Kamis, 04 Juni 2009

Persaudaraan Membawa Nikmat dan Solusi (bag.3)


“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu, ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah menjinakkan antara hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara, dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatNya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. Ali 'Imran: 103)

Ingatlah Akan Nikmat Allah kepadamu, ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan...

Dalam melestarikan Ukhuwah Islamiyah, di samping harus berpegang teguh kepada kitabullah dan selalu beramal untuk memupuk persaudaraan sehingga terhindar dari percerai beraian, hendaknya selalu mengingat nikmat Allah swt., yang dianugerahkan kepada ummat manusia, khususnya orang-orang beriman. Terutama yang berkaitan dengan persoalan kemanusiaan.

Pada prinsipnya, apabila kita menelaah al Qur'anul Karim, tidak ada manusia yang baik. Semua manusia berada dalam kerugian, ketergesa-gesaan, kezhaliman, keluh kesah, kikir, dan seterusnya. Namun Allah swt., dengan segala kasih sayangNya, tidak membiarkan manusia ini terpuruk dalam kesesatan. Sejak awal menciptakan manusia, Allah menciptakan seorang Nabi dan Rasul yang bernama Adam as. Yang kemudian beranak pinak, sehingga berkabilah-kabilah dan berbangsa-bangsa. Setiap kali terjadi penyimpangan dari jalan petunjuk Allah, maka Allah pun mengutus Rasul baru untuk mengembalikan kehidupan ini ke jalan yang benar, hingga Nabi terakhir Muhammad Saw. Dan apabila terjadi lagi penyimpangan masal diseluruh dunia maka akan terjadilah kiamat.

Oleh karena itu, nikmat yang paling pertama harus diingat oleh seorang muslim adalah nikmat iman. Karena segala kenikmatan yang lainnya dapat dirasakan dengan manis, apabila sudah ada nikmat iman padanya. Begitu pula persaudaraan, bisa tumbuh dan berkembang, manakala iman telah tertanam di dalam sanubari. Rasul pernah bersabda: “Tidaklah sempurna iman salah seorang di antara kalian, sehingga mencintai saudaranya, seperti mencintai dirinya sendiri.”

Hadits ini menjelaskan, bahwa kualitas keimanan seseorang berbanding lurus dengan kualitas persaudaraanya. Tidak ada dalam kamus ajaran Islam, bahwa seorang muslim yang taat kepada Allah dan RasulNya, kemudian bersikap keras, sinis dan kasar terhadap saudaranya. Bahkan Rasulullah saw. sendiri, yang menjadi teladan ummat Islam, digambarkan dalam al Qur'an surah al Fatah ayat 29: “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka...”

Yang dimaksud dengan keras dalam ayat ini adalah bersikap tegas dalam masalah aqidah, yang tidak mengenal tawar-menawar dengan siapa pun. sekalipun dengan ibu kandung sendiri. Seperti halnya Saa'd bin Abi Waqas, ketika ibundanya melakukan mogok makan, dengan harapan sang putra kembali menjadi kafir. Pada saat itu, Sa'ad bin Abi Waqas memberikan jawaban yang sangat tegas. Beliau berkata: “Seandainya ibu memiliki seratus nyawa, kemudian dicabut satu per satu, sampai habis semuanya, sungguh saya tidak akan kembali menjadi kafir.” Namun demikian, Sa'ad tetap menghormati ibundanya sebagai orang tua beliau.

Dan di dalam sebuah hadits Rasul pernah bersabda: “Barang siapa yang menyakiti kafir Dzimmi (kafir yang baik), maka sungguh telah menyakitiku.” Artinya umat Islam diperintahkan bersosialisasi dengan baik bersama orang yang berlainan agama, selama berada dalam sebuah komunitas masyarakat atau negara yang menjunjung tinggi sikap saling menghormati.

Karena persaudaraan lahir dari keimanan, maka persoalannya sangat erat dengan pahala diakhirat kelak. Seperti yang disabdakan oleg Rasulullah saw.: “Pada hari kiamat, Allah swt. akan berfirman; Di manakah orang yang menjalin kasih sayang karena berdasarkan kebesaranKu? Kini Aku naungi mereka di bawah naunganKu, pada saat tiada naungan yang lain kecuali naunganKu.” Pernyataan Rasulullah saw. ini merupakan amunisi keimanan kita, untuk membangun komunitas muslim yang senantiasa menjalin kasih sayang, bekerja sama dalam kebaikan dan ketaqwaan, dengan mengelola kehidupan ini, agar semakin dirasakan manfaatnya oleh makhluk Allah di muka bumi. Sejauh mana semangat umat Islam membangun kasih sayang di jalan Allah seperti ini, maka sejauh itupula kasih sayang Allah akan dilimpahkan kepada mereka.

Selanjutnya, nikmat Allah yang perlu diingat adalah, bahwa persaudaraan ini semata-mata pemberian Allah swt. kepada orang-orang beriman. Sehingga membangun persaudaraan hanya bisa dilakukan dengan taqarrub kepadaNya (mendekatkan diri), dengan berbagai amalan yang diperintahNya.

Rasulullah saw., ketika berhijrah ke Madinah, mengawali pembangunan masyarakatnya dengan membangun masjid. Kemudian dari masjid inilah berbagai program kemanusiaan di mulai. Berawal dari membangun persaudaraan antara para sahabat yang datang dari Makkah, yang disebut dengan Muhajirin, dengan para sahabat yang penduduk asli Madinah, yang disebut dengan Anshar. Karena sebelumnya sudah tertanam iman di dalam hati sanubari mereka, maka proses persaudaraan tersebut berjalan mudah dan lancar, bahkan menjadi prototipe persaudaraan yang menjadi teladan sepanjang jaman.

Seperti yang digambarkan di dalam al Qur'an surah al Hasyr ayat 9: “Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin), dan mereka mengutamakan (orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

Di dalam ayat ini terdapat gambaran yang sangat jelas, berkenaan dengan persaudaraan Islam, pada generasi terdahulu; yaitu sahabat Muhajirin dan Anshar. Mereka dipersatukan oleh Allah swt. setelah beriman kepadaNya dan berjuang di jalanNya, untuk meninggikan kalimatullah. Sehingga hati nurani orang-orang Anshar sedemikian tulus, untuk memberikan bantuan bagi saudaranya; Muhajirin. Mereka, sahabat Anshar, berbagi dalam segala hal, sekalipun mereka sendiri dalam keadaan sangat membutuhkan.

Begitupula sahabat Muhajirin, yang mendapatkan sahabat-sahabatnya itu berhati tulus, bersikap ramah dan memberikan segala kebutuhan yang diperlukannya, namun mereka tidak serta merta memanfaatkan kebaikan orang lain. Jika mereka lakukan itu, maka kehidupan menjadi berat dan stagnan; tidak mengalami kemajuan. Akan tetapi mereka menyampaikan rasa terima kasih dan memohon bantuan untuk dicarikan pekerjaan. Mereka berkata: “Kami ini adalah para pedagang, yang sudah terbiasa bekerja di pasar dengan berjualan. Oleh karena itu, tunjukkanlah kepada kami pasar sebagai tempat usaha kami.”

Dengan demikian, kehadiran masyarakat muslim Makkah di Madinah menjadi kekuatan baru dalam membangun kehidupan lebih lanjut. Anshar yang kebanyakan petani diperkuat dengan Muhajirin yang pandai berdagang. Sehingga dalam waktu yang sangat singkat, masyarakat Madinah berubah menjadi sebuah masyarakat yang sangat maju di bidang ekonomi. Itulah solusi persaudaraan Islam, yang melahirkan pembangunan dalam segala hal. Termasuk di bidang sosial dan ekonomi.

Pada saat ini, terjadi masyarakat yang ironis. Kemajuan ekonomi justru berkembang di negara barat, yang notabene menganut sistem kapitalis liberal, yang merugikan mayoritas masyarakat dunia; kesulitan finansial akibat resesi ekonomi global. Dan lebih ironis lagi, ekonomi liberal ini lebih pantas disebut ekonomi kanibal, yang satu sama lain saling menunggu mangsa. Mereka menghalalkan rentenir, perjudian, minuman keras, pelacuran dan bisnis hitam lainnya. Hal ini membuktikan, bahwa sedemikian lemah semangat umat manusia dewasa ini dalam membangun kemanusiaan yang sesungguhnya. Sehingga, persaudaraan sebagai nikmat kedua setelah iman menjadi sulit untuk ditemukan. Bahkan tidak sedikit kakak beradik bermusuhan, perselingkuhan dan kekerasan rumah tangga antar suami istri, tawuran masyarakat, makar masyarakat terhadap pemerintah dan seterusnya.

Apabila mengingat nikmat Allah sudah bisa dilakukan dengan baik; yaitu nikmat iman dan nikmat persaudaraan atas pemberian Allah swt., selanjutnya akan melahirkan sikap taat dan tunduk kepada Allah swt. sebagai rasa syukur kepadaNya, dengan hati yang tenang dan tenteram, serta penuh harapan pada masa depan, disertai dengan kerjasama yang baik, saling percaya, saling memahami dan saling melengkapi, demi membangun kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Seperti digambarkan dalam Al-Quran, ujung ayat 103, surat 3 yang sedang kita bahas. “Agar kalian mendapat petunjuk.” Artinya bahwa orang-orang yang berpegang teguh kepada kitabullah, berusaha untuk menjaga kesatuan agar tidak bercerai berai dan mengingat nikmat Allah khususnya nikmat persaudaraan sehingga selamat dari bencana api permusuhan didunia dan api neraka diakhirat kelak, mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk Allah Swt.

Dengan petunjuk Allah inilah kehidupan akan terasa segar serta bersemangat untuk meraih kualitas hidup yang lebih baik, melalui cara yang rasional dan logis, sesuai dengan petunjuk Allah dan fitrah kehidupan itu sendiri; dekat dengan Allah swt., dekat dengan sesama muslim, bahkan dengan seluruh manusia, serta dekat dengan alam semesta ini. Yakni dengan senantiasa berdzikir dan memanjatkan doa, seperti yang diajarkan oleh Rasulullah saw. kepada Muadz bin Jabal, seorang sahabat muda yang intelek dan kaya raya. Beliau bersabda, sambil memegang tangan Muadz: “Wahai Muadz, demi Allah! Sungguh aku menyukaimu, kemudian aku berpesan kepadamu, janganlah kamu tinggalkan setiap setelah selesai shalat untuk berdoa; Ya Allah, tolonglah saya untuk berdzikir padaMu dan bersyukur atas nikmatMu serta menyempurnakan ibadahku kepadaMu.” Aaamiiin!

Kalimat itu adalah lantunan seorang hamba yang menikmati kehidupan, serta optimis menghadapi masa depan yang penuh harapan kebaikan dan kebahagian.

T A M A T

Tidak ada komentar: