“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. At Taubah: 18)
Dalam memakmurkan masjid, umat Islam dituntut memiliki wawasan yang baik dan luas. Sejajar dengan wawasan umat Islam itu pula, masjid akan memberikan efek positif terhadap masyarakat banyak. Pada edisi lalu telah dibahas, mengenai memakmurkan masjid berkenaan dengan fisiknya sebagai sarana pembinaan umat.
Adapun yang kedua adalah memakmurkan masjid dengan cara memberdayakannya melalui berbagai aktivitas kemasjidan.
Berkenaan dengan aktivitas memakmurkan masjid yang kedua ini, hendaklah pelakunya adalah muslim yang mencintai kesucian lahir batin, seperti yang difirmankan oleh Allah swt. dalam QS. At Taubah ayat 108:
“Janganlah kamu shalat dalam masjid (orang-orang munafik) itu selama-lamanya. Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar taqwa (masjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu shalat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih.”
Ayat ini menggambarkan dua sosok masjid yang sangat kontras. Satu masjid dibangun oleh orang-orang munafik, dan yang satunya lagi dibangun oleh orang-orang muslim yang baik. Kemudian Rasulullah saw. diperingatkan agar tidak shalat di masjidnya orang-orang munafik. Beliau sekaligus diperintah, agar shalat di masjidnya orang-orang muslim yang baik, yang dibangun atas dasar ketaqwaan kepada Allah swt. Dan orang-orang taqwa tersebut memiliki sifat utama, yang ditonjolkan pada ayat ini, adalah; mereka suka bersuci. Dan Allah pun mencintai orang-orang yang suka bersuci.
Dalam ajaran Islam, ada dua bentuk kesucian; yaitu lahir dan bathin. Untuk mensucikan lahir adalah dengan cara mencucinya sampai bersih dari najis. Adapun yang bathin, dengan cara wudhu' dari hadats kecil dan mandi dari hadats besar.
Berkenaan dengan ayat ini, Rasulullah sempat bertanya kepada penduduk ahli Quba, yang senantiasa memakmurkan masjid: “Apa saja yang kalian suka kerjakan, sampai-sampai Allah memuliakan kalian dalam firmanNya, bahwa di masjid Quba ada orang-orang yang suka bersuci. Sehingga mereka dicintai Allah.” Para sahabat menjawab: “Kami suka bersuci sehabis buang air besar ataupun buang air kecil dengan air, sekalipun kami sudah melakukan istinja dengan benda yang lain.” Rasul bersabda: “Kalian benar! teruskan!”
Sementara itu, ada ulama yang memahami ayat ini, bahwa yang dimaksud dengan kesucian adalah bersuci dari dosa dan nifaq (sifat munafik). Hal ini dapat dipahami dengan mudah, karena orang yang bisa bersuci dari hadats dan najis dengan bersungguh-sungguh hanyalah orang yang senantiasa berusaha membersihkan jiwa.
Adapun orang yang tidak beriman, tidak pernah bersuci dari hadats dan najis dengan baik. Sehingga apabila orang-orang seperti ini memakmurkan masjid, tidak akan memberikan dampak positif kepada masyarakat. Bahkan tidak mustahil malah melahirkan dampak negatif.
Seperti halnya; Masjidil Haram, sebelum dimakmurkan oleh orang-orang beriman dan dimakmurkan oleh orang-orang musyrikin, dalam masjid tersebut penuh sesak dengan berhala; sembahan mereka. Sedangkan orang-orangnya, apabila berthawaf mengelilingi Ka'bah senantiasa dengan telanjang, atau hanya menutup dua pintu kemaluannya saja, seperti halnya orang-orang primitif yang sering kita temukan pada saat ini. Oleh karena itu, Allah berfirman di dalam Al Qur'an; QS. At Taubah ayat 17:
“Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan masjid-masjid Allah sedang mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, dan mereka kekal didalam neraka.”
Berbicara tentang kesucian lahir dan bathin, apabila diperhatikan dengan sungguh-sungguh, dapat dirasakan, bahwa ajaran Islam merupakan kekuatan, yang akan melahirkan kehidupan bermakna di dunia ini. Bahkan melahirkan komunitas muslim yang dihormati oleh kelompok lainnya di muka bumi.
Di samping harus berupaya untuk senantiasa suci, umat Islam dianjurkan untuk tampil sebaik-baiknya, ketika hendak pergi ke masjid, atau akan mendirikan shalat. Sebagaimana firman Allah swt. di dalam QS. Al A'raf ayat 31: “Hai anak Adam, pakailah perhiasanmu (pakaianmu) yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.”
Yang dimaksud perhiasan (pakaian) dalam ayat ini, bukanlah perhiasan seperti halnya untuk para wanita, yang terdiri dari; gelang, kalung dan lain-lain, akan tetapi pakaian yang bagus, rapih dan besih serta harum, di samping suci dari najis.
Umat Islam yang memahami ajaran agamanya dengan baik, akan memposisikan masjid sebagai tempat yang istimewa. Lebih istimewa dari tempat manapun, bahkan sebuah undangan pernikahan sekalipun, di mana kita mengkhususkan dan berpayah-payah berpakaian formal dan indah. Maka dengan pakaian yang istimewa, seorang muslim akan menghadap kepada Rabbnya, bermunajat, dan berdo'a kepadaNya.
Ada seorang pujangga muslimah India; Saroyini Naydu, mengakui keagungan Islam, dan ia pernah berkata, bahwa kedatangan Islam ke benua India lah yang mengajarkan kepada kami berpakaian rapih dan bagus, berbeda dari sebelumnya yang lebih terbelakang. Hal ini membuktikan bahwa dengan mengamalkan Islam secara benar, melahirkan bentuk keindahan
Begitu pula ketika Islam memasuki wilayah benua Afrika. Terjadi persaingan pengaruh terhadap Kristen. Banyak pendeta yang mengeluh, karena terhambatnya oleh perkembangan kebudayaan Islam di sana. Sedangkan yang sangat menarik adalah, ternyata yang menyambut ajaran Islam justru dari kalangan para pengusaha, karena dengan pesatnya ajaran Islam, pabrik tekstil menjadi sangat maju. Terutama masyarakat kapitalis yang berada di Eropa. Mereka berkata: “Dengan pesatnya kemajuan ajaran Islam, maka pemakaian kain lebih maju, dan lebih memberikan keuntungan kepada pabrik-pabrik di Eropa.”
Umat Islam tak boleh salah paham, berkenaan dengan perhiasan. Karena fungsi pakaian dalam Islam ada tiga hal. Pertama; sebagai penutup aurat, yang kedua; sebagai perhiasan, dan yang ketiga; sebagai sarana untuk membangun ketaqwaan dan pertahanan dari gangguan luar. Seperti yang difirmankan Allah swt. dalam QS. Al A'raf ayat 26:
”Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.”
Ketiga fungsi pakaian ini harus bertemu; Tidak seperti halnya; berpakaian bagus, namun tidak disertai taqwa kepada Allah swt., sehingga menimbulkan dosa dan mengganggu keharmonisan dengan sesama. Atau pakaian tersebut tidak layak sebagai pelindung fisik dari gangguan, sehingga tak nyaman untuk dipakai. Namun hendaklah pakaian itu bersih, rapih, sopan, nyaman dan mengantarkan kepada kekhusyu'an serta ketaqwaan. Maka dengan cara demikian, seorang muslim sebagai manusia yang memiliki fitrah sosial, tampil simpatik dan menarik di tengah-tengah masyarakat, dan sebagai hamba Allah, ia senantiasa diridhai dan dirahmatiNya.
Pada saat ini, dalam kehidupan beragama di negeri ini, mengalami kemajuan yang cukup bagus. Persoalan-persoalan sosial mulai diperhatikan. Bahkan menjadi bahan kajian utama, sekaligus dihubungkan dengan persoalan-persoalan ibadah kepada Allah swt. Umpamanya masalah rokok; kita dapat menyaksikan dengan mata telanjang, setiap kali ada iklan, disertai dengan catatan, bahwa:
“Rokok dapat menggangu kesehatan dan menyebabkan serangan jantung dan gangguan janin pada ibu hamil.”
Ini merupakan iklan yang sangat jujur, karena disampaikan oleh pengusaha rokok sendiri. Bahkan dijelaskan oleh para ahli, berbagai kasus kematian akibat rokok. Dan tidak ketinggalan, MUI memfatwakan bahwa rokok haram, terutama menghisap rokok di tempat-tempat umum. Karena dapat mengganggu kenyamanan dan kesehatan masyarakat.
Salah satu tempat yang sangat dimuliakan umat Islam adalah masjid, Rasulullah Saw pun pernah melarang seseorang masuk masjid setelah makan bawang, karena dapat menggangu kenyamanan jamaah. Sehingga wajar sekali, kalau pada saat ini masjid sudah bebas rokok.
Umat Islam dilarang berlebih-lebihan, termasuk dalam berpakaian. Bahkan dalam beribadah pun Rasulullah pernah mengingatkan kepada tiga kelompok, yang merasa hebat, karena amal-amal yang dilakukannya. Di antara mereka ada yang shalat tanpa tidur, ada yang shaum tapi tidak pernah berbuka, dan ada yang beribadah sampai lupa nikah. Rasul bersabda kepada mereka: “Saya adalah orang yang paling taqwa dan yang paling takut kepada Allah swt. Namun saya shalat dan saya juga tidur, saya shaum dan saya juga berbuka, dan saya menikah dengan beberapa wanita.”
Keterangan ini adalah gambaran seorang muslim, yang mengamalkan Islam secara baik, yaitu membangun kehidupan yang seimbang, sebagai pribadi yang senantiasaa beribadah kepada Allah swt, sekaligus dapat memenuhi hak dan kewajiban pribadinya sebagai individu, anggota keluarga, sekaligus anggota masyarakat.
Untuk itu, agar kita menjadi pemakmur masjid yang diridhai Allah dan dirahmatiNya hendaklah mengisinya dengan jiwa yang bersih, suci lahir serta batin dan tampil rapih, sopan, harum serta simpatik, kemudian beraktivitas dengan amalan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah dan yang bermanfaat bagi masyarakat.
B e r s a m b u n g ...
Adapun yang kedua adalah memakmurkan masjid dengan cara memberdayakannya melalui berbagai aktivitas kemasjidan.
Berkenaan dengan aktivitas memakmurkan masjid yang kedua ini, hendaklah pelakunya adalah muslim yang mencintai kesucian lahir batin, seperti yang difirmankan oleh Allah swt. dalam QS. At Taubah ayat 108:
“Janganlah kamu shalat dalam masjid (orang-orang munafik) itu selama-lamanya. Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar taqwa (masjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu shalat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih.”
Ayat ini menggambarkan dua sosok masjid yang sangat kontras. Satu masjid dibangun oleh orang-orang munafik, dan yang satunya lagi dibangun oleh orang-orang muslim yang baik. Kemudian Rasulullah saw. diperingatkan agar tidak shalat di masjidnya orang-orang munafik. Beliau sekaligus diperintah, agar shalat di masjidnya orang-orang muslim yang baik, yang dibangun atas dasar ketaqwaan kepada Allah swt. Dan orang-orang taqwa tersebut memiliki sifat utama, yang ditonjolkan pada ayat ini, adalah; mereka suka bersuci. Dan Allah pun mencintai orang-orang yang suka bersuci.
Dalam ajaran Islam, ada dua bentuk kesucian; yaitu lahir dan bathin. Untuk mensucikan lahir adalah dengan cara mencucinya sampai bersih dari najis. Adapun yang bathin, dengan cara wudhu' dari hadats kecil dan mandi dari hadats besar.
Berkenaan dengan ayat ini, Rasulullah sempat bertanya kepada penduduk ahli Quba, yang senantiasa memakmurkan masjid: “Apa saja yang kalian suka kerjakan, sampai-sampai Allah memuliakan kalian dalam firmanNya, bahwa di masjid Quba ada orang-orang yang suka bersuci. Sehingga mereka dicintai Allah.” Para sahabat menjawab: “Kami suka bersuci sehabis buang air besar ataupun buang air kecil dengan air, sekalipun kami sudah melakukan istinja dengan benda yang lain.” Rasul bersabda: “Kalian benar! teruskan!”
Sementara itu, ada ulama yang memahami ayat ini, bahwa yang dimaksud dengan kesucian adalah bersuci dari dosa dan nifaq (sifat munafik). Hal ini dapat dipahami dengan mudah, karena orang yang bisa bersuci dari hadats dan najis dengan bersungguh-sungguh hanyalah orang yang senantiasa berusaha membersihkan jiwa.
Adapun orang yang tidak beriman, tidak pernah bersuci dari hadats dan najis dengan baik. Sehingga apabila orang-orang seperti ini memakmurkan masjid, tidak akan memberikan dampak positif kepada masyarakat. Bahkan tidak mustahil malah melahirkan dampak negatif.
Seperti halnya; Masjidil Haram, sebelum dimakmurkan oleh orang-orang beriman dan dimakmurkan oleh orang-orang musyrikin, dalam masjid tersebut penuh sesak dengan berhala; sembahan mereka. Sedangkan orang-orangnya, apabila berthawaf mengelilingi Ka'bah senantiasa dengan telanjang, atau hanya menutup dua pintu kemaluannya saja, seperti halnya orang-orang primitif yang sering kita temukan pada saat ini. Oleh karena itu, Allah berfirman di dalam Al Qur'an; QS. At Taubah ayat 17:
“Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan masjid-masjid Allah sedang mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, dan mereka kekal didalam neraka.”
Berbicara tentang kesucian lahir dan bathin, apabila diperhatikan dengan sungguh-sungguh, dapat dirasakan, bahwa ajaran Islam merupakan kekuatan, yang akan melahirkan kehidupan bermakna di dunia ini. Bahkan melahirkan komunitas muslim yang dihormati oleh kelompok lainnya di muka bumi.
Di samping harus berupaya untuk senantiasa suci, umat Islam dianjurkan untuk tampil sebaik-baiknya, ketika hendak pergi ke masjid, atau akan mendirikan shalat. Sebagaimana firman Allah swt. di dalam QS. Al A'raf ayat 31: “Hai anak Adam, pakailah perhiasanmu (pakaianmu) yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.”
Yang dimaksud perhiasan (pakaian) dalam ayat ini, bukanlah perhiasan seperti halnya untuk para wanita, yang terdiri dari; gelang, kalung dan lain-lain, akan tetapi pakaian yang bagus, rapih dan besih serta harum, di samping suci dari najis.
Umat Islam yang memahami ajaran agamanya dengan baik, akan memposisikan masjid sebagai tempat yang istimewa. Lebih istimewa dari tempat manapun, bahkan sebuah undangan pernikahan sekalipun, di mana kita mengkhususkan dan berpayah-payah berpakaian formal dan indah. Maka dengan pakaian yang istimewa, seorang muslim akan menghadap kepada Rabbnya, bermunajat, dan berdo'a kepadaNya.
Ada seorang pujangga muslimah India; Saroyini Naydu, mengakui keagungan Islam, dan ia pernah berkata, bahwa kedatangan Islam ke benua India lah yang mengajarkan kepada kami berpakaian rapih dan bagus, berbeda dari sebelumnya yang lebih terbelakang. Hal ini membuktikan bahwa dengan mengamalkan Islam secara benar, melahirkan bentuk keindahan
Begitu pula ketika Islam memasuki wilayah benua Afrika. Terjadi persaingan pengaruh terhadap Kristen. Banyak pendeta yang mengeluh, karena terhambatnya oleh perkembangan kebudayaan Islam di sana. Sedangkan yang sangat menarik adalah, ternyata yang menyambut ajaran Islam justru dari kalangan para pengusaha, karena dengan pesatnya ajaran Islam, pabrik tekstil menjadi sangat maju. Terutama masyarakat kapitalis yang berada di Eropa. Mereka berkata: “Dengan pesatnya kemajuan ajaran Islam, maka pemakaian kain lebih maju, dan lebih memberikan keuntungan kepada pabrik-pabrik di Eropa.”
Umat Islam tak boleh salah paham, berkenaan dengan perhiasan. Karena fungsi pakaian dalam Islam ada tiga hal. Pertama; sebagai penutup aurat, yang kedua; sebagai perhiasan, dan yang ketiga; sebagai sarana untuk membangun ketaqwaan dan pertahanan dari gangguan luar. Seperti yang difirmankan Allah swt. dalam QS. Al A'raf ayat 26:
”Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.”
Ketiga fungsi pakaian ini harus bertemu; Tidak seperti halnya; berpakaian bagus, namun tidak disertai taqwa kepada Allah swt., sehingga menimbulkan dosa dan mengganggu keharmonisan dengan sesama. Atau pakaian tersebut tidak layak sebagai pelindung fisik dari gangguan, sehingga tak nyaman untuk dipakai. Namun hendaklah pakaian itu bersih, rapih, sopan, nyaman dan mengantarkan kepada kekhusyu'an serta ketaqwaan. Maka dengan cara demikian, seorang muslim sebagai manusia yang memiliki fitrah sosial, tampil simpatik dan menarik di tengah-tengah masyarakat, dan sebagai hamba Allah, ia senantiasa diridhai dan dirahmatiNya.
Pada saat ini, dalam kehidupan beragama di negeri ini, mengalami kemajuan yang cukup bagus. Persoalan-persoalan sosial mulai diperhatikan. Bahkan menjadi bahan kajian utama, sekaligus dihubungkan dengan persoalan-persoalan ibadah kepada Allah swt. Umpamanya masalah rokok; kita dapat menyaksikan dengan mata telanjang, setiap kali ada iklan, disertai dengan catatan, bahwa:
“Rokok dapat menggangu kesehatan dan menyebabkan serangan jantung dan gangguan janin pada ibu hamil.”
Ini merupakan iklan yang sangat jujur, karena disampaikan oleh pengusaha rokok sendiri. Bahkan dijelaskan oleh para ahli, berbagai kasus kematian akibat rokok. Dan tidak ketinggalan, MUI memfatwakan bahwa rokok haram, terutama menghisap rokok di tempat-tempat umum. Karena dapat mengganggu kenyamanan dan kesehatan masyarakat.
Salah satu tempat yang sangat dimuliakan umat Islam adalah masjid, Rasulullah Saw pun pernah melarang seseorang masuk masjid setelah makan bawang, karena dapat menggangu kenyamanan jamaah. Sehingga wajar sekali, kalau pada saat ini masjid sudah bebas rokok.
Umat Islam dilarang berlebih-lebihan, termasuk dalam berpakaian. Bahkan dalam beribadah pun Rasulullah pernah mengingatkan kepada tiga kelompok, yang merasa hebat, karena amal-amal yang dilakukannya. Di antara mereka ada yang shalat tanpa tidur, ada yang shaum tapi tidak pernah berbuka, dan ada yang beribadah sampai lupa nikah. Rasul bersabda kepada mereka: “Saya adalah orang yang paling taqwa dan yang paling takut kepada Allah swt. Namun saya shalat dan saya juga tidur, saya shaum dan saya juga berbuka, dan saya menikah dengan beberapa wanita.”
Keterangan ini adalah gambaran seorang muslim, yang mengamalkan Islam secara baik, yaitu membangun kehidupan yang seimbang, sebagai pribadi yang senantiasaa beribadah kepada Allah swt, sekaligus dapat memenuhi hak dan kewajiban pribadinya sebagai individu, anggota keluarga, sekaligus anggota masyarakat.
Untuk itu, agar kita menjadi pemakmur masjid yang diridhai Allah dan dirahmatiNya hendaklah mengisinya dengan jiwa yang bersih, suci lahir serta batin dan tampil rapih, sopan, harum serta simpatik, kemudian beraktivitas dengan amalan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah dan yang bermanfaat bagi masyarakat.
B e r s a m b u n g ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar