Minggu, 04 Oktober 2009

Renungan Ramadhan 1430 H (Bag. 3)


“ (Beberapa hari yang di tentukan itu ialah) bulan ramadhan, bulan yang di dalamnya di turunkan (permulaan) Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). karena itu, barangsiapa diantara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajib baginya berpuasa),sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur” (QS Al Baqarah : 185)

Tahapan berikutnya, ibadah saum yang diwajibkan kepada umat beriman, dalam waktu “beberapa hari yang ditentukan”, seperti yang tercantum pada Q.S. Al-Baqarah 184 adalah bulan suci ramadhan. Kemudian saum pada tanggal 10, 20, dan 30 setiap bulan dihapuskan.

Barang siapa yang sehat walafi’at dan berada ditempat tiggalnya (tidak musafir) ketika bulan Ramadhan datang, maka wajib atasnya saum. Kecuali orang yang sakit dan tidak mungkin dapat diharapkan kesembuhannya, maka wajib atasnya membayar Fidyah, setiap satu hari satu Mud makanan untuk fakir miskin.

Pada zaman Rasulullah Saw, untuk mengetahui masuknya bulan suci Ramadhan adalah dengan metoda yang sangat sederhana, yaitu pergi ketempat luas, disore hari, memperhatikan ada dan tidak adanya bulan sabit (Ru’yah Hilal), dengan mata telanjang tanpa alat.

Apabila pada tanggal 29 Syaban, hilal tidak tampak maka bulan Syaban di genapkan menjadi 30 hari, begitupula bulan ramadhan. kalau bulan tidak tampak pada tanggal 29 maka bulan ramadhan digenapkan menjadi 30 hari.

Sedangkan pada saat ini, ilmu pengetahuan dan tekhnologi sudah sedemikian canggih, sehingga membuat kehidupan semakin mudah, termasuk dalam beragama. Seperti halnya mengetahui peredaran waktu yang sangat menentukan sah atau tidaknya pelaksanaan ibadah, seperti salat, saum, haji dsb.

Pada saat ini, untuk mengetahui datangnya hilal atau belum, dapat dilakukan dengan cara hisab atau ilmu palak. Menurut Syeh Yusup Qordowi; Kemungkinan salahnya ilmu hisab pada saat ini sangat kecil sekali. Sedangkan untuk melihat bulan pun banyak alat yang bisa dipergunakan, sehingga kemungkinan tidak terlihatnya bulan sangat kecil.

Namun demikian, yang menjadi persoalan pada saat ini adalah; belum adanya kebersamaan dalam melaksanakan ibadah tersebut. Umpamanya mengawali saum Ramadhan dan menentukan Idul Fitri tidak sama. Hal ini sering kali berdampak negatif pada masyarakat awam, bahkan sampai ada yang putus silatu rahim dan bertengkar akibat perbedaan Idul Fitri.

Alangkah indahnya, jika ilmu dan tekhnologi tersebut bukan hanya mempermudah praktek pekaksanaan ibadah saja, akan tetapi juga dapat mempermudah silaturahim, mencerdaskan umat dalam memahami hakekat masalah yang berkenaan dengan Ijtihad, sehingga bisa menerima perbedaan yang tidak prinsif dengan lapang dada. Bahkan berusaha untuk menciptakan kebersamaan dalam persoalan yang besar dan tidak terjebak dengan membesar-besarkan masalah kecil.

Silaturahim adalah persoalan besar yang harus menjadi cita-cita perjuangan setiap muslim. Sedangkan masalah ijtihad dalam persoalan yang diserahkan kepada umat; seperti halnya menyimpulkan awal dan akhir Ramadhan. Hal itu, apabila terjadi perbedaan, maka yang salah mendapatkan satu pahala, sedangkan yang benar mendapatkan dua pahala. Dua-duanya tidak ada yang masuk neraka.

Hal lain yang menarik untuk direnungkan adalah bahwa pada bulan ramadhan terjadi berbagai peristiwa luar biasa, diantaranya dan yang paling penting adalah Lailatul qodar (malam kemuliaan). Menurut kebanyakan para ulama, pada malam kemuliaan itulah Allah SWT menurunkan Al-Quran dari Baital 'Izzah kelangit dunia.

Kemudian dari langit dunia turun ke bumi berangsur-angsur selama 23 tahun, sedangkan ayat Al-quran yang pertama diturunkan adalah Surat Al-Alaq dari 1-5 pada tanggal 17 Ramadhan. Sehingga pada bulan ramadhan inilah terjadinya awal perubahan kemanusiaan dari masa kegelapan jahiliyah menuju cahaya islam yang terang benderang.

Jazirah arab, tidak pernah dikenal dalam percaturan dunia sebelum Al-Quran diturunkan, disebabkan oleh beberpa faktor diantaranya; daerah itu termasuk miskin sumber daya alamnya, sementara sumber kekayaan minyak belum ditemukan. Sehingga negara adidaya Parsi ataupun Romawi tidak tertarik untuk menjadikan wilayah itu sebagai jajahannya.

Namun demikian, negara Arab termasuk wilayah yang memiliki budaya nenek moyang turun temurun, yang belum terkontaminasi oleh budaya asing, sekalipun mengalami berbagai penyimpangan, terutama dibidang ketuhanan dan kemanusiaan; mereka menyembah berhala, melakukan bisnis rentenir, perbudakan, bahkan diantaranya ada beberapa kabilah yang tidak rela memiliki anak wanita lalu membunuhnya.

Berbagai penyakit kemanusiaan melanda masyarakat dunia pada saat itu. Terutama di negara Parsi dan Romawi yang menjadi negara adidaya dan menjajah berbagai belahan dunia. Dua negara tersebut sangat ditakuti dan selalu terlibat persaingan politik dan ekonomi sementara negara jajahannya menjadi korban.

Ditengah-tengah hiruk pikuk berbagai penyimpangan dan kekacauan seperti itulah, Allah Swt menurunkan kasih sayangnya, mengutus seorang rasul yang bernama Muhammad SAW di Makkah Al-mukaramah, diturunkan kepadanya wahyu berupa Al-quranul karim yang dibawa oleh Jibril Alaihi salam, di awali dengan firmanNya;
“bacalah!... dengan nama tuhanmu…”
(QS. Al-Alaq 1-5).

Banyak oreintalis yang mempertanyakan kerbenaran kisah Jibril Alaihi salam, ketika menyampaikan wahyu pertama kepada Rasulullah SAW. Karena Muhammad ketika menerima wahyu pertama “bacalah” beliau menjawab “saya tidak bisa membaca”. Berulang kali Jibril menyampaikan “bacalah” berulang kali pula Muhammad menjawab “saya tidak bisa membaca”.

Menurut mereka, ini adalah Mis komunikasi; Tuhan menyuruh membaca, rasul malah menjawab saya tidak bisa membaca. Apakah Muhammad tidak tahu bahwa perintah ini datangnya dari Tuhan. Atau Tuhan tidak tau bahwa Muhammad tidak bisa membaca. Hal ini sangat aneh menurut mereka.

Bagi umat islam, peristiwa tersebut merupakan hal yang wajar, bahkan mesti terjadi. Sebab Allah Swt adalah Tuhan yang Mahamutlak kekusaannya, Maha mengetahui dan Maha segalanya, sehingga bahasa Allah adalah bahasa kekuasaan yang mutlak. Sedangkan Rasulullah Saw adalah mahluk Allah, yang diciptakan sebagai manusia, kemudian diangkat menjadi rasul. Bahasa beliaupun adalah bahasa kemanusiaan yang serba terbatas. Karena beliau tidak pernah belajar membaca maka jawaban yang paling wajar adalah saya tidak bisa membaca.

Dengan demikian, sejak awal Allah Swt telah mencurahkan kasih sayangnya, memperlihatkan perbedaan yang sangat jauh antara Dzat-Nya sebagai Tuhan dengan Muhammad Rasulullah sebagai hambanya. Sehingga sampai kapanpun tidak akan ada seorang muslim yang bingung; Apakah Muhammad tuhan atau rasul. Apakah Allah itu menjelma menjadi Muhammad atau tidak.

Oleh karena itu, landasan hidup seorang muslimpun sangat jelas dan tegas; Dengan dua kalimat ”Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah”.

Dengan landasan inilah, umat Islam mengawali kebangkitannya, membenahi hati nurani dan akal pikirannya, merapihkan segala aktivitas amalnya. dengan hanya berpedoman kepada aturan Allah dan kehidupan yang dicontohkan oleh Muhammad Rasulullah SAW. Kemudian mereka bergabung bersama orang-orang yang mencintai Allah dan Rasulnya, mengemban misi; menegakan rahmat Allah dimuka bumi.

Adapun Fungsi Al-Qur’an adalah petunjuk jalan untuk mencapai tujuan; kebahagian dunia dan akhirat, dengan cara yang paling mudah, tidak berliku-liku dan tidak tersesat. Hal ini bukan sekedar basa-basi, akan tetapi sudah terbukti sejak 14 abad lewat, bahwa setiap hamba Allah yang berpegang teguh pada Al-quran senantiasa mendapatkan kehidupan yang baik serta memberikan sumbangsih kebaikan bagi lingkungannya.

Fungsi berikutnya adalah sebagai penjelasan-penjelasan dari petunjuk tersebut. Artinya bahwa petunjuk Allah SWT di turunkan sejak nabi Adam AS sampai Rasulullah Muhammad Saw. Al-Quran menjelaskan petunjuk-petunjuk itu. Kisah-kisah perjuangan para nabi diungkap dalam Al-Quran untuk menjadi pelajaran bagi umat beriman pada saat ini.

Di samping itu, Al-Quran sendiri, ayat demi ayat nya saling menjelaskan, sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh tidak bisa dipisah-pisahkan. atau diambil sepotong-potong; Hanya diambil ayat-ayat hukum umpamanya, atau ayat-ayat perang, atau yang lainnya. Karena hal seperti itu akan membuat kontradiktif. Sebagaimana firman Allah Swt...
“...Apakah kalian kufur dengan sebahagian kitab Allah dan beriman dengan yang sebahagiannya ...” ( QS. 2 : 85)

Ayat ini mengkoreksi sikap yahudi yang kontradiktip, disebabkan mengambil kitab taurat sepotong-sepotong.
B e r s a m b u n g

Tidak ada komentar: