Senin, 13 Juli 2009

Masjid dan Peradaban (bag.4)


“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. At Taubah: 18)

Orang yang layak dan mampu memakmurkan masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman, dengan karakteristik seperti yanga pernah kita bahas pada bulletin edisi yang lalu. Yaitu orang Islam yang senantiasa bersuci dari hadats dan najis, berusaha menjaga penampilan yang simpatik, sopan, bersih dan menarik, tidak menggangu kenyamanan dan kesehatan orang lain, bahkan tampil dengan wangi dan segar. Adapun aktivitas yang dilakukan oleh seorang muslim dalam memakmurkan masjid, yang paling pertama dan utama adalah; membina keimanan (Tarbiyah Imaniyah) bagi masyarakatnya. Sehingga dengan tarbiyah ini, kehidupan masyarakat muslim tumbuh dan berkembang dengan baik, sejajar dengan pertumbuhan Tarbiyah Imaniyah di dalam masjid tersebut.

Yang dimaksud dengan Tarbiyah Imaniyah, bukan sekedar menghafalkan rukun iman yang enam, akan tetapi bagaimana memadukan rukun iman ini dengan kehidupan nyata di lapangan. Sehingga layaknya sebagai sebuah keyakinan, memberikan warna terhadap aktivitas kehidupan, dan sekaligus menghasilkan berbagai kenikmatan, yang bertambah dengan terus menerus. Seperti yang dialami oleh para sahabat dan para ulama, serta salafus shalihin.

Memang, dalam membina keimanan ini, diperlukan tahapan-tahapan, yang sesuai dengan usia serta tingkat pemahaman masyarakat itu sendiri. Sebagai contoh, bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda: “Carilah ilmu sejak buaian sampai liang lahat (mati).” Tentu saja, mendidik anak yang baru saja dilahirkan, masih dalam buaian ibunya, tidak akan sama cara mendidiknya dengan anak yang sudah mulai bisa bicara, begitupula dengan anak yang sudah mulai mengerti, bahkan dengan pemuda yang sudah mulai beranjak dewasa. Hadits ini menuntut upaya kita sebagai muslim, untuk mencari cara yang sesuai. Sehingga sabda Rasulullah saw. ini dapat dilaksanakan dengan baik.

Umpamanya, kehadiran bayi yang sangat dicintai, hendaknya disambut dengan doa; memohon kepada Allah swt., agar ia menjadi anak yang shalih. Kemudian disiapkan segala sarana yang dapat mengantarkan kepada keshalihan si anak. Pada saat ini, berbagai sarana pendidikan anak, sejak usia dini, sudah sangat modern, relatif lengkap, serta sudah dilakukan berbagai kajian ilmiah oleh para ahli pendidikan dan psikologi anak.

Sehingga sangat mungkin dan sangat menunjang bagi siapa saja, yang bersungguh-sungguh ingin mengamalkan hadits tersebut. Seumpama bacaan Al Qur'an dikumandangkan oleh kedua orang tuanya langsung atau lewat rekaman, suasana tempat tinggal dikelola agar bersih dari hingar bingar kontaminasi yang dapat mengotori jiwa anak, perilaku kedua orang tuanya dan sikap serta tutur katanya diatur sedemikian rupa, sehingga melahirkan anak yang berkembang dalam suasana yang santun, sopan dan penuh kasih sayang. Di lingkungan seperti itulah, bayi yang baru lahir mengawali proses menimba ilmu, yang sedang diajarkan oleh kedua orang tuanya.

Sedangkan, ketika anak mulai mengerti, maka tugas orang tua pun bertambah. Bukan hanya memberikan pendidikan melalui pengelolaan lingkungannya saja, akan tetapi membekalinya dengan ilmu pengetahuan, serta kebiasaan-kebiasaan dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. sekalipun hal itu masih dalam tingkat yang paling dasar.

Pada tahap ini, biasanya orang tua tidak mampu mendidik anaknya secara sendirian. Akan tetapi anak tersebut diserahkan kepada sebuah lembaga pendidikan. Selain itu, diperlukan pula tempat yang layak untuk melatih fisiknya, agar menjadi sehat dan kuat, mampu berjuang di jalan Allah swt., ketika ia sudah beranjak dewasa. Serta tak lupa disediakan tempat penanggulangan dan tindakan, apabila ada gangguan fisik atau penyakit.

Kemudian tarbiyah lainnya adalah yang berkenaan dengan masalah-masalah keuangan, seperti bagaimana caranya agar anak mampu menghemat keuangan dalam hidupnya dan menyisihkan sebagian miliknya disimpan untuk hari depan, serta sebagiannya lagi dijadikan bekal sosial, berbagi dengan sesama, belajar bersedekah. Bahkan anak tersebut belajar sejak kecil, bagaimana cara menghasilkan uang dengan baik, bersih dan mandiri, serta terbiasa bekerja sama dalam wadah yang bernilai syar'i.

Selanjutnya ditanamkan pada anak tersebut, agar memiliki keberanian dalam melakukan berbagai kebaikan di atas. Sehingga di dalam hidup ini, tidak ada yang ditakuti selain Allah swt. yang Maha Segalanya.

Pada saat ini, tidak sulit untuk mendapatkan lembaga pendidikan yang lengkap, memenuhi persyaratan keislaman tersebut, yaitu lembaga pendidikan yang dilengkapi dengan masjid, sarana olah raga, klinik kesehatan, serta koperasi syari'ah bagi siswa, perpustakaan siswa dan sarana pengembangan ‘Life Skill’.

Kalau kita perhatikan, kejayaan Islam pada masa Rasulullah saw. adalah terletak pada perpaduan berbagai kekuatan tersebut di atas. Misalnya, ekonomi umat Islam, yang diajarkan oleh Rasulullah saw., dengan seperangkat norma-norma yang harus diperhatikan, agar ekonomi tersebut membangun kehidupan yang baik. Mampu menggeser kezhaliman ekonomi, yang sudah mengakar dan dibangun oleh masyarakat Yahudi selama ratusan tahun.

Begitupula, hegemoni Yahudi, yang sudah menjadi mitos orang-orang Madinah, seolah-olah bangsa Yahudi adalah bangsa yang tak terkalahkan. Bahkan mereka sendiri mengakui dirinya sebagai bangsa pilihan tuhan, sehingga melahirkan kepongahan dan kezhaliman. Ternyata dapat disingkirkan oleh keberanian menegakkan kebaikan di jalan Allah, hanya dalam waktu hitungan tahun. Sehingga masyarakat Madinah dapat dibersihkan dari berbagai arogansi yang sangat keji.

Ketika anak sudah beranjak dewasa, Tarbiyah Imaniyah ini, bukanlah sekedar pembiasaan, seperti halnya pada masa kanak-kanak, akan tetapi diharapkan sudah memiliki wawasan yang utuh dan terpadu, tidak terkeping-keping, antara Tarbiyah Ruhiyah (Jiwa), Aqliyah (Akal), Jasadiyah (Fisik), bahkan sampai Iqtishadiyah (Ekonomi) dan Faniyah (Seni dan Budaya). Dengan bekal keutuhan tarbiyah yang dimilikinya, diharapkan mampu mengembangkan pola Tarbiyah Imaniyah ini, sesuai dengan tuntutan jamannya dan persoalan-persoalan yang dihadapinya. Sehingga perjuangan untuk memakmurkan masjid, melestarikan iman, membangun masyarakat madani dan melahirkan generasi-generasi yang lebih baik yang terus berkesinambungan. Dengan bekal itu, mereka belajar dalam berjama'ah, berkontribusi dalam berbagai kegiatan jama'i, merumuskan dan mengelola berbagai solusi untuk menyelesaikan masalah-masalah umat, sehingga tertanam kemampuan keorganisasian dan kepemimpinan mereka.

Persoalan kita pada saat ini, seringkali diakibatkan oleh putusnya mata rantai generasi masa kini dengan generasi sebelumnya. Bahkan seringkali mengalami degradasi kemunduran yang sangat mencolok, yang cukup jauh dari generasi sebelumnya, yang disebabkan oleh beberapa hal. Di antaranya, kekeliruan dalam memahami apa itu iman dan bagaimana caranya mendidik dan menumbuhkan keimanan. Seringkali dipahami, bahwa iman itu merupakan sesuatu yang memiliki koefisien tetap tanpa kemajuan dan kemunduran. Kadang dipahami bahwa iman, hanya sekedar “percaya” saja. Sementara cara menumbuhkan keimanan pun dipahami sebagai sesuatu yang tidak boleh dikembangkan, karena merupakan doktrin yang harus dipertahankan.

Padahal kalau kita memperhatikan Rasulullah saw. dalam membina para sahabatnya sarat dengan berbagai pengembangan dan perubahan, disesuaikan dengan perkembangan dan perubahan situasi dan kondisi para sahabat itu sendiri. Umpamanya, pendekatan dakwah Rasulullah di Makkah dengan di Madinah sangat jauh berbeda.

Begitu pun di masa Abu Bakar, ketika terjadi perang Shiffin banyak para sahabat penghapal Al Qur'an gugur, sehingga Umar merasa khawatir Al Qur'an hilang, jika para penghapal Al Qur'an terus berguguran. Beliau meminta, agar Al Qur'an dibukukan dalam sebuah Mushaf dari awal sampai akhir. Saat itu Abu Bakar menolak, karena hal ini tidak pernah dilakukan oleh Rasul. Namun dengan memperhatikan berbagai hal yang berkaitan dengan kondisi masyarakatnya, akhirnya beliau luluh juga menerima hal tersebut.

Begitupula pada masa Utsman bin Affan, Al Qur'an yang ditulis oleh para sahabat, sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing. Karena ada beberapa perbedaan, yang mengakibatkan kesalah pahaman dan menjurus kepada perpecahan. Maka Utsman meminta agar Al Qur'an yang disebarkan keseluruh dunia adalah hanya yang cara penulisan susunannya seperti pada masa Utsman (Mushaf Utsmani).

Orang yang memakmurkan masjid hanyalah orang beriman, yang senantiasa memberikan perhatian khusus kepada masalahkeimanan, agar tetap terjaga dari gangguan luar, serta semakin mudah dicerna . diaplikasikan dalam kehidupan.
B E R S A M B U N G . . .

Tidak ada komentar: