. Memang, orang yang bertaqwa dan berpegang teguh kepada kitabullah, sejatinya akan senantiasa membangun persaudaraan. Namun kenyataan di lapangan tidak selalu demikian, karena hal ini disebabkan oleh beberapa hal. Di antaranya; mungkin karena kurang tepat dalam memahami arti taqwa atau dalam memahami kitabullah, atau mungkin juga karena parsial dalam memandang Islam. Sehingga pemahaman parsial ini menjadi sering bertabrakan di lapangan. Seperti adanya pandangan bahwa Islam itu hanya Fiqh, atau hanya Sufi, Politik, Sosial dan lain sebagainya.
Untuk itulah potongan ayat ini semakin menegaskan, agar berpegang teguh kepada kitabullah secara benar dan utuh, serta melahirkan persaudaraan yang hakiki. Maka tidak ada alasan lagi bagi siapa pun, yang berpegang teguh pada kitabullah, menjadi kasar dan keras, bahkan tidak bisa bersosialisasi dengan muslim lainnya, yang berbeda pandangan. Atau sebaliknya, karena begitu perhatiannya terhadap masyarakat yang plural (majemuk), sehingga sama sekali tidak memiliki kepribadian, hanyut terombang-ambing oleh keinginan banyak orang yang bermacam-macam.
Islam mengajarkan kepada pemeluknya, agar memadukan antara membangun diri untuk menjadi orang bertaqwa dan berpegang teguh kepada kitabullah, dengan meningkatkan kualitas pemahaman dan pengamalannya, serta membangun kebersamaan dengan masyarakat muslim yang berada di sekitarnya. Hal ini tidak bisa dilakukan dengan baik, kecuali apabila diawali dengan niat yang ikhlas; bahwa hidup ini semata-mata untuk beribadah kepada Allah swt., serta membangun kebersamaan dengan muslim lainnya di jalan Allah swt. pula. Sehingga pandangan hidupnya jelas dan tegas, bahwa Allah menjadi tujuan. Sementara orang-orang muslim yang bersamanya menjadi partner dalam perjuangan.
Di antara orang-orang muslim yang menjadi partner tersebut, ada yang dijadikan pemimpin dan teladan dalam hidupnya, dengan melihat kualitas ketaqwaannya kepada Allah swt. dapat dipertanggung jawabkan, serta layak untuk menjadi panutan. Mereka mencintainya berdasarkan cinta kepada Allah swt. Sedangkan orang yang menghalangi diri mereka dari jalan Allah swt. dipandang sebagai orang yang harus dikasihani dan disantuni, bukan diikuti, apalagi difigurkan. Rasulullah saw. pernah bersabda:
“Ada tiga hal, barangsiapa yang ketiga hal ini ada padanya, ia akan mendapatkan manisnya iman. Pertama, Allah dan RasulNya lebih dicintai daripada selainnya. Kedua, mencintai seseorang hanya didasarkan karena cinta kepada Allah swt. Ketiga, membenci kekufuran, sebagaimana membencinya apabila ia dilemparkan ke dalam api neraka.“ Hadits ini memberi pengarahan kepada ummat Islam, agar senantiasa menjaga diri dan membinanya, serta hubungan cintanya dengan Allah swt. tidak terkotori oleh kepentingan apa pun.
Memang, di dalam kehidupan ini, kita harus manusiawi, layaknya hidup seperti orang pada umumnya; perlu makan, tidur, nikah, bekerja, mencari harta, membangun strata sosial, meningkatkan kualitas pendidikan, dan lain-lain. Itu semua boleh dalam ajaran Islam, bahkan merupakan keharusan. Namun yang menjadi persoalan hendaklah semuanya itu dijadikan sarana untuk melaksanakan perintah Allah swt. Sehingga apapun yang dilakukannya menjadi ibadah kepadaNya. Seperti ungkapan Hasan Al Basri:
“Allah merahmati orang yang berhenti pada saat datang keinginannya (merenung dulu). Jika itu karena Allah, maka ia lanjutkan. Jika tidak, maka ia tunda.” Dengan demikian tidak ada yang disebut dengan lawan dalam kehidupan ini, selain yang membawa kepada kekufuran. Maka apapun bentuknya, menjadi persoalan bersama bagi umat Islam. Dan kekufuran itu merupakan parasit kehidupan, yang cepat atau pun lambat akan menggerogoti, bahkan memusnahkan kehidupan ini.
Persaudaraan dalam Islam adalah persaudaraan dalam hati, pikiran dan amal perbuatan, yang sejatinya saling memberi dan saling melengkapi. Yakni dalam bingkai lingkungan hubungan yang bermutualisme (saling menguntungkan) dan bersimbiosisme (menguntungkan satu pihak tapi tidak merugikan yang lainnya), bukan dalam hubungan yang berparasitisme (merugikan satu pihak atau saling merugikan) seperti layaknya benalu menghisap habis energi tanaman indungnya hingga mati. Firman Allah swt. dalam Al Qur'an surah Al Hujurat ayat 10:
“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” Firman Allah swt. ini memberi gambaran, bahwa tugas mukmin yang bersaudara adalah; mengadakan perbaikan persaudaraan, apabila ada persoalan yang mengganggunya. Jadi, persaudaraan itu bukanlah saling membiarkan tanpa kepedulian, seperti yang banyak diperkeruhkan orang, ketika terjadi permasalahan. Dengan ungkapan: “Dimana Ukhuwah Islamiyah?”
Sesungguhnya ukhuwah Islamiyah berada pada setiap muslim, manakala dia peduli terhadap permasalahan orang lain, baik persoalan ekonomi, politik, pendidikan, sosial dan seterusnya. Bukan malah saling menjatuhkan, mencari-cari kesalahan, membesar-besarkan masalah, membenci, membuka aib, mendengki, memutuskan hubungan, bergosip di belakangnya, memfitnah, dan memberikan label negatif kepada sesama muslim, yang notabene sama-sama berpegang teguh kepada Al Qur'an dan Sunnah RasulNya. Hal seperti inilah yang diingatkan oleh Rasulullah saw. dengan sabdanya:
“Tidak akan masuk syurga orang yang suka memutuskan silaturahim.”
Dalam sabdanya yang lain:
“Tidak akan masuk syurga orang yang suka mengadu domba.”
Banyak sabda Rasulullah saw. lainnya, yang meminta kepada kita sebagai umatnya, agar senantiasa meningkatkan hubungan silaturahim. Bertegur dengan salam, membesuk orang yang sakit, memenuhi undangan, memberikan nasihat bagi yang memerlukannya, mengantarkan jenazah sampai kekuburnya, bermuka manis, memberi jamuan makanan, saling kunjung-mengunjungi, saling memberikan hadiah dan lain-lain. Semua ini dapat menumbuhkan kualitas persaudaraan antar sesama muslim, sekaligus dapat menghilangkan faktor-faktor yang menjadi penyebab terjadinya percerai-beraian.
Sebetulnya, kalau kita menelaah prosentase hubungan seorang muslim dengan Rabbnya, maka itu sangat kecil, apabila dibandingkan dengan hubungan seorang muslim bersama sahabat-sahabatnya. Namun dari yang sedikit ini, hendaknya mewarnai semua aktivitas kehidupan. Seperti halnya shalat, yang dalam satu hari hanya lima kali. Setiap kalinya paling lama sekitar 5-10 menit. Hanya saja di dalam shalat itu ada ketaatan, kebersamaan, kekompakan, semua makmum mengikuti imamnya (selama taat kepada Allah Swt), setiap gerakan dikawal dengan pernyataan “Allahu akbar!” Dan setiap shalat diawali dengan takbir dan di akhiri dengan salam. Semua ini, apabila dijiwai dan dibawa kepada kehidupan bermasyarakat, sudah lebih dari cukup untuk membangun Ukhuwah Islamiyah.
Oleh karena itu, Rasulullah saw. pernah mengingatkan, bahwasanya yang pertama kali dihisab oleh Allah swt. dari seorang mukmin adalah shalatnya. Sedangkan apabila shalatnya benar, sesuai dengan ajaran Rasul, maka kehidupan yang lainnya pun dijamin tidak salah.
Begitupula amal lainnya, seperti; zakat, shaum dan haji, semuanya mengantarkan kepada Ukhuwah Islamiyah sejati. Yakni apabila dilaksanakan dalam bingkai berpegang teguh kepada kitabullah dan sunnah Rasulnya, serta dibarengi oleh semangat membangun persaudaraan di jalan Allah swt.
Dan sebaliknya, amal-amal ini akan menjadi persoalan, bahkan pertengkaran, apabila dilaksanakan secara parsial; terpisah dari kerangka Islam secara utuh dan besar, yang melingkupi kehidupan ini, sejak di dunia maupun di akhirat. Apalagi amal-amal yang lainnya seperti; politik, ekonomi dan sejenisnya, yang menurut non-muslim; ini hanya dunia semata, yang harus dipisahkan dari agama. Dapat dibayangkan, betapa berbahayanya aktivitas tersebut bagi kehidupan kemanusiaan. Sehingga wajar, kalau melahirkan kanibal-kanibal politik, ekonomi, dan lainnya, yang antar satu sama lain saling menunggu mangsa. Naudzubillaahi min dzaaliik.
Saat ini adalah momentum yang sangat tepat, untuk menyelesaikan berbagai persoalan, dengan membangun persaudaraan, dengan kembali kepada kitabullah dan mengamalkan segala perintah Allah serta mengikuti contoh Rasulullah saw. yang sudah berhasil membangun orang-orang shalih terdahulu. Semoga kita semua berhasil. Aamiiin!
B E R S A M B U N G . . .
1 komentar:
BUTUH IJAZAH UNTUK MENCARI KERJA - MELANJUTKAN KULIAH - KENAIKAN JABATAN ?!?!
KAMI JASA PEMBUATAN IJAZAH SIAP MEMBANTU ANDA UNTUK MEMENUHI KEBUTUHAN IJAZAH UNTUK BEKERJA ATAU MELANJUTKAN SEKOLAH / KULIAH
BERIKUT INI MERUPAKAN JASA YANG KAMI SEDIAKAN :
- SMU:4.000.000
- D3 :6.000.000
- S1 :8.000.000
* AMAN, LEGAL, TERDAFTAR DI UNIVERSITAS / KOPERTIS / DIKTI, BISA UNTUK MASUK(PNS, TNI, POLRI,BUMN, SWASTA)
JUGA MELAYANI PEMBUATAN SURAT SURAT PENTING SEPERTI:SIM, STNK, KTP, REKENING BANK, SURAT TANAH, AKTE KELAHIRAN.BPKB, N1, SURAT NIKAH, DLL
SYARAT:KTP/SIM,FOTO BERWARNA DAN HITAM PUTIH,UNIVERSITAS YANG DITUJU,IPK YANG DIMINTA(MAX 3,50),TAHUN KELULUSAN YANG DIMINTA,ALAMAT PENGIRIMAN YANG DIMINTA.
KIRIM KE : 085736927001.ku@gmail.com
HUB : +6285736927001
(HANYA UNTUK YANG SERIUS SAJA)
Nb:Semua manusia berhak meiliki pekerjaan dan pendidikan yang layak,entah dari kalangan atas,menengah dan bawah.Maka dari itu kami ada untuk anda yang mebutuhkan ijazah atau surat-surat penting lain
Posting Komentar